Ini Tentang Baper!

Lg-ngeyutube-malah-baper-D-Regram-@erwinrewin-dagelan
Sumber Gambar : Google Images

Baper alias Bawa Perasaan, kalo nggak dikontrol emang rada-rada bahaya buat kesehatan hati dan psikis. Kata Mbak Ath, “Baper adalah kondisi dimana keadaan kita berbeda dengan orang lain”.

Kemarin, menyimak dengan serius nasehat-nasehat Mbak Ath di grup Whatsapp soal baper ini. Setelah dipikir-pikir, dan diingat-ingat, ternyata saya orangnya lumayan baper, hahaha. (Huss! Ketawanya yang elegan dong.. ‘Hihihi’ kek..)

Sengaja saya unfollow beberapa akun yang bikin baper. Karena semakin sering berseliweran di home, maka hati berubah mellow sejadi-jadinya. Mungkin hati saya kurang nutrisi dzikir kali ya saat itu? Jadi malah senewen liat orang lain berbagi ini itu tentang hal yang membuat saya baper di timeline-nya. Padahal, kenal juga enggak? ‪#‎eh‬

Zaman dulu kala, saat masih lajang, liat temen seangkatan atau adik tingkat nikah, langsung baper. Bertanya-tanya, ‘kok aku belum laku-laku ya?’, liat temen ngajar, lanjut study, seketika merenung, ‘kenapa ya aku nggak diijinin ngajar lagi? Hiks.. Hiks..’, Suami masih kenyang, disangka ndak suka masakannya, sampe ngambek dan ngrikikiti kuku. Pokoknya, ndak ada berhentinya mah kalo dituruti bapernya.

Nah, ternyata, pikiran dan perasaan negatif yang ditimbulkan karena baper ini, adalah akibat hati kita kurang gizi. Timbangan dzikirnya berada di bawah garis merah. Sibuk dengan urusan orang lain. Dan kurang rasa syukur.

Hati yang lalai dari dzikir, memang membuat pelakunya mudah galau dan gelisah. Setan memanfaatkan momentum ini untuk menghembuskan kesedihan di dalam hati. Membuat kondisi dirinya seolah amat malang, dan berbeda dari orang lain.

Baper tidak baik jika terus dipelihara. Mengusir baper hanya dengan duduk diam, dzikir dari pagi sampai petang tanpa melakukan apapun juga kurang tepat. Menghalau baper yang datang dan pergi seenaknya, bisa kita lakukan dengan menambah aktifitas yang positif. Sehingga, hati kita sehat, waktu dan tenaga kita pun menjadi lebih produktif.

Jika belum pulih benar, maka langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengenyahkan pemicu baper. Misal, meng-unfollow akun-akun pemicu baper. Menghindari barang, orang, atau apalah apalah yang bikin baper untuk sementara. Sampai kita yakin benar, bahwa hati kita telah sehat kembali, pikiran kita positif, dan jiwa kita produktif. Jadi, nggak ada lagi tempat untuk baper.

Bye bye Baper..

“Bila di hatimu tidak ada kelezatan yang bisa kamu dapatkan dari amal yang dilakukan, maka curigailah hatimu..” (Ibnu Taimiyyah –rahimahullah-)

~ Tyas Ummu Hassfi,

Yogyakarta, 11 Mei 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s