Seorang Anak Menegurku

c8a2d00bcc069520c46e86d83fa6cb7d

Barusan, waktu jalan kaki ke warung dan melewati gang-gang sempit berpapasan dengan bocah laki-laki sekitar 6 tahunan. Dari kejauhan dia sudah senyum-senyum di atas sepedanya sambil makan jajan. Pas melewati doi, tiba-tiba dia berteriak :

“Siapa kamu?”

Jreeengg.. Duarr duarrr! Saya refleks berhenti dan balik badan ke arahnya. Setengah kaget.

“Hai, aku Tyas. Kamu siapa?”

“Tyas siapa?”

“Tyas yang tinggal di rumah kontrakan Pak -titik-titik-. Namamu siapa?”

“Gatra..”

“Mmm, rumahnya dimana?”

“Disana…” sambil nunjuk rumahnya.

“Oh, nanti TPA ndak?”

“Enggak..” Menggeleng sambil makan dan pandangannya tidak lepas dari baju saya.

“Kenapa pake baju seperti itu e?”

“Iya, kan biar menutupi aurat..” sambil senyum di balik cadar.

Gatra mengangguk. Sambil terus senyum-senyum nggak jelas, eh tepatnya cengar-cengir.

Yaa ALLAH lega, untung bukan diteriakin “Teroris.. >.<“

Sudah lama tidak berhadapan dengan anak-anak usia SD pasca resign dari ngajar. Teriakan Gatra (Mungkin lebih tepatnya, dia refleks mau nyapa) membuat saya sadar untuk kembali membaur dengan anak-anak di lingkungan rumah.

Sapaan Gatra membuat saya sadar. Bahwa keberadaan ABG (Akhwat Berjilbab Guwede) seringkali menimbulkan pertanyaan bagi anak-anak seusianya, “Itu siapa sih?”, “Kenapa sih berpakaian begitu?”.

Nah, mumpung mereka penasaran dan belum dijebak dalam stigma negatif Orang dewasa di sekitarnya yang belum sampai ilmu padanya tentang hijab syar’i, maka ini menjadi peluang emas bagi kita untuk berdakwah. “Ini loh Dek, jilbab syar’i yang diperintahkan ALLAH untuk dipake anak perempuan yang sudah besar.” Dari jawaban sederhana itu, mereka akan bertanya-tanya, “Siapa ALLAH?”, “Kenapa diperintahkan pake jilbab?”, “Kenapa anak perempuan pake jilbab?”, dan lain sebagainya.

Iya! Anak-anak adalah medan dakwah kita yang pertama. Misal, dengan menjadi Pengajar TPA di lingkungan rumah, menciptakan metode mengajar yang tepat, In syaa ALLAH anak-anak senang datang ke TPA. Ketika usai TPA, kita dapat menyerukan dakwah tauhid pelan-pelan, mengajarkan doa-doa dan amalan sesuai Al-Qur’an dan Sunnah, dsb.

Kalau anak-anak senang belajar di TPA, Ibunya yang menunggu anaknya ngaji, bisa sekalian mendengarkan dakwah yang kita serukan bukan? Mudah-mudahan, hal tersebut bisa menjadi perantara hidayah bagi Ibunya pula.

Sebagai Muslimah, apalagi bercadar begini, kita memang harus memperhatikan tindak tanduk kita di lingkungan Masyarakat. Ya! Karena kita disorot, jika baik maka mereka akan welcome. Jika tidak, bersiap-siaplah kesepian tidak memiliki tetangga yang dapat menggantikan sanak kerabat yang jauh.

Anak-anak tetangga yang masih dalam Golden Age, adalah media yang bisa mendekatkan kita dengan masyarakat. Sudah saatnya, Mbak-mbak ABG, merangkul anak-anak di lingkungan tempat tinggal. Jika memungkinkan, ajaklah main ke rumah, bisa dibuatkan beragam permainan untuk merebut hati mereka. Kalo perlu, Ibunya juga suruh ikut datang ke rumah. Buat mereka jatuh cinta dengan akhlak baik kita terhadap anak-anak dan Tetangga. Jangan hanya di dalam rumah saja, namun sekalinya keluar rumah untuk hajat syar’i malah dingin, tidak ramah, cuek bebek.

Percayalah, jalan dakwah yang kita tempuh ini terjal dan berliku. Jangan persulit dengan akhlak yang tidak baik terhadap anak-anak dan tetangga. Yaah, meski ilmu kita seujung kuku pun tak ada, minimal kita berdakwah dengan cara paling sederhana, yakni.. Akhlak yang baik dan bersikap hikmah. smile emoticon

~ Yogyakarta, 10 Februari 2016 16.07 WIB

Di sela-sela hujan sore ini…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s