Mudik Kali Ini : Sepenggal Flash Back Aku dan Dewi

9e3577e637942d92f4eb58490c4bf8da
Sumber Gambar : Pinterest

Eh, nggak terasa ya sekarang udah masuk bulan Mei. SubhanALLAH, rupanya waktu bukan hanya bergulir, dan berjalan, namun terus berlari. Perasaan baru kemarin bulan Februari, eh kini sudah masuk bulan Mei aja. Antara sedih dan berbahagia rasanya, kalo boleh jujur.

Mudik kali ini banyak banget hal-hal yang berbeda di rumah Mamah, di Kampung Halaman. Tanggal 26 April kemarin, Mbak Aan melahirkan anak keduanya. Maa syaa ALLAH, Nadya jadi Kakak sekarang. Hihihi, pasti lucu ngebayangin anak 5 yo punya Adek? Namanya, “Nindya Padma Jaba”. Harus lahir melalui persalinan saecar, karena air ketuban sudah habis dan jalan lahir tertutup plasenta. A’la kulli haal.

Berbeda yang kedua, In syaa ALLAH, tanggal 3 Mei, Dewi akan melangsungkan akad nikah. Kalo yang ini sih antara sedih dan bahagia. Saat Mbak-mbak saya menikah, rasanya mah biasa aja. Karena usia kami terpaut jauh, membuat Mbak Aan dan Mbak Yayan terlihat sangat dewasa di mata saya. Jika mereka menikah, ya memang sudah waktunya melepas masa lajang. Karena kami gadis Indonesia. Kalo telat menikah, yang ribut Tetangga. Hehehe.

Tapi kalo Adik saya yang menikah? Lain lagi ceritanya. Usia saya dan Dewi hanya terpaut setahun. Jadi, ketika usia saya baru beberapa bulan, Mamah hamil lagi. Orang Jawa menyebutnya “Sundulan”. Karena jarak usia kami berdekatan, banyak yang menyangka saya dan Dewi kembar. Padahal kami nggak mirip blas. Dewi lebih banyak mewarisi gen Bapak, dan saya plek jiplek mirip Mamah. Kata Orang sih, cantik-manis gadis jawa. Huahaha, huweeek.

Yang bikin saya sedih dan agak mellow adalah, Adik saya yang ketika kecil sering saya aniaya, menjadi korban kenakalan dan kejahilan saya, yang selalu mengalah pada saya, yang jutek dan judesnya bikin emosi, yang super duper sensitif, menjadi teman bermain yang kompak, ah.. Pokoknya, kami selalu klop deh, meski lebih banyak berantemnya daripada akurnya. Karena Dewi mudah “Darah Tinggi” dan saya, orangnya isengnya kebangetan.

Ketika sama-sama duduk di bangku kuliah, kami menjadi semakin dekat. Sering menjadi teman bertukar cerita, curcol, dan teman jalan yang cocok habis. Dewi sering sekali berkunjung ke Jogja, lalu kami jalan-jalan berdua, masak bersama, ngerumpi, dan saling menasehati meski kadang ngotot-ngototan kalo nggak seiya sekata. Hehehe, dasar. Sama-sama keras kepala.

Meski lebih muda, Dewi lebih dewasa ketimbang saya. Di keluarga, saya cenderung cuek dan tidak ekpresif. Sebetulnya bukan nggak bisa ekpresif sih, cuma malu aja buat nangis-nangis di depan keluarga, buat mengungkapkan kasih sayang secara verbal maupun fisik, saya lebih sering mengungkapkannya diam-diam dan melalui tindakan. Sedangkan Dewi sangat ekpresif. Baik secara verbal maupun fisik. Seperti berkata, “Aku sayang Mamah..”. Kalo saya? Boro-boro. Saya menunjukkannya dengan tiba-tiba membelikan pulsa Orang Tua, telepon sambil ejek-ejekan sama Mamah, mengirim hadiah ke rumah. Padahal yaaah, di sini saya yo mewek-mewek, matanya basah, cuma jaim dan susaaaah banget buat mengungkapkan. Hihihi.

