Ngomongin Orang

Soal ngomongin orang, “Jika yang kamu katakan salah, maka jatuhnya fitnah. Dan jika yang kamu sampaikan benar, maka menjadi ghibah..”
 
Astaghfirullaah..
 
Terkadang, wanita itu emang talk active banget. Apalagi kalo lagi ngobrol sama sesama wanita, atau minimal sama Suami deh. Merembet kemana-mana ceritanya. Dari yang awalnya cerita di Warung harga gula pasir udah melambung naik, entah bagaimana bisa sampai pada pembicaraan, “Tau enggak, si Ibu A kemarin katanya baru mantu loh. Eh, menantunya… Bla.. bla.. bla..”. Atau, “Bu, si Fulanah itu loh.. Nggak pernah shalat. Boro-boro shalat, ke Masjid aja nggak pernah, endesbre endesbre..”

Yang namanya ngomongin orang, itu emang sedap. Apalagi kalau ada bumbu tambahannya, gurih-gurih asin. Belum lagi kalo langsung sret.. srett.. corat-coret di dinding pesbuk, wuihh lebih manis lagi. Seantero jagat maya bisa paham siapa yang lagi dibahas, siapa yang lagi disindir.
 
Jika ada yang merasa dizhalimi orang lain, atau tetangganya, mertuanya, dll, tahanlah jemari kita untuk tidak menyebarluaskannya. Apalagi perkaranya internal, cuma si pembuat status dengan Fulanah. Lalu ditulis kronologinya sedetail mungkin. Fotonya, nama akunnya, kontaknya, dll. Tidakkah ada cara yang lebih anggun dari itu? Tidakkah kita memikirkan dampak panjangnya bagi yang dimaksud? Ia adalah seorang muslim yang kehormatannya haram untuk dicemarkan. Sebagaimana kita, yang tidak akan lupa sampai mati jika nama baik kita dicoreng-moreng oleh orang lain. Boleh melakukan hal itu (Ghibah -red) jika tindakan yang dilakukan merugikan banyak pihak. Dan tujuan penyebarannya bukan untuk menjatuhkan martabatnya, namun agar bisa disikapi bersama dengan bijaksana.
 
Teringat teguran keras dari Suami ketika saya ngomongin orang yang gosipnya lagi nge-hit di media sosial, beliau berkata dengan wajah tidak suka, “Kamu suka nggak kalo Orang lain ngomongin kamu di belakangmu?”
 
“Tapi kan aku nggak sebut nama?”
 
“Meskipun nggak sebut nama, tapi kalo orang lain paham siapa yang sedang kamu bicarakan, itu artinya kamu sedang memakan bangkai saudaramu”
 
Jlebb.. Jlebbb.!
 
“Sanah minta maaf sama yang digosipin..”
 
Aarggggh.. rasanya itu nyesek dan bersalah sekali. Udah paham tentang larangan ini, kok yo lidahnya masih sering kepeleset ngomongin orang. Masih sering kepo kalo dengerin orang ngerumpi, malah nambah-nambahin bukannya ngingetin, “Stop.. Stop..! Agaknya pembicaraan kita lagi menjurus-jurus ke ghibah ini..”
 
Astaghfirullaah wa atubu Illaih..
 
Dalam majelis-majelis ilmu, kita sering mendengar seruan tentang larangan membuka aib orang, menyebarluaskan dan membicarakan aib-aib orang di depan umum, meskipun alasannya, “Yang penting kan nggak nyebut namanya?” Padahal, jika tidak memiliki kemaslahatan apapun dengan menceritakan keburukan orang lain, tetap saja, jatuhnya kepada ghibah.
 
ALLAH Ta’ala berfirman :
 
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada ALLAH. Sesungguhnya ALLAH Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)
 
Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya,
“Tahukah kamu, apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “ALLAH dan Rasul-Nya lebih tahu.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu tentang dirinya, maka berarti kamu telah menggibahnya (menggunjingnya). Namun apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah menfitnahnya (menuduh tanpa bukti).” (HR. Muslim no. 2589, Bab Diharamkannya Ghibah)
 
See.. Simak baik-baik perkataan ALLAH dan Rasul-Nya, betapa ghibah itu sebuah perbuatan yang buruk. Ghibah adalah tindakan dzhalim. Kadangkala, ghibah timbul karena hati yang berpenyakit, lisan yang panjang, dan pikiran yang dangkal lagi keruh.
 
Nah.. Mari teman-teman, mulai dari sekarang dikontrol lagi lisannya, supaya tidak tergelincir ke dalam pembicaraan yang sia-sia akibat ghibah ini (Duhh, inget baik-baik tuh Yas..). Meskipun, kita juga tak akan lepas dari pembicaraan orang lain. Tapi minimal, kita bisa menahan lisan dari ngomongin orang. Mulailah dari diri sendiri. Karena, apa yang keluar dari lisan kita, adalah apa yang ada di kepala dan hati kita. Seperti halnya teko. Ia akan menuangkan apa yang ada di dalamnya. Jika isinya buruk, maka yang keluar adalah keburukan. Demikian pula sebaliknya. Barakallahu fiikum.. ^^
 
~ Tyas Ummu Hassfi, Yogyakarta 15 Mei 2016
 
 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s