Mbak Kokom

tumblr_mmdexh7CcX1qa0oc2o1_500Tidak tahu nama lengkapnya siapa, namun kami sekeluarga memanggil beliau dengan sebutan Mbak Kokom. Beliau sekeluarga tinggal persis di belakang rumah kami. Rumahnya sangat sederhana, masih berlantai tanah, berdinding bilik bambu, dan nyaris doyong karena lapuk dimakan usia. Ia menikah pada tahun 1992, dan dikaruniai tiga orang anak perempuan. Yang tertua, katanya sudah menikah dan kini ikut suaminya bekerja di Amerika. Sedangkan yang terkecil sudah kelas dua SD seingat saya, namanya Febi.

Mbak Kokom masih terlihat sangat muda. Kulitnya kuning langsat, badan ramping, berambut panjang sepinggang, dan pembawaannya ceria. Usianya masih sekitar tiga puluhan akhir. Kami mengenalnya menjelang Idul Fitri tahun 2013, ketika pindahan rumah ke Gandrungmangu. Beliau membantu kami beres-beres rumah dan toko Ibuk. Hingga sejak saat itu, beliau resmi dinobatkan menjadi khadimat Ibuk di toko.

Setiap mudik ke rumah, saya selalu menyempatkan diri bertandang ke rumah Mbak Kokom. Membawakan masakan Ibuk untuk Febi, atau masak di rumah beliau. Karena masakan Mbak Kokom enak. Kami sudah seperti keluarga, dekat sekali. Sampai-sampai, kurang afdhol jika setiap mudik tidak menyempatkan diri mampir ke rumah Mbak Kokom, sekedar untuk mejahili Febi yang pemalas, tidak mau berangkat TPA, dan manja sekali.

“Feb.. Wis gede masa ora ngaji sih… huuu…” Goda saya pada Febi ketika sedang malas berangkat TPA, yang ditimpali rentetetan omelan panjang Mbak Kokom ke Febi. Saya tertawa puas Febi dimarahi Ibunya.

“Iya genah… Febi wis gede angel banget kon ngaji koh nek ora disangoni…”

Febi malu-malu, mau membela diri tapi sungkan pada saya. Ia hanya memukul-mukul Ibunya, ngambek.

Mbak Kokom bekerja sejak mulai pukul tujuh pagi hingga lima sore. Bukan masalah baginya, sebab, jarak rumahnya dan rumah kami hanya dibatasi oleh lahan jemuran kami. Sekitar lima meter. Jadi, sesekali ia bisa menengok rumah untuk masak, atau jika ada tamu. Bahkan kadang, beliau menyiangi sayuran di pintu dapur rumah kami, sambil membawa bumbu-bumbunya, lalu kembali ke dapurnya, srang sreng srang sreng, tidak lebih dari dua puluh menit masakan sudah siap dihidangkan.

Menjelang Isya, ia selalu mampir ke toko kami untuk membeli obat sakit kepala yang sudah menahun menderanya. Saya sampai khawatir dibuatnya, karena ia mengeluhkan jika tidak minum panadol, badannya sakit, kepala pusing sampai tidak bisa bangun.

Mbak Kokom sangat rajin, teman ngobrol yang asyik, periang, ramah, dan sangat baik. Namun sayang, ia tidak bertahan lama bekerja di toko Ibuk, katanya badannya jadi mudah lelah. Meski sesekali ia masih iseng bantu-bantu Ibuk di toko sembari ngbrol ngalor ngidul dengan Ibuk. Bertepaan dengan itu pula, kebetulan saya menjadi jarang mudik.

Ketika resepsi pernikahan, seorang wanita berjilbab hitam menghampiri saya di pelaminan.

“Mbak Tyas, arep maem apa? Soto? Bakso? Apa Siomay?” tanyanya sambil berbisik. Saya berkerut dan mengamati wajahnya. Oh ALLAH… Mbak Kokom mengenakan jilbab. Saya terkejut, pangling, dan senang bukan main. Saya memeluk Mbak Kokom dan mengatakan ingin Siomay dan Es Cendol.

