Ku Tunggu Kau di Dermaga…

sulistiyoningtyas-Dermaga

Bismillahirrahmanirrahim,

Pernikahan adalah anugerah dan nikmat yang sangat besar bagi umat Manusia. Hubungan cinta kasih sepasang Suami Isteri adalah salah satu tanda-tanda kebesaran ALLAH Ta’ala yang tertuang dalam firman-Nya :

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum: 21)

Cinta dan kasih sayang yang terjalin diantara sepasang Suami dan Isteri yang belum pernah saling mengenal sebelumnya adalah sebuah anugerah yang agung. ALLAH Ta’ala menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan yang suci, kemudian menumbuhkan kasih sayang dan perasaan saling mencintai di dalam hati mereka. Suami merasa tenteram ketika berada di samping Isteri, demikian pula Isteri akan merasa sangat berbahagia dan tenang apabila Suami berada di sisinya, kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun keadaan mereka, keduanya ingin selalu bersama.

Sungguh sebuah ikatan hati yang sangat erat, sampai-sampai Rasulullah Shallallahu a’laihi wa sallam mengatakan:

“Belum kami saksikan solusi bagi sepasang insan yang saling jatuh cinta selain menikah..” (HR. Ibnu Majah, Shahih)

Saudariku, untuk meraih ketenangan, kebahagiaan dan ketentraman dalam biduk rumah tangga tentu harus diperoleh melalui jalan yang disyari’atkan oleh ALLAH Ta’ala dan Rasul-Nya agar beroleh keberkahan di dalamnya. Tidak melalui pacaran yang jelas diharamkan dalam agama Islam. Engkau begitu berharga untuk disia-siakan waktunya dalam kegalauan karena cinta yang tidak pasti dan dikotori hatinya untuk sepercik hawa nafsu yang akan menggiring pada kemaksiatan kepada ALLAH Ta’ala. Karena, sesuatu yang diawali dengan keburukan tidak akan berjalan dan berakhir dengan kebaikan.

Lalu, bagaimana upaya kita agar dapat mengawali pernikahan dengan jalan yang diridhai ALLAH Ta’ala?

Memilih Suami yang Ideal

Seperti apakah Suami yang ideal itu? Apakah ia yang berpendidikan, tampan dan mapan? Syariat Islam mengajarkan umatnya untuk berhati-hati dalam memilih pasangan hidup. Pasalnya, berumah tangga itu bukanlah perkara sehari dua hari, namun untuk selamanya, sehidup semati bersama, In syaa ALLAH. Kriteria calon Suami yang ideal tidak melulu dilihat dari sisi duniawinya, lebih daripada itu yang wajib diprioritaskan adalah ia seorang Mukmin yang taat. Sebab, haram hukumnya seorang Muslimah menikah dengan seorang lelaki musyrik.

ALLAH Ta’ala berfirman:

“… dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka sedang ALLAH mengajak ke Surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan ALLAH menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah: 221).

Selanjutnya, ia seorang laki-laki yang berakhlaq baik dan kuat agamanya. Laki-laki yang bertaqwa dan berakhlaq baik akan memperlakukan isteri dan keluarganya dengan baik, sesuai dengan apa yang disyariatkan ALLAH.

Jika ia mencintai Isterinya maka dia akan memuliakannya, dan jika tidak menyukainya maka tidak akan menzhaliminya. Ia akan menjadi seorang Suami yang menjaga kehormatan keluarganya, dan berusaha menjamin kebutuhan dalam rumah tangganya. Atas izin ALLAH, ia akan menjadi seorang Pemimpin yang bertanggungjawab, dan Ayah yang penuh kasih sayang terhadap anak-anaknya.

Kemudian, ia berasal dari keturunan yang baik, sehat jasmani rohani, diutamakan bukan dari kerabat dekat dan sekufu.

