Dosa Ibu-ibu Ketika Menawar

nawar

Hemat, kata sebagian Ibu-ibu. Sehingga tidak jarang, beberapa diantara mereka menawar harga ketika membeli sesuatu di pasar. Mirisnya, harga yang ditawar jauh lebih rendah dibanding harga yang dipatok penjual. Mereka berpikir, dengan menekan harga serendah-rendahnya maka mereka sudah menghemat keuangan keluarga setinggi-tingginya. Ya memang, dalam transaksi jual beli adalah lumrah jika terjadi tawar menawar.

Namun Bu, tawar menawar juga ada etikanya lho. Jika harganya masih wajar, jangan menekan harga semiring-miringnya. Jika penjual menawarkan harga yang selangit, maka kita boleh menawar maksimal setengah harganya. Jika tetap tak boleh, maka tawarlah 25% dari harga yang dipatok, atau tinggalkan dan cari Pedagang lain yang lebih murah. Namun, sebelum menawar, sangat perlu bagi kita untuk mensurvey harga di pasaran. Apakah harga pasarannya memang segitu, atau tidak?

Ketika akan mudik ke Batam, saya dan Suami berbelanja oleh-oleh untuk Keponakan-keponakan Suami yang jumlahnya nyaris selusin di Malioboro. Seperti biasa, saya menawar harga kaos anak yang dibanderol Rp. 30. 000,- menjadi Rp. 15. 000,-. Penjualnya tidak sepakat, dan Suami juga tidak tega. Karena kami membeli dua buah, maka Penjualnya menyepakati harga Rp. 25. 000,-. Penawaran yang tidak begitu sukses menurut saya.

“Ya sudah, kita ndak usah nawar-nawar lagi ya? Meski mahal, tapi baiknya kita menghindari selama harganya masih wajar. Masalahnya adalah, kamu berpenampilan begini (Bercadar – red). Aku lebih khawatir nanti stigma mereka jadi negatif tentang orang bercadar yang menawar harga terlalu rendah. Meski menawar itu adalah kelaziman dalam transaksi jual beli.” Ujar Suami setelahnya.

“Bagaimanapun, mereka harus bekerja keras kan buat menjual dagangannya? Harus capek seharian. Untungnya seberapa sih dibanding yang kita peroleh selama ini?” lanjutnya lagi.

Perlu diketahui (Halaah), Ibu saya adalah Pedagang Sembako dan Kelontong. Kadang-kadang, ketika sedang membantu Ibu di toko dan ada pembeli yang menawar harga terlalu rendah, Ibu selalu berkata, “Aduh Bu, harga dari sananya juga sudah mahal. Saya ambil untung cuma sedikit biar modalnya muter terus.”

Ya memang, keuntungan berjualan sembako itu tidak banyak. Tapi, kalau laris ya lumayan bisa buat ongkos naik Haji dan membiayai sekolah anak. Tapi, bagaimana dengan Pedagang Sayur Mayur di Pasar? Atau yang berkeliling? Atau di Warung?

Keuntungan Pedagang sayur juga tidak demikian banyak loh. Apalagi, kalo kita beli sedikit-sedikit, pedagangnya kadang melebihkan atau malah jadinya tidak sesuai dengan harga yang dibelinya dari Tengkulak. Belum lagi ancaman sayur mayurnya layu dan busuk, karena sayur bukan barang yang tahan lama. Disimpan di dalam Kulkas saja hanya membuatnya berair bukan tetap segar seperti baru dipetik kan? Apalagi jika terpapar udara bebas begitu?

Tadi ketika saya bercerita pada Suami mau menulis artikel ini, beliau menimpali : “Orang yang menawar harga terlalu rendah itu kejam. Aku pernah lihat ada Ibu-ibu nawar Pisang ke Mbah-mbah. Harganya tiga ribu. Si Ibu malah nawar, tiga ribu dapet dua. Padahal Simbahnya nggak mau, dan bilang, ‘Ora iso ngitung po’ (Maksudnya, nggak bisa menghitung apa? Kalo 3000 + 3000 = 6000 bukan 3000?). Tapi yo tetep aja, Si Ibu maksa. Saat itu, aku rasanya sebel banget. Kasihanlah Simbahnya padahal udah tua banget…”

Nah tuh Bu, Bapak-bapak saja sebel kalo lihat ada Ibu-ibu ngotot menawar harga seenaknya pada Pedagang terlebih sudah Mbah-mbah. Apalagi Pedagangnya ya, pasti tersinggung banget ya kalo kita nawar tanpa perasaan?

Saran saya ya Bu, kalau kita merasa tercukupi secara finansial, enggak harus kaya, namun sejahtera, bisa makan tiga kali sehari bahkan bisa ngebaking sekaligus, baiknya tidak menawar harga ketika berbelanja (Lagi, dengan catatan harga masih wajar). Yah, kalo nawar seratus dua ratus perak sih nggakpapa asal belanjanya banyak. Namun, kalo menawarnya dengan harga serendah-rendahnya ya jangan. Apalagi yang jual sudah renta, atau Pedagang yang kelihatannya lusuh sekali. Kasihan!

Masa, kita belanja di Supermarket dan Mall-mall saja pasrah kok dengan harga yang dibanderoll, sanggup-sanggup saja untuk membayarnya. Lha, ke Pedagang Sayur kok nawar? 🙂

________

~ Tyas Ummu Hassfi

Yogyakarta, 18 Februari 2016 pukul 10. 31 WB

Terinsipirasi dari tulisan ini

Sumber Gambar : Google Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s