Stress? Yuk, Nulis Diary!

diaryntea
Diary and Tea

Pernah marah, sebel, kesel, bete dan stress? Mungkin sebagian orang meluapkan semua perasaan dan pikirannya di dinding Sosial Media. Karena agaknya, dewasa ini buku Diary sudah tenggelam ditelan jaman. Terbukti, dengan banyaknya orang yang lebih sering curcol di facebook atau blog ketimbang menorehkannya pada buku Diary yang digembok rapat.

Ketika sedang bad mood, perang dingin dengan Suami, stress, dan sedih, saya menuangkannya pada buku Diary. Saya menuliskan apa saja yang mengganggu hati dan pikiran. Tidak malu bercerita apa saja disana tanpa khawatir privasinya terganggu. Meledakkan semua emosi yang membebani hati. Menulis mengalir saja, tanpa perlu memperhatikan EYD, dan aturan-aturan kepenulisan lainnya. Tanpa perlu sungkan akan dikomentari ragam simpati maupun solusi dari orang lain. Bukan berarti tak butuh, hanya saja, tidak begitu perlu.

Hasilnya? Ohh.. Luar biasa! Tetiba hati menjadi plong dan merdeka. Pikiran kembali postif, mood semakin membaik, badan menjadi lebih enteng, dan emosi jadi stabil. Saya mampu memaafkan keadaan yang awalnya terasa begitu penat. Saya bisa mengobati galau dan menerjemahkan segala rasa yang berkecamuk di hati melalui coretan di diary. Berlebihan? Ah, tidak juga. Jika tak percaya, coba saja mulai menulis diary.

“Lewat tulisan anda menemukan teman yang selalu menerima tanpa menghakimi, karena tulisan adalah keluarga yang selalu menerima..” (Anonim)

Iya, pena dan buku adalah jalan untuk menemukan teman bicara yang selalu menerima tanpa menghakimi. Ketika kita bercerita segala resah kepada orang lain, tak selalu berbuah kelegaan. Namun terkadang, hanya menghasilkan sebuah penghakiman atas keadaan yang menimpa kita. Tidak selamanya orang lain memahami kita, meski mereka selalu berkata ‘aku mengerti’. Hanya tulisan-lah, yang benar-benar mampu menerjemahkan segala rasa di hati, tulisanlah yang mampu memahami tanpa protes. Dan tulisanlah, yang mampu mencetak sejarah kita tanpa segan.

Bagi saya, menulis Diary adalah terapi stres. Ketika menulis, saya bercerita secara jujur tanpa perlu sungkan atau malu. Menulis membuat saya lebih bijaksana, dan jeli dalam menghadapi masalah. Saya jadi bisa belajar untuk berkompromi dengan setiap masalah yang ada. Lambat laun, membuat saya menjadi lebih peka, dan tidak tergesa-gesa dalam memutuskan sikap. Tentu hal ini berdampak positif bagi kesehatan mental dan psikologis saya. Mengingat saya adalah tipikal orang yang rentan stress.

Namun, satu hal besar dan penting yang harus selalu kita ingat. Satu-satunya tempat bercerita, curhat, berkeluh kesah, adalah ALLAH. Satu-satunya cara menghilangkan beban hati adalah dengan mengiat ALLAH. Menulis, hanyalah sebuah terapi nyata setelah kita bermesra dengan ALLAH, dalam sujud panjang dan rapalan do’a-do’a di kesunyian. Bercerita kepada Suami ata Orang terpercaya hanyalah realisasi sebuah ikhtiar. Namun, menuliskan segenap yang kita rasa di media social, bukanlah sebuah cara yang tepat untuk dilakukan.

Jadi, yuk.. Menulis Diary. Barangkali suatu hari nanti ketika kita kembali membuka unek-unek yang berjubel disana, membuat kita tertawa dan menjadi orang yang merdeka dari tekanan batin.

~ Tyas Ummu Hassfi,

Yogyakarta, 12 Mei 2016

Save

Save

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s