Hai Dek, Happy Wedding Ya!

6377fd77b093d8bc304b477b7c3509a3
Sumber Gambar : Pinterest

Wuaaah, sejak tanggal 2 Mei kemarin berasa menjadi orang sibuk dan super ribet. Hehehe. Selasa malam, saya dan Suami akhirnya mudik ke Cilacap. Yeayy.. Alhamdulillaah. Kami berangkat jam 8 malem dari Jogja. Nyampe Cilacap sekitar pukul 1 dini hari. Lebih cepat dari biasanya.

Esoknya, tanggal 3 Mei, adalah hari paling bersejarah buat Dewik. Adek saya sekaligus partner on crime, xixixi. Pukul 04. 00, saya terbangun. Niatnya sih mau ke toilet, dan lanjut tidur lagi sampai adzan subuh, karena badan rasanya remuk setelah perjalanan jauh Jogja-Cilacap. Ternyata di ruang tengah, Bapak, Ibu dan Dewi sudah bangun, ngobrol seru. Setelah dari toilet, saya akhirnya tiduran, umpel-umpelan sama Dewi dan Ibu di kasur yang sengaja digelar di depan TV. Kami berempat ngobrol ngalor ngidul melepas kangen sampai adzan subuh berkumandang.

Pagi itu, aktivitas di rumah sibuk sekali. Ibu sibuk mendata siapa saja yang akan dikirimi sorogan. Bapak sibuk menerima tamu, dan Dewi sudah ke Salon untuk dirias. Sedangkan saya sibuk membereskan ruang tengah. Memindahkan kasur springbed ke kamar, dan jadi mandor alias ngatur ini itu, tunjuk sana tunjuk sini, Hohoho. Suami di kamar masih sibuk dengan pekerjaannya. Bukan tidur loh ya? Hihihi.

Jreng.. jreng.. Pukul tujuh teng, keluarga dari mempelai laki-laki sudah datang ke rumah kami. Pak Dhe Parman menjadi perwakilan keluarga sekaligus coordinator acara pernikahan Dewik, menyambut mereka. Keceriaan di ruang tengah mendadak berubah jadi tegang ketika Dewi telepon dari Salon, bahwa Akad nikah yang seharusnya dilaksanakan pukul 07. 30, diundur menjadi pukul 09. 30. Hal ini terjadi karena adanya miss komunikasi antara Penanggung Jawab acara Akad dengan pihak KUA.

Sifat dasar Ibu adalah mudah panik, dan cepat naik darah. Sebelas dua belaslah sama Dewi. Kepanikan mereka berdua berdampak pada seisi rumah. Hadeeeuh. Dewi turun dari mobil nyingsing-nyingsing jarik, wajahnya merah menahan tangis. Ibu dari dalem rumah tergopoh-gopoh, nanya ini itu. Akhirnya saya membawa mereka masuk ke kamar, dan meminta agar keduanya berbicara pelan-pelan. Maklum, orang Cilacap kalo ngomong itu cepet-cepet. Bayangkan, kalo lagi kalut kayak gimana? Hihihi.

Alhamdulillaah, setelah penanggung jawab acara Akad meminta konfirmasi ke KUA, Ijab Qobul akhirnya fix digelar pukul 09. 30 di Masjid Agung Al-Ikhlas, Gandrungmangu. Nah, ini menjadi perhatian banget buat temen-temen yang mau menikah. Sebelum hari H, harus sering berkomunikasi dengan Penghulu dan Petugas KUA yang mengurusi Akad Nikah. Supaya, tidak ada kejadian Penghulu datang terlambat, Acara Akad diundur karena ternyata bertabrakan dengan Akad orang lain, dll.

Saat-saat yang dinantikan pun tiba. Keluarga besar kami berkumpul di Masjid untuk menyaksikan Mitsaqan Ghalidzhan Dewik dan Mas Apur. Mas Apur berulang kali salah mengucapkan ijab saking groginya. Saya dan Suami cekikikan, karena Penghulunya ngelucu melulu. Ketika ijab terakhir, dan semua orang menjawab “Sah”, saya masih sempet ngeledek mereka. Namun, ketika tiba giliran sungkeman dan berpelukan, wuaaa.. benteng pertahanan jebol sudah. Saya dan Dewi menangis sesenggukan. Saat kami berpelukan, tiba-tiba kami merasa begitu kehilangan, sekaligus terharu. Saya merasa belum menjadi kakak yang baik untuk Dewik. Dan Dewik merasa belum jadi Adik yang berbakti kepada saya. Hahaha.

Ketika saya menikah, saya tidak menyaksikan langsung prosesi Ijab Qobul. Saya di dalam kamar kala itu. Baru keluar setelah sah menjadi Nyonya Alfarisy. 😀 Wekk, apasih? Jadi, saya tidak melihat ekpresi wajah Bapak dan Ibu. Namun, saat melihat Bapak menikahkan Dewik, sengaja saya menatap lekat wajah Bapak, dan.. hiks.. Mata Bapak basah. Bibir Bapak bergetar, dan napasnya cepat. Bapak menyembunyikan rasa harunya dengan tidak banyak berbicara saat itu. Ah.. saya jadi baper. Jadi paham banget, bahwa seorang Ayah, adalah Superhero bagi anak-anaknya. Yang tidak banyak menunjukkan cinta dan sayangnya lewat kata-kata. Terima kasih Bapak! Kami bahagia menjadi putrimu.