Ta’aruf dan Nazhar

Umumnya, proses ta’aruf diawali dengan bertukar data diri melalui Wasilah (Perantara) untuk mengenal bagaimana agama dan akhlaq calon pasangan. Boleh berbincang mengenai hajat syar’i keduanya, tentunya dengan ditemani mahram dan tidak menjurus pada fitnah. Setelah informasi mengenai calon pasangan mencukupi dan merasa cocok atau memiliki kecenderungan, maka proses selanjutnya adalah nazhar.

Sebelum meminang, seorang laki-laki disyari’atkan melihat secara langsung rupa calon isterinya.

Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah radhyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam bersabda:

“Jika salah seorang dari kalian hendak melamar seorang wanita, maka ia tidak berdosa atasnya melihat kepada wanita itu, jika melihatnya itu hanya untuk meminangnya, sekalipun si wanita tersebut tidak menyadarinya..”

Khitbah (Melamar atau Meminang)

Khitbah atau melamar adalah tahapan proses selanjutnya apabila calon Suami sudah merasa klik, dan memiliki kecenderungan pada calon Isteri ketika nazhar. Pinangan dapat diajukan langsung kepada Ayah calon Isteri seperti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika meminang Ibunda Aisyah radhyallahu ‘anha kepada Ayahnya, Abu Bakar As Siddiq radhyallahu ‘anhu. Apabila pinang diterima maka proses selanjutnya adalah Akad Nikah.

Baiknya, jarak antara khitbah dengan akad nikah tidak terlalu lama. Mengapa? Karena tidak ada yang dapat menjamin keduanya selamat dari fitnah (godaan). Meski sudah dilamar, seorang wanita belumlah halal untuk berkomunikasi tanpa ada keterdesakan yang syar’i dengan calon Suaminya.

Menyembunyikan Khitbah, Mengabarkan Walimah

Fitrahnya seorang wanita banyak berbicara dan senang curhat ngalor ngidul dengan sahabat-sahabatnya. Hingga terkadang, setiap berkumpul selalu membahas proses ta’rufnya. Hal yang demikian, bukanlah sikap yang elok dilakukan. Cukup, ALLAH dan orang-orang yang bisa dipercaya sajalah yang mengetahui agar tidak menimbulkan hasad. Ketika walimah akan digelar, kabarkanlah sanak kerabat supaya banyak yang mendoakan keberkahan.

Tibalah Saatnya…

Tibalah saatnya engkau menjadi seorang Istri. Tangis haru dan bahagia membuncah, meluap tak terbendung ketika Mitsaqon Ghalidzan diikrarkan. Kini engkau bukan lagi gadis kecil milik Ayah dan Ibumu. Engkau telah menjadi Seorang Istri, dan Calon Ibu bagi anak-anak Suamimu kelak. Jangan berhenti menuntut ilmu syar’i. Jadilah seorang Istri yang senantiasa mentaati Suami dalam perkara kebaikan.

Kini, tanggungjawabmu bertambah. Namun, ALLAH janjikan berlipat pahala untukmu. Ingatlah selalu, bukan rumah tangga namanya jika tidak ada sandungan kerikil di dalamnya. Tidak ada percikan air di sampan yang didayung. Tak perlu takut salah memilih ia yang masih asing untukmu, karena ALLAH tidak pernah salah memberi jodoh untuk kita. Hanya terkadang, banyak orang menempuh cara yang salah untuk menghalalkan yang haram. Sehingga tidak mengherankan, Setan leluasa mencerai-beraikan mereka yang tak menyemai cinta dalam ketaatan kepada ALLAH Ta’ala. Wahai Calon Ayah dari anak-anakku, jika benar niatmu menikah karena ALLAH.. Awalilah niat sucimu dengan ta’aruf yang syar’i. Kutunggu kau di dermaga, mengarungi bahtera rumah tangga hingga ke Surga.

___

Yogyakarta, 26 Desember 2015

~ Tyas Ummu Hassfi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s