Tidak lama kemudian, beliau datang lagi membawakan Siomay dan Es Cendol untuk saya dan Suami.

“Selamat ya Mbak Tyas, semoga jadi keluarga sing sakinah, mawadah wa rahmah…” katanya. Saya terharu.

“Maturnuwun ya Mbak Kokom?”

____

Siang itu, Ibu telepon, “Mbak… Yaa ALLAH, Mbak Kokom mriyang, nemen…”

“Innalillahi, kenapa Mah?”

“Gagal Ginjal. Sekarang lagi opname di rumah sakit Cilacap. Tapi nggak sanggup biayanya, ya ini mau dirawat di rumah saja. Oalaah.. Mbak Kokom siki jadi gering banget, wis ora bisa ngapa-ngapa, awake pada biru kabeh. Kawit wingi tak tiliki, ngomong njaluk ngapurane. Aduhh.. aku nelangsa banget, tak tangisi temenan lah. Ora nyangka mriyange dadi nemen banget kaya kiye…” Ibu berbicara sambil tersedak-sedak.

Bibir saya kelu. Semua memori dan senyuman terakhir Mbak Kokom masih terekam jelas dalam ingatan saya.

“Harusnya, cuci darah seminggu sekali. Alhamdulillaah, bisa juga. Berkat bantuan menantunya yang di Amerika.Tapi kan sing jenenge cuci darah mahal? Duite wis nipis, sing kudune jadwal kontrol karo cuci darah, malah ora kontrol-kontrol. Wis pasrah banget. Kawit wingi tokone tak tutup, tak tunggoni neng umahe. Aku sedih banget lah pokoke.. ” Lanjut Ibuk.

____

20 Desember 2015

“Innalillahi wa inna illayhi roo’jiun, Mbak Kom telah meninggal dunia…” pesan dari Ibuk, membuat saya terlonjak dari tempat tidur. Saya segera menyambar HP Suami yang masih full pulsa untuk membalas sms dari Ibuk. Mengucapkan belasungkawa untuk keluarganya.

Saya merasa sangat kehilangan ketika itu. Betapa, saya merasa sangat dekat dengan Mbak Kokom. Betapa ia mengajarkan saya banyak hal tentang sebuah kesederhanaan dan kesetiaan. Beliau selalu tampak berbahagia dengan keadaan ekonominya yang bisa dikatakan sangat kekurangan. Ia tidak mengeluhkan macam-macam pada suaminya. Tidak jarang, usai pulang kerja, ia jalan-jalan sore dengan Suaminya dan Febi naik sepeda motor butut di depan rumah kami, lalu berteriak-teriak, “Melu yuh meng pasar malem…”

Ah.. mereka tampak mesra, meski hidup dengan finansial yang menggiriskan. Dalam kesempitan seperti itu, Mbak Kokom tetap setia mendampingi suaminya. Jika malam sang suami tak pulang, Ibuk saya menggoda, “Hayuuh.. mbasanu mampir meng ne bojo enom…”

Mbak Kokom tertawa sambil bergurau, “Wooh.. awas bae nek wani…” tawa berderai di antara kami melihat ekspresinya ketika itu.

Ah.. kini itu semua hanya tinggal kenangan. Hingga kini, saya merasa Mbak Kokom masih hidup. Memeluk-meluk saya jika kami bertemu di rumah. Bersenda gurau membahas apa saja. Kini ia telah tiada. Membuat saya tersadar, bahwa sesungguhnya kematian begitu dekat. Sangat dekat. Sungguh pedih, ditinggal orang terdekat. Lebih sedih lagi, jika hingga kini kita belum berbekal. Sampai kapan? Iya, sampai kapan akan berleha-leha menunggu ajal menjemput di ujung senja?

Didedikasikan untuk Mbak Kokom –rahimmahallah-

Yogyakarta, 26 Desember 2015 at 10.10 pm

~ Tyas Ummu Hassfi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s