Tips Disayang Suami : Patuh

10923262_936494469728966_2550632854595003851_n
Sumber Pict : Pinterest
“Salah satu tips agar seorang Istri disayang Suami adalah : Patuh”
 
Ya benar, patuh (Dalam koridor syariat tentunya). Seperti halnya seorang Guru, kalau ada Muridnya yang ngeyel, keras kepala, semaunya sendiri pasti rasanya geregetan, sebel, emosional, senep, bahkan menjadi benci, dan tidak sudi. Bagaimana pun, Guru adalah orang lain yang tidak memiliki hubungan apapun dengan kita bukan? Hingga kasih sayangnya tidak sekuat Orang Tua maupun Suami.
 
Demikian pula Orang tua, jika memiliki anak sudah baligh namun ndablek, susah dinasehati, mengikuti kemauannya sendiri, dan semena-mena terhadap orang tua, tentu saja akan melahirkan kesedihan, kekecewaan, tak jarang membuatnya marah.
 
Lalu, bagaimana dengan Seorang Suami yang memiliki Istri susah dinasehati, mengedepankan egonya, menuruti hawa nafsunya dengan embel-embel “Sebagai wanita, saya harus punya prinsip.”, berani membantah, kekeuh dengan pendapatnya, merasa dirinya paling benar, merasa paling berhak untuk didengar, pokoknya paling merasa, “Aku ini Istrimu. Aku berhak untuk bla bla bla..” dan lain sebagianya?

Ketika saya tanya pada Suami, “Apa yang paling diharapkan oleh seorang Suami terhadap Istrinya?”
 
Beliau menjawab singkat, “Patuh.”
 
Saya, “Alasannya?”
 
“Istri yang patuh itu menentramkan hati. Buat apa punya Istri kalau nggak patuh?”
 
Kalau Istri patuh pada Suami, tentu segala nasehat Suami yang menyerukan kebaikan akan didengar dan ditaati. Istri yang tidak patuh, ketika Suami menasehati ia akan melawan. Ketika diminta tetap tinggal di rumahnya, ia akan diam-diam keluar rumah. Setiap hari konflik karena merasa dirinya paling benar. Nah, kalau sudah begitu, tiap waktu dibuat sebel sama Istri, jangan heran jika lama-lama Suami jengah. Bahkan berujung pada perceraian, karena perlahan cintanya terkikis akibat buruknya akhlaq Istri. Atau bahkan hatinya tersambar oleh wanita lain?
 
Wal ‘iyadzu billah
 
Buibu…
 
Kadang, sebagian wanita merasa tersakiti ketika harus banyak mengalah pada Suami ketika terjadi silang pendapat maupun perselisihan. Namun, untuk memenangkan argumentasi kita, bukan sikap bijak jika kita mendongakkan kepala, tetap bersikukuh pada pendirian kita, hingga meninggikan nada suara.
 
Bagi seorang Suami, sikap tersebut serupa dengan mencoreng wibawanya. Menghilangkan kelembutan yang seharusnya menghiasi wanita. Mengalah, bukan berarti kalah. Mengalah untuk menang.. Mengalah untuk menundukkan hatinya. Sikap pongah dan ngeyel, hanya akan menyulut kebencian Suami.
 
Jika seorang Istri yang terbiasa mematuhi suami, tidak membantahnya, melayani Suami dengan baik, ketika Suami marah kita mendengarkan dan cukup mengatakan, “Laa taghdab wa lakal Jannah..” bukan malah balik marah-marah dan banting-banting gerabah, In syaa ALLAH Suami akan tetap segan dengan kita. Menghormati kita, dan merasa bersalah sudah marah-marah pada kita ketika akalnya sudah kembali ke tempat semula. Bahkan, ia menjadi kasihan dan semakin bertambah rasa cintanya kepada kita.
 
Berbeda kalau Istri ngeyel ketika dinasehati, selalu membalas ketika terjadi pertengkaran, yakinlah.. Ketika dua orang sedang dilanda amarah, hati mereka sedang jauh, hawa panas sedang menyergap, cinta dan kasih sayang sedang menguap, maka tidak heran tatkala seseorang tengah marah ia mudah berkata kasar hingga memukul. Bahkan, kata thalaq meluncur dengan mudah. Betapa menderitanya jika Suami membenci kita karena buruknya sikap kita.
 
Duh Bu…
 
Mematuhi Suami selama tidak menyekutukan ALLAH, tidak memberi mafsadat untuk agama kita, In syaa ALLAH lebih selamat dan berbuah pahala. Mau ngeyel sampai kapan? Kalau Suami melarang kita untuk tidak bekerja, semata-mata karena ia sayang dan tidak tega jika kita harus berlelahpayah. Jika Suami melarang kita keluar rumah kecuali untuk hajat syar’i, yakinlah.. sesungguhnya ia khawatir terjadi sesuatu dengan kita di jalan, sedangkan ia tak berada di sisi kita untuk melindungi dari gangguan yang ada.
 
Ingatlah, menjadi Istri yang taat, adalah jalan menuju Surga.
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
 
“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Mengapa kita harus taat pada Suami? Tidak lain karena ALLAH telah melebihkan hak Suami karena besarnya peranan Suami dalam memimpin rumah tangganya menuju ridha ALLAH. Besarnya tanggungjawabnya dalam menafkahi Istri dan keluarganya dari jalan-jalan yang diridhai ALLAH. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
 
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ النِّسَاءَ أَنْ يَسْجُدْنَ لأَزْوَاجِهِنَّ لِمَا جَعَلَ اللَّهُ لَهُمْ عَلَيْهِنَّ مِنَ الْحَقِّ
 
“Seandainya aku memerintahkan seseorang untuk sujud pada yang lain, maka tentu aku akan memerintah para wanita untuk sujud pada suaminya karena ALLAH telah menjadikan begitu besarnya hak suami yang menjadi kewajiban istri” (HR. Abu Daud no. 2140, Tirmidzi no. 1159, Ibnu Majah no. 1852 dan Ahmad 4: 381. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Maa syaa ALLAH…
 
ALLAH telah menjamin Surga bagi kita apabila mentaati Suami ya Bu? Ketaatan pada Suami tentu dalam hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat kita. Jika Suami memerintaahkan kita untuk tidak menutup aurat, maka kita berkewajiban untuk menolaknya, karena itu bertentangan dengan perintah ALLAH.
 
Nah.. Yuk mari, perbaiki akhlaq kita terhadap Suami. Bersikap baik terhadapnya, mematuhinya, dan mengabdi sepenuhnya demi mengharap wajah ALLAH, In syaa ALLAH berbuah Surga. Bagiamana kita bersikap pada Suami, kelak itulah yang menentukan dimana kita akan ditempatkan kelak. Di Surga, atau Neraka? Tak lain, karena Suami adalah Surga dan Neraka seorang Istri…
_____________
~ Tyas Ummu Hassfi,
Yogyakarta, February 16, 2016 at 9. 28 am
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s