Kitab-kitab Bagi Penuntut Ilmu #1

10628567_970959396282473_4486454766164789570_n

Bagaimana Berinteraksi dengan Kitab?

Berinteraksi dengan kitab dapat terwujud dengan beberapa cara:

Mengenali materinya

Sehingga seseorang dapat meraih manfaat dari kitab itu, sebab ia membutuhkan spesialisasi (dalam mempelajari ilmu). Boleh jadi kitab tersebut adalah kitab sihir, sulap, atau kitab yang tidak benar. Aka merupakan suatu keharusan mengenal materi kitab sehingga teraih manfaatnya.

Mengetahui berbagai terminologi (istilah) yang digunakan

Hal ini biasanya ditemui pada bagian mukadimah (pendahuluan) kitab tersebut. Dengan mengenal istilah-istilah yang ada engkau akan menghemat banyak waktu. Para ulama menulis pada mukadimah kitab-kitab mereka misalnya, kita mengetahui penulis kitab Bulughul Maram menyatakan Mutafaqun ‘alaihi yang dimaksudkan adalah hadist riwayat Al-Bukhari dan Muslim. Beda halnya dengan penulis kitab Al-Muntaqa jika dinyatakan Mutafaqun a’laihi yang dimaksud adalah hadist riwayat Imam Ahmad, Al-Bukhari dan Muslim.

Demikian juga pada kitab-kitab Fiqih dibedakan antara istilah “Qaulain, Wajhain Riwayatain dan Ihtimalain” (Istilah) riwayat bersumber dari Imam Madzhab, istilah wajhain bersumber dari para pengikut imam-imam besar madzhab yang teranggap pendapatnya, istillah ihtimal digunakan untuk menyatakan kebimbangan antar dua ucapan, sedangkan istilah qaulain adalah istilah yang leebih umum dari istilah-istilah tersebut di atas.

Demikian pula, engkau perlu tahu –contohnya- bila seorang penyusun kitab menyatakan “Ijma’an” (kebulatan suara) atau “Wifaqan” (kesepakatan). Apabila ia menyatakan “Ijma’an” yang dimaksud adalah ijma’ seluruh umat, apabila mengatakan “Wifaqan” yang dimaksud adalah kesepakatan antara tiga imam sebagaimana ini adalah istilah yang dipakai penulis kitab Al-Furu’ dalam fiqh madzhab Hambali. Demikian pula dengan para pengikut madzhab, setiap mereka memiliki istilah khusus. Oleh karena itu, kita harus mengenal istilah yang dipakai penyusun kitab tersebut.

Mengetahu gaya bahasa dan ibarat-ibarat (ungkapan-ungkapan)

Jika engkau membaca sebuah kitab, maka hal pertama yang engkau jumpai dan engkau baca –terlebih lagi pada kitab-kitab ilmiah yang dipenuhi khazanah keilmuan- engkau akan menemui gaya bahasa yang perlu curahan perhatian dan pemikiran untuk menerawang makna. Sebab engkau belum terbiasa dengan gaya bahasa tersebut. Namun apabila engkau mengulang-ulang kitab tersebut, engkau akan terbiasa dengannya. Ada pula perkara yang keluar dari interkasi dengan kitab-kitab yaitu pemberian ta’liq dengan “Hawamisy” atau dengan “Hawasy”. Hal ini termasuk perkara yang wajib bagi penuntut ilmu untuk memanfaatkannya.

Apabila ada masalah yang melintasinya yang membutuhkan syarah (Penjelasan), dalil atau ta’lil (Penerangan sebab suatu hokum) lalu ia khawatir lupa pada masalah itu maka ia bisa memberikan catatan kaki apakah dengan hawamisy yaitu penjelasan yang dicatat di kanan, kiri kitab atau dengan hasyiah yaitu keterangan yang ditulis di bawah kitab. Faedah-faedah seperti ini seringkali diabaikan para penuntut ilmu. Padahal untuk menuliskn keterangan faedah-faedah tadi tidak menghabiskan waktu kecuali satu atau dua menit saja.

Setelah itu jika ia ingin mngingat kembali masalah tersebut ia perlu beberapa saat untuk mengingatnya dan terkadang ia tidak mendapatinya lagi. Penuntut ilmu seyogyanya mencurahkan perhatian pada masalah ini, terlebih lagi pada kitab-kitab fiqih. Dalam beberapa kitab, engkau akan menjumpai suatu permasalahan dan hukumnya, sehingga engkau dihadapkan pada kebimbangan dan kesulitan.

Apabila engkau merujuk pada kitab-kitab yang lebih luas (Pembahasannya) daripada kitab yang berada di hadapanmu, engkau akan mendapatkan ucapan atau pendapat yang bisa menerangkan masalah itu. Engkau mengulas ucapan itu dengan maksud agar merujuk kembali kepada ucapan tersebut di waktu yang lain tatkala engkau membutuhkannya tanpa melihat kitab asli yang engkau rujuk. Pekerjaan ini termasuk hal-hal yang menghemat waktumu.

Bersambung …


Disalin dari Buku “Tuntunan Ulama Salaf Dalam Menuntut Ilmu Syar’i” Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Pustaka Sumayyah halaman 95-97.

Save

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s