Karena Standar Kita Berbeda

cccccc
Sumber : Pinterest

Jadi ceritanya, kemarin ada member di sebuah grup seputar perdapuran yang posting struk pembelian makanan di restaurant cina dengan total delapan puluh juta lebih. Pajaknya saja nyaris lima belas juta. Kaget, cuma makan saja kok sampe habis puluhan juta, senilai setengah harga Rumah? Kalo yang membeli adalah kalangan ekspatriat atau konglomerat sih no problem, wong pendapatan mereka saja juga tidak kalah besarnya. Mungkin, kalo yang membeli adalah pengunjung Pantai Anyer yang dapet harga kaget baru kita boleh ikut terkaget-kaget juga.

Intinya, semua sudah ada segmentasinya masing-masing. Mungkin, bagi sebagian besar Mahasiswa tempat favorit untuk ngumpul bareng temen-temen atau sekadar makan maka warung penyetan, burjo dan angkringan adalah pilihan yang tepat. Bagi pekerja kantoran yang sering meeting untuk bertemu klien, dan kolega, Rumah Makan atau Restaurant menengah adalah tempat terbaik yang sesuai dengan kantong mereka. Demikian pula, Para Menteri, Pengusaha, dan yang sekelas dengannya Restauran High Class adalah tempat terbaik untuk menjamu Kolega dan Tamu-tamunya. Lalu, apa masalahnya? Apa yang mengherankan?

Mbak saya, Mamanya Icha kebetulan adalah Emak-emak Sosialita. Suaminya adalah seorang Pilot di sebuah Penerbangan Komersil, dan teman-teman bergaulnya juga Istri-istri Pilot dan Perwira. Ketika saya sedang berkunjung ke Surabaya dan menemani beliau berbelanja kebutuhan bulanan, beliau bisa menghabiskan uang jutaan rupiah. Untuk Susunya Claudia saja bisa mengeluarkan satu juta rupiah sendiri. Seketika saya nyeletuk, “Elaaah… Boros bangeeet..”

Beliau menjawab, “Lho.. Ini malah lagi hemat kali..” -_-“

Hematnya Mbak Yayan itu kalau pengeluaran sebulan sekitar sepuluh jutaan. Tapi itu memang berbanding lurus dengan pendapatan Suaminya sih. Mbak bilang, “Waktu awal-awal nikah dan penghasilan Suamiku setara PNS biaya hidup menyesuaikan. Setelah jadi Pilot Komersil, pendapatan meningkat drastis. Otomatis gaya hidup juga meningkat, yang tadinya mobil satu cukup. Sekarang butuh satu mobil lagi buat antar jemput Icha sekolah. Dulu, aku makan di Restaurant rasanya mahal. Tapi sekarang mah, biasa aja. Gitu Yas.. Yakin deh, kalau pendapatan Suamimu bertambah lagi, pasti kebutuhan dan keinginanmu juga semakin meningkat. Standar sederhanamu juga meningkat..”

Iya sih, saya juga mengalami sekali ketika pendapatan Suami meningkat, keinginan saya juga semakin macam-macam, dan rasanya semua kebutuhan jadi meningkat. Yang tadinya nggak butuh ini, tiba-tiba jadi butuh. Yang tadinya nggak penting, mendadak jadi penting. Kalau nggak inget lelahnya Suami bekerja berjam-jam di kantor, dan semua yang kita miliki akan kena hisab pasti semua menjadi wajib untuk dituruti. Untunglah, Suami selalu mengingatkan :

“Bersederhanalah. Jangan boros.. Karena tabzhir (boros) adalah temannya Setan..”

Jadi intinya, ndak usah terlalu heran dengan orang-orang hedonis yang menghabiskaan banyak uang, karena ya memang sesuai dengan apa yang mereka miliki. Yang mengherankan adalah, jika ada orang Miskin bergaya seperti orang kaya demi sebuah gengsi. Orang miskin yang saya maksud adalah, orang yang mengandalkan kredit untuk bisa memiliki sesuatu. Mau beli mobil, kredit. Mau beli sepeda motor, kredit. Mau beli Tas, kredit. Mau umrah, kredit. Pokoknya, apa-apa kredit. Bukankah kredit itu hutang? Hutang memang boleh, namun hanya berlaku bagi mereka yang benar-benar membutuhkan. Bagi mereka yang tidak mampu. Realitanya, kebanyakan orang masa kini, menggunakan kredit bukan karena sebuat keterdesakan, namun karena sebuah gengsi.

Sudah saatnya kita banyak-banyak bersyukur. Mensyukuri setiap pemberian ALLAH. Berusaha menjadi qana’ah. Tentu, standar qana’ah antara satu orang dengan orang lainnya berbeda. Ada yang merasa belanja menu sehari sepuluh ribu rupiah itu cukup, namun ada juga yang sepuluh ribu rupiah perhari itu kurang banget. Semua tergantung pendapatan Suami kan? Iya, semua tergantung harta yang dimiliki. Kita tidak perlu merasa resah dan hasad dengan apa yang dimiliki orang lain. Rejeki kita sudah diatur oleh ALLAH yang Maha Adil. Yang perlu kita upayakan adalah, membelanjakan setiap rejeki yang ALLAH beri untuk kita di jalan yang benar dan untuk tujuan yang dirdhai ALLAH.

Kalau ada di luar sana, Emak-emak Sosialita yang belanja Tas Hermes yang konon berjuta-juta rupiah itu. Kita cukupkan dengan yang sederhana, namun nyaman dikenakan. Meski, kita pun mampu membelinya. Karena apa? Apalagi jika bukan Karena kesemua itu akan dihisab oleh ALLAH.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s