Beideiwei, ketika kami masih SD, Dewi nyaris tenggelam gara-gara saya ajak main ke daerah rawan banjir. Aduhh, trauma banget lah ngajak Dewi ke tempat-tempat berair. Karena Dewi lemah, penakut, dan Tyas kecil itu sengak, pemberani, dan nakalnyaaaa.. ampun deh. Ketika itu, daerah belakang rumah kami dilanda banjir besar. Nah, kami berdua mainlah ke rumah teman SD saya. Banjir kala itu sepinggang kami. Namanya anak-anak, tidak peduli dengan bahaya yang mengintai. Saya sok-sokan berenang, padahal, tangan satu menapak tanah, sisa badan mengambang sambil kecipak kecipuk. Saya kehilangan Dewi. Dewi rupanya sudah jauh berada di depan saya. Saat itu, arus sedang deras.

Oh.. Saya lupa mengingatkan Dewi, bahwa di depan sana, ada parit yang lumayan dalam. Saya panik luar biasa, karena debit air sedang tinggi. Saya melihat Dewi timbul tenggelam di parit, terseret arus. Saya lari terseok-seok hendak menyelamatkan Dewi. Yaiyalah, wong nggak bisa renang. Duh.. Saya ketakutan sekali. Saya lupa persisnya, apakah akhirnya Dewi ditolong orang, atau saya berhasil menarik tangan Dewi. Pokoknya, setelah Dewi selamat, kami berdua langsung pulang ke rumah dan saling berjanji nggak akan cerita ke Mamah. Walau ujung-ujungnya Mamah dikasih tahu warga, “Bu Rustamadji, putrane kala wau badhe kelelep..”. Habislah kami!

Flash back ke masa yang lebih lama lagi, saat itu saya duduk di TK Nol Besar, dan Dewi percobaan masuk di TK Nol Kecil. Karena Dewi pengen ikut sekolah juga. Nah, saat jam istirahat, kami berdua jalan bareng ke Kantin. Kami diberi uang saku Rp. 100,- untuk berdua. Ketika nyaris nyampe kantin, tiba-tiba kami berdebat tentang siapa yang akan pegang uang. Kami sama-sama ingin memegang uang tersebut. Dewi akhirnya merebut uang yang dipegang saya, dan merobeknya.

“Sreeet..” saya melompong, Dewi nangis, Mbak-mbak SMA histeris, “Ihhh..” kaget ada anak TK nyobek uang. Hahaha. Entah apa selanjutnya yang terjadi, yang jelas, pasti kami musuhan setelahnya, xixixi. Sejak saat itu, Dewi nggak mau masuk sekolah lagi. Tak lama, saya masuk kelas satu SD, Dewi masuk sekolah TK RA Mashitoh. Generasi awal keluarga kami yang bersekolah di Yayasan milik Islam. Dan saya generasi akhir yang sekolah di Yayasan milik Kristen.

Banyak sih kenangan-kenangan lucu dan ngeselin bareng Dewi. Sayangnya, sejak SMA kami terpisah jarak, karena sama-sama melanjutkan sekolah di luar kota hingga kuliah. Hmm, rasa harunya belum greget nih sekarang. Mungkin nanti pas menyaksikan akad nikahnya baru greget kali yak? Hihihi, ini sekarang saya lagi mau prepare buat mudik ke Cilacap Senin malam In Syaa ALLAH.

Wik.. Meskipun guweh nggak selalu bilang sayang dan care atau apalah apalah, tapi percayalah, selalu ada namamu dalam barisan doaku. Semoga, menjadi Istri yang shalihah ya buat Mas Apur. Semoga ALLAH lancarkan prosesi akad nikahnya yaa? Aamiin. Tunggu aku pulang!

~ Tyas Ummu Hassfi,

Yogyakarta, Mei 1, 2016 at 5. 34 pm

Jogja kala Maghrib…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s