Rumah Tanpa Wanita

11218844_521496228026704_4072270529398502156_n

Ketika seorang Ayah terpaksa harus meninggalkan rumah dan merantau beberapa waktu lamanya untuk melanjutkan kuliah di Negara Lain atau bekerja di luar kota, mulai dari ketika ia pergi hingga kembali, keadaan rumah tetap seperti semula, rapi dan nyaman.

Ketika seorang Ayah atau Suami jatuh sakit hingga berhari-hari lamanya, kondisi rumah masih terawat dengan baik. Sarapan hingga makan malam terhidang di meja makan. Cucian yang menumpuk tidak sampai menggunung hingga kehabisan baju, dan anak-anak teratasi dengan baik.

Namun bagaimana jika keadaan dibalik? Seorang Istri yang biasanya menghandle aktifitas domestik rumah tangga, mulai dari sumur sampai dapur tiba-tiba harus pergi? siapa yang bisa menjamin rumah tetap rapi, cucian tidak menggunung, dapur tetap bersih, piring-piring kotor tidak berserakan dimana-mana, celana, jaket, kaos kaki tidak berhamburan di setiap sudut rumah? Anak-anak tidak rewel karena lapar? Atau minimalnya, bisa makan tanpa harus repot-repot mencuci piring, menanak nasi, memasak beragam sayur mayur yang sehat dan bersahabat dengan kantong?

Adakah yang bisa menjamin, seorang laki-laki lebih luwes ketika mengurusi aktifitas domestik Ibu Rumah Tangga? Yang teratur ketika menyusun piring, gelas, wajan pada tempatnya? Yang telaten menata perabot rumah sedemikian eloknya? Yang lihai membereskan rumah secepat kilat karena mendadak ada Tamu yang akan datang ke rumah, tanpa menyisakan serpihan-serpihan yang mengganggu pemandangan? Bisakah laki-laki mengurusi semua itu tanpa wanita harus campur tangan?

Sepanjang yang pernah saya alami, “Seorang Suami yang terbiasa dilayani Istri untuk segala keperluannya, selama 24 Jam kali 7 Hari tidak dapat menghandle pekerjaan domestik para Istri dengan hasil yang memuaskan.”

Ketika Ibu saya tiba-tiba harus pergi menjenguk orang tuanya yang sakit, otomatis saya bertiga dengan Bapak, dan Adik pertama saya di rumah. Biasanya, pukul setengah enam di meja makan sudah terhidang menu sederhana untuk sarapan kami. Baju-baju kami sudah diseterika, buku-buku pelajaran kami sudah dicek oleh Ibu, kadangpula sudah disiapkan air hangat jika cuaca sedang dingin. Namun, ketika hanya ada Bapak satu-satunya orang dewasa (Kakak-kakak saya sudah Kuliah dan Bekerja di luar kota ketika itu), kami hanya sarapan telur ceplok, roti tawar yang diolesi mentega, dan segelas susu. Lalu pukul enam lewat lima belas menit, kami berangkat sekolah naik angkot.

Hari itu adalah hari Senin, kami wajib mengikuti upacara bendera. Di tengah jalannya upacara, perut saya mulas dan mual luar biasa hingga harus ke toilet berkali-kali yang berujung dibawa ke UKS. Baru beberapa saat saya masuk UKS, tiba-tiba ada lagi siswa yang dibawa ke UKS. Oh.. Ya ALLAH, ternyata Adik saya menyusul masuk UKS dengan keluhan serupa. Diare!

Ketika pulang sekolah, saya dan Adik kesal sekaligus jengkel pada Bapak. Sembari menebak-nebak, kenapa kami malah jadi diare di sekolah setelah sarapan? Padahal, kami sangat jarang sekali masuk UKS karena sakit.

Sesampainya di rumah, kami protes dan Bapak baru sadar, bahwa susu yang diberikan kepada kami adalah Susu untuk LANSIA! Saya dan Adik syok, lalu merengek meminta Ibu segera pulang, khawatir kami akan menderita kelaparan karena curiga dengan makanan yang diberi Bapak. Alhamdulillaah, sorenya Ibu pulang membawa makanan yang sudah dimasak di rumah Nenek. Dan kami memohon pada Ibu, jika akan ditinggal pergi menginap supaya disediakan makanan yang sudah Ibu olah. Jika tidak, maka kami mengancam akan ikut Ibu daripada bertiga dengan Bapak tanpa makanan yang “Meyakinkan”.

