Kitab-kitab Bagi Penuntut Ilmu#2

Sebelumnya…

bffa8e997ba9f1873ec570000ae713c6

Mentelaah kitab ada dua cara:

  1. Mentelaah kitab dengan tadabbur (Memperhatikan dengan seksama) dan tafahum (Memahami sedikit demi sedikit). Dalam menempuh cara ini seseorang harus mencurahkan perhatian secara seksama dan telaten.
  2. Mentelaah kitab dengan sekedar melihat-lihat saja. Ia mengamati materi kitabb itu, bahasan-bahasannya dan cara engenal kandungannya. Itu dilakukan dengan cara membaca kitab secara cepat, dengan cara ini tidak diperoleh proses pengamatan yang mendalam dan perhatian yang seksama seperti cara pertama.

Mengoleksi Kitab

Seorang Penuntut ilmu seyogyanya berambisi untuk mengoleksi berbagai macam kitab, namun hendaknya dimulai dengan kitab yang paling penting kemudian yang penting. Jika seseorang tidak memiliki banyak uang, maka bukanlah termasuk perilaku yang baik dan bijak jika ia membeli dengan cara memaksakan diri dengan hutang. Ini bukan perilaku yang baik. Jika engkau belum mungkin membeli dengan hartamu, maka engkau bisa meminjam dari perpustakaan.

Mencurahkan Kesungguhan pada Kitab-kitab yang Penting

Setiap penuntut ilmu wajib mencurahkan kesungguhannya terhadap kitab-kitab induk yang pokok bukan kitab-kitab yang disusun pada era ini, sebab sebagian penyusun kitab di era kini kurang memiliki kedalaman ilmu. Oleh karena itu jika engkau membaca kitab-kitab yang mereka susun, engkau akan menjumpai kedangkalannya. Terkadang penyusun kitab menukilkan suatu perkataan atau lafadz yang diubah ke dalam ungkapan yang panjang namun tidak berbobot. Jadi, engkau harus berpatokan pada kitab-kitab induk yang disusun oleh kaum Salaf. Kitab-kitab tersebut lebih baik dan jauh lebih berkah daripada kitab-kitab muta’akhirin (Masa kini).

Mayoritas kitab-kitab susunan mereka memiliki sedikit makna namun banyak kata. Jika engkau membaca satu halaman penu, mungkin engkau hanya bisa merangkumnya menjadi satu atau dua baris saja. Beda halnya dengan kitab-kitab kaum salaf, engkau akan mendapati kitab-kitab tersebut mudah, lunak, gampang dan berbobot. Engkau tidak akan mendapati satu katapun yang tidak memiliki makna. Diantara kitab-kitab yang wajib didalami penuntut ilmu adalah kitab-kitab karangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan murid beliau, Ibnul Qayyim –rahimahullah-.

Dan telah dimaklumi bahwa kitab-kitab Ibnul Qayyim relative lebih mudah dan lebih halus (ungkapan-ungkapannya). Ungkapan-ungkapan yang digunakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sifatnya lugas yang mencerminkan kedalaman ilmu dan kecerdasan beliau yang benar-benar memukau. Sedangkan Ibnul Qayyim melihat karya-karya syaikhul islam begitu besar, maka beliau membenahi dan merapikannya. Dengan pernyataan tersebut, kita tidak bermaksud mengungkapkan bahwa Ibnul Qayyim adalah salinan ilmu Ibnu Taimiyyah, namun sebaliknya Ibnul Qayyim seorang yang bebas (Merdeka dalam hal pemikirannya).

Apabila beliau melihat gurunya menyelisishi pendapat yang beliau nilai sebagai pandangan yang benar maka beliau akan berbicara. Tatkala beliau berpendapat tentang wajibnya pembatalan ibadah haji kepada ibadah umrah –Ibnu Abbas berpendapat bahwa orang yang tidak membawa hewan qurban jika telah berihram dengan maksud menunaikan ibadah haji qiran maka ia wajib membatalkannya dan menggantinya dengan ibadah umrah- Sedangkan syaikhul islam berpendapat bahwa kewajiban tersebut khusus hanya bagi para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Ibnul Qayyim berkata, “Saya lebih cenderung pada ucapan Ibnu Abbas –radhyallahu ‘anhu- daripada guru kami (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah).”

Ibnul Qayyim secara tegas menyelisihi gurunya. Beliau adalah seorang yang independen dan bebas dalam pemikirannya, namun beliau tidak merasa sungkan mengikuti gurunya dalam masalah-masalah yang beliau nilai sebagai kebenaran. Tidak diragukan lagi, apabila engkau mengamati mayoritas pilihan-pilihan yang dijatuhkan oleh Syaikhul Islam, maka engkau akan dapati bahwa pilihan-pilihan itu adalah pandangan yang benar. Dan orang-orang yang mengamati secara seksama kitab-kitab berdua akan mengetahui fakta ini.

Klasifikasi Kitab

Kitab diklasifikasikan menjadi tiga:

  1. Kitab-kitab yang bermanfaat
  2. Kitab-kitab yang merusak
  3. Kitab-kitab yang tidak bermanfaat dan merusak

Bersungguh-sungguhlah engkau dalam menyeleksi perpustakaanm dari berbagai kitab yang tidak memberikan kemanfaatan atau dari kitab-kitab yang merusak. Ada beberapa kitab yang dikatakan sebagai kitab sastra, namun kitab tersebut cukup menelan dan menghabiskan banyak waktu tanpa faedah. Ada pula kitab-kitab berbahaya yang memiliki tendensi sertaa kecenderungan tertentu. Kitab-kitab ini pun jangan engkau masukan ke dalam perpustakaannmu, baik kitab-kitab itu dalam masalah manhaj ataupun dalam masalah aqidah, seperti kitab-kitab Ahlul Bid’ah yang membahayakan aqidah dan kitab-kitab revolusioner yang merusak manhaj. Secara umum seluruh kitabb yang membahayakan jangan engkau masukkan ke dalam perpustkaanmu. Sebab kitab merupakan santapan ruhani seperti halnya makanan dan minuman bagi badan. Jika engkau menyantap kitab-kitab tersebut di atas maka kitab-kitab itu akan mendatangkankerugian yang fatal terhadapmu. Sehingga engkau akan cenderung pada suatu arah yang menyalahi manhaj pemeblajaran ilmu yang benar.


Disalin dari Buku “Tuntunan Ulama Salaf Dalam Menuntut Ilmu Syar’i” Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Pustaka Sumayyah halaman 97-100.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s