Rumah Tangga Tanpa Televisi

sulistiyoningtyas-televisionKetika Saudara-saudara, dan Orang Tua saya liburan di rumah kami, kalimat yang keluar setelah menanyakan kabar adalah : “Kok nggak ada TV sih? Emang nggak boring ya?”

Saya tertawa maklum, karena TV merupakan kotak ajaib yang wajib ada di ruang keluarga. Untuk sekedar menonton berita, atau menyetel DVD Tembang Kenangan dan Keroncong kesukaan Orang Tua saya -_-“.

Iya yah? Apa nggak boring di rumah nggak ada Tv? Ketika jaman masih ngekost, di kamar saya ada Tv. Demikian pula dengan kost-kost sebelumnya, hampir selalu ada Tv. Hingga ketika pindah ke Wisma Qaanitah, saya terpaksa banget sambil mewek mimbik-mimbik menjual Tv dengan harga murah ke temen kost sebelumnya, sebab di wisma tidak diperkenankan membawa Tv. Hmm, meski awalnya berat namun lama-lama terbiasa juga.

Jujur, sekian lama tidak menonton Tv membuat hidup saya lebih bahagia. Tidak bosan tuh, ya karena untuk sekedar memperoleh informasi terkini di media elektronik, saya bisa menemuinya melalui internet atau media cetak. Kelebihannya, saya bisa menskip berita sampah, dan menyaring berita-berita informatif lainnya.

Sebetulnya, membeli televisi adalah hal mudah yang In syaa ALLAH dapat kami lakukan. Sebab, mau semahal, sekeren, dan sebesar apapun televisinya itu tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah, tayangan-tayangan di televisi itu loh yang belakangan ini bikin orang tua dan para Istri sport Jantung. Memprihatinkan. Para orang tua cemas dengan banyaknya Sinetron Bocil-bocil sudah kenal cinta-cintaan. Para Istri dag dig dug serrr melihat Iklan-iklan di televisi yang menampilkan Mbak-mbak seksi. Ya gimana enggak, di lingkungan sekitar saja sudah banyak Mbak-mbak yang menggoda mata dengan pahanya yang murah meriah, dengan baju-baju mininya. Ditambah di televisi, hmm.. malah semakin membuat Istri kalah saing dan was-was Suaminya melirik yang bukan haknya, meski tidak sengaja. Bahaya kan, bisa mengotori hati dan pikiran??

Nah, maka dari itu tidak menyediakan televisi di rumah bagi kami adalah solusi. Dibanding positifnya, Tv lebih banyak mengandung negatifnya. Sempat terpikir oleh kami untuk membeli Tv, dan menggunakan Televisi Berlangganan, sehingga kami dapat memilih channel khusus TV Rodja, Insan TV, Channel TV, Hang TV, Yufid TV,Channel-channel dari Saudi Arabia, dsb. Namun, masih ditimbang-timbang, “Yakin, tidak tergoda untuk sesekali ngeklik TV Nasional? Yakin, enggak penasaran untuk sesekali menengok hiburan-hiburan semu di dalam kotak ajaib tersebut?” Ternyata jawabannya masih, “Tidak begitu yakin..”.

Saya juga tidak yakin, bisa bekerja tanpa sesekali mata meleng ke Tv. Suami juga tidak yakin, quality time bisa tetap terjaga ketika ada Tv. Khawatirnya, waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk bercengkerama, membicarakan banyak hal, melakukan aktifitas bersama menjadi beku karena duduk tak bergeming di depan Tv sambil sesekali menengok Smartphone.

Kekhawatiran yang berlebihan? Tidak juga. Tapi memang betul-betul khawatir. Kalo tayangan Tvnya masih serupa dengan ketika Joshua Suherman menyanyikan lagu, “Diobok-obok airnya diobok-obok..”, atau ketika Sinetron masih serupa dengan “Keluarga Cemara” atau “Si Doel Anak Sekolahan”, mungkin masih bisa dimaafkan. Karena di dalamnya masih terdapat unsur-unsur moral yang dapat diambil pelajaran bagi penontonnya. Masih mengedepankan norma-norma sopan santun dan kearifan budi pekerti.

Lha sekarang, anak-anak SD sudah menyanyikan lagu, “Kau Bidadari, turun dari Surga….” Atau Sinetron tidak mendidik lainnya yang isinya anak-anak SD sudah sarkastis, anak-anak SMP bejat, dan sejenisnya. Aduh, bagaimana ya?

Jadi intinya mah, mau ada TV atau tidak di dalam Rumah Tangga, sama saja. Nonton TV terus menerus yo bosen juga kan lama-lama? Malah seringnya, jadi banyak menghabiskan waktu berjam-jam di depan TV, membuang waktu percuma. Tidak ada TV, tenang-tenang saja tuh. Kami jadi meminimalisir pendengaran dari musik dan ghibah serta menjaga penglihatan dari melihat lawan jenis non mahram yang mengusik hati. Tau kan gayanya macam mana?

Keuntungan lain tidak ada TV di rumah, listrik lebih hemat, waktu bersama keluarga lebih berkualitas, tidak terpengaruh dengan apa yang disajikan TV. TV tidak haram loh Ibu-ibu. TV juga bisa sangat bermanfaat, jika kita menyaring apa yang akan ditonton. Banyak kok, TV-TV dakwah yang berkualitas. So, kembali ke masing-masing pihak. Mau ada Tv atau tidak, sama saja. 🙂

 _____

Yogyakarta, December 9, 2015 at 10.02 am

Mendung…

~ Tyas Ummu Hassfi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s