Usai acara, kami foto-foto sebentar, lalu pulang. Si Bungsu Ria, baru nyampe rumah, eh.. dapet kabar, katanya Icha udah nyampe Stasiun Sidareja sama Mas Korin. Qadarallaah, Mbak Yayan sekeluarga nggak bisa mudik, karena baru keluar dari Rumah Sakit, kena Demam Berdarah. Si Kecil Claudia juga ndilalah kena radang tenggorokan. Dan Mas Willy sedang tugas ke Singapura. Akhirnya, cuma Icha yang bisa mudik. Dijemput Pak Dhenya. Kata Icha, “Mamah, waktu Tante Tyas nikah kita nggak bisa dateng. Masa Tante Dewi nikah kita juga nggak dateng? Kita kan keluarga Mah.. Nggakpapa deh, aku ke Gandrung sendiri. Boleh ya Mah?” Ibu mana yang tidak meleleh anaknya merajuk begitu? Maa syaa ALLAH Kakak Icha, sayang banget sama Tante-tantenya. Eh, apa karena pengen naik kereta api tuh? Hihihi, Barakallahu fiik Nak..

Hari Kamis, 05 Mei 2016 adalah resepsi pernikahan Dewik dan Mas Apur. Hadeuh, saya dan Suami lebih banyak di kamar karena kegerahan. AC mati, karena remotenya mendadak hilang entah dimana? Kipas anginnya juga sudah sepuh. Lengkap sudah. Tamu yang datang kala itu Maa syaa ALLAH, banyak sekali. Suasana jadi sumpek banget. Belum lagi hingar bingar musik, dan suara MCnya yang pake bahasa Kromo Inggil kuno mengganggu pendengaran, karena Dewi menggunakan adat Jawa.

Pada momentum resepsi inilah, ALLAH kembali mempertemukan saya dengan keluarga besar kami. Saya bisa bersua dengan Paman-paman, Budhe, dan Sepupu dari Kebumen. Juga dengan keluarga lainnya yang sudah sangat lamaaa sekali tidak berjumpa. Ada rasa rindu dan haru yang menyapa. Rasanya aneh, melihat mereka kini telah menua. Terakhir kali melihat mereka, saya masih SMA atau Kuliah semester awal. Saat mereka masih terlihat bugar dan muda. Maa syaa ALLAH, begitu cepat waktu menelan kemudaan mereka. Oh ya, Paman dan Budhe syok melihat penampilan saya sekarang. Budhe sampe narik-narik cadar saya waktu meluk saya.”Opo iki Nduk.. Copot tho, Budhe kangen pengen ndelok rupamu..”.

Yahh.. ceritanya panjang banget yak? Hihihi, maapkan. Maklum, saya tidak ingin melupakan momentum mudik dan pernikahan Dewik kemarin. Saya ingin menulis sejarah sepanjang mudik kemarin, agar kelak, ketika sudah menua (Jika ALLAH beri umur panjang, dan moga-moga WordPress enggak terbenam deh) bisa menunjukkan cerita ini pada pelaku di dalamnya atau anak-anak kami. Mengingatkkan kenangan yang pernah kami lalui bersama.

Oh ya hampir lupa, Mbak Aan qadarallah nggak bisa pulang. Karena, pasca melahirkan melalui persalinan Caesar. Jadi, belum bisa duduk lama-lama di kendaraan dari Cilacap-Gandrungmangu. Apalagi Dedeknya Nadya, masih merah. Khawatir stress karena rumah Ibu sedang rame orang. Akhirnya, Cuma Nadya dan Papanya yang datang. Hehehe, Nadya masih seperti dulu, kalo ketemu Tante, awalnya mah malu-malu kucing, lama-lama berisik banget. Maa syaa ALLAH, barakallahu fiik Mbak Nad..!

Ada lagi yang ketinggalan. Btw, saya syok melihat keponakan kesayangan, Tegar, sekarang tingginya sudah melampaui saya! Yaa ALLAH, antara deg-degan dan sebel. Karena, Tegar sudah menunjukkan gejala masuk masa Puber. Suaranya yang dulu cempreng, sekarang jadi lebih ngebass. Bener-bener syok deh. Padahal, dulu kalo ketemu Icha suka berantem, nangis, dan berlindung sama Tantenya. Sekarang, udah gede, dan berbalik jadi melindungi Tantenya dan Icha. Aaa.. saya sebel, belum puas menghabiskan masa kanak-kanak Tegar. Agak dagdigdug juga waktu Tegar kemana-mana sama Icha. Aduhh, gimana ya, meski mereka berdua sepupu, tapi kan udah bukan bocil lagi. Lebih-lebih, Icha juga udah mulai beranjak gadis. Saya jadi merasa tua. 😀 😀 Eh iyaaa, Adeknya Tegar, Delika (16 mo) Maa syaa ALLAH, enggak rewel lho waktu digendong saya. Sempet pesimis dia takut liat saya yang serba tertutup.  Alhamdulillaah, ternyata enggak. Duuh, kalo begini jadi kangen pengen mudik lagi.

Waduuh, makin panjang yak? Hihihi.. ^^v

Hai Dek! Happy Wedding ya? Dek Dewik dan Mas Apur, “Barakallahu laka wa Baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khairin.” Semoga jadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah ya Dek? Jadi Istri yang shalihah dan qana’ah yaa? Semoga, meski udah punya kehidupan masing-masing, kita masih kompak kayak dulu, masih suka curhat, dan koplak-koplakan bareng, tukeran daster, dan lain-lain.

Sorogan : Besek yang berisi makanan dan kertas undangan. Di daerah saya, sorogan lazim digunakan untuk mengundang orang pada acara hajatan. Biasanya, orang yang di-sorog tidak enak hati jika tidak datang. Atau minimal, jika benar-benar tidak bisa datang, biasanya mereka nitip amplop.

~ Tyas Ummu Hassfi,

Yogyakarta, 9 Mei 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s