Demikian pula setelah saya menikah. Suatu hari, saya tidak enak badan sehingga tidak bisa masak dan beberes rumah. Akhirnya, Suami turun tangan dan masak. Alhamdulillaah, masalah perut terselesaikan. Namun ketika menengok dapur, saya kembali cenut-cenut, meski masakannya enak, namun tempat bumbu sudah bermigrasi ke samping westafel, nasi berceceran di sekeliling kompor, sampah bungkus mie, cangkang telur, kulit bawang, berserakan di samping kompor, yah.. bisa dibayangkan kapal pecah yang diterjang angin ribut bagaimana kacaunya? Untunglah, Kokinya bertanggung jawab mencuci piring dan peralatan masak, meski baskom mendadak pindah ke deretan piring, gelas-gelang tempatnya tidak beraturan, tumplek blek bersama sendok, sodet, dan wajan digantung di tempat baskom, panci pindah ke gantungan wajan. Meski tidak sesuai SOP saya, paling tidak, hari itu dapur bersih meskipun rumah masih berantakan. Itu baru pagi hari ketika saya tidak fit. Bagaimana jika seharian saya belum pulih? Duhh..

Kadang, sebagian Bapak-bapak menganggap bahwa pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan sepele yang tidak begitu banyak menguras tenaga. Tidak seperti dirinya, yang harus membanting tulang di luar rumah. Entah berjibaku dengan layar komputer, berdagang, entah harus berkutat dengan buku-buku kuliah dan tugas yang bejibun. Ya memang, terlihat sepele jika berangapan, “Alaah, nyuci piring aku bisa kok..”, “Oh… Waktu masih single juga udah biasa nyuci baju sendiri..”, atau, “Cuma nyapu dan ngepel, saya juga bisa melakukannya tiga kali sehari Bu..” dan lain sebagianya. Pertanyaannya, adakah yang bisa setelaten Istri?

Wanita itu strong. Seorang Ibu, bisa mengerjakan segala hal ketika Bapak tak ada di sisinya karena beragam alasan. Namun, seorang Bapak.. akan tertatih-tatih ketika harus menggantikan peran Ibu Rumah Tangga. Betul begitu?

Kalau mau membuktikan, coba deh Istri libur sehariii saja. Tidak masak, tidak mencuci, tidak membereskan rumah, kira-kira rupa rumah akan seperti apa ya? Suami mau libur kerja atau tidak, rumah tetap stabil. Namun, Istri libur kerja sehari, rumah sudah amburadul.

Etapi… Bukan berarti para Suami tidak lelah juga. Sebuah keniscayaan jika mereka lelahnya lebih bertubi-tubi dari kita loh Buibu. Karena, pekerjaan yang menggunakan otak itu lebih melelahkan daripada menggunakan tenaga. Apalagi sekiranya jarak tempuh dari rumah ke kantor jauh, macet, konflik internal di kantor, deadline yang kadang bikin ketar-ketir. Jadi, sebelas duabelas, sama-sama capeknya, sama-sama rawan stressnya.

Maka, sepasang suami istri itu wajib, kudu, harus, bisa memahami perannya masing-masing. Tugas Suami adalah mencari nafkah supaya keluarganya sejahtera, di samping mencari nafkah adalah medan jihadnya seorang Suami. Demikian pula, tugas Istri adalah melayani Suami. Wajar, fitrahnya wanita adalah menyukai kerapian, keindahan, dan kebersihan. Kemauan untuk merapikan rumah, menatanya hingga nampak apik, merawatnya supaya tetap sedap dipandang mata, memasak, mencuci, melayani keluarga tanpa kenal lelah sekalipun, semua itu tumbuh dari nalurinya, dari Cinta dan Kasih Sayang yang besar untuk Suami dan anak-anaknya.

Suami begitu kaku ketika harus berurusan dengan pekerjaan rumah tangga Istri, semata-mata karena ia tidak terlatih untuk itu. Ia dididik untuk menjadi Pelindung, bukan Perawat. Maka, berbanggalah menjadi Ibu Rumah Tangga. Meski tidak sering piknik, yakinlah akan janji ALLAH untuk seorang Muslimah yang menjaga Kehormatannya dan Suaminya, menjaga harta Suami, berpuasa di bulan ramadhan, shalat lima waktu, mendidik anak-anak Suaminya, kelak, akan diberi jaminan Surga.

Meski tetap, “Rumah tanpa Wanita seperti Kapal tanpa Nahkoda..”

_____

~ Tyas Ummu Hassfi Ubaidillah

Ketika badan masih encok-encok… 🙂

Yogyakarta, Monday, February 8, 2016 10. 49 pm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s