Mengapa Harus Bercerai?

divorce (2)

Lama tidak berjumpa dengan teman SD dan SMP saya. Seorang gadis berketurunan arab, berambut tebal, beralis tebal, dan berhidung mancung. Mencari laman facebooknya, kini seperti mencari jarum dalam jerami. Sulit.

Akhirnya, saya mencari Akun Suaminya, barangkali, terselip namanya di sana. Boleh jadi, nama akunnya telah berganti.

Ketemu. Tapi? Deggg..! Kok foto Suaminya bersama wanita lain, bukan teman saya? Saya perhatikan lamat-lamat, iya, kok bukan? Dengan siapa Suaminya ini?

Naluri kepo mulai lahir, seingat saya, dulu Fulanah pernah foto bersama Suaminya, dan terpasang di Album facebook Suaminya. Tapi semakin saya scroll ke bawah, ternyata, sudah tak ada lagi dia disana.

Mata ini tetiba menghangat. Dada saya terasa begitu sesak. Ada rasa perih yang mengiris-iris hati. Hingga saya menemukan sebuah jawaban mengejutkan dari “kekepoan” saya, yakni, mereka telah lama bercerai. Mungkin tepatnya, sejak Fulanah menutup akun Facebooknya, sekitar tahun 2011. Suaminya telah menikah lagi Agustus tahun lalu. Entah Fulanah?

Ada sebuah rasa yang entah bagaimana saya menyebutnya. Tak terjelaskan kata-kata, namun, mampu membuat hati ini turut merasakan sakit. Dalam dan perih. Jika bukan teman dekat, mungkin, saya tidak begitu sedih. Namun, karena mengenal kepribadiannya, pernah jalan bersama ketika sekolah dulu, pernah berantem, dan belajar di lingkungan yang sama, membuat saya dapat merasakan pahitnya sebuah perpisahan.

Entah dimana kini teman saya itu. Terakhir berkomunikasi, dia tengah dirawat di rumah sakit. Semoga ia sehat selalu. Dimanapun berada, ALLAH senantiasa menjaganya, dan mengganti yang hilang, dengan yang lebih baik. Terlepas dari apa penyebab perceraiannya, bukan hak saya untuk menguliknya lebih jauh. Saya hanya perlu memahami, bahwa perpisahan adalah jalan terakhir bagi mereka berdua. Dan ini pun, tak lepas dari takdir ALLAH.

***

Siapapun di dunia ini, tentu tak menghendaki sebuah perceraian dalam pernikahannya. Inginnya, sehidup semati, cukup menikah satu kali. Menghabiskan masa tua bersama, menjalani roda kehidupan bersama, saling menguatkan, memotivasi, dan mendoakan kebaikan satu sama lain.

Namun tak jarang, banyak sekali pasangan suami istri mengucapkan, “Ya sudah, kita bercerai saja!” ketika terjadi perselisihan di antara keduanya. Padahal, mengucapkan thalaq, tidak boleh sembarangan. Apabila telah jatuh thalaq sebanyak tiga kali, maka, mereka harus berpisah. Sekalipun tidak sengaja mengucapkannya, bercanda, atau sekedar ancaman saja.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Ada tiga perkara bila dilakukan dengan sungguh-sungguh, ia akan menjadi sungguh-sungguh. Dan apabila dilakukan dengan main-main, ia tetap menjadikan sungguh-sungguh: Nikah, thalaq, dan rujuk” (HR. at-Tirmidzi dan Sunan Ibnu Majah, Shahih)”

Perceraian bukan satu-satunya solusi perselisihan yang terjadi dalam rumah tangga. Problematika rumah tangga memang demikian kompleks. Namun, jangan menjadikan kata “Cerai” sebagai cemeti yang akan melukai banyak pihak. Menghancurkan kebahagian berbagai pihak. Yakni, anak-anak, kedua orang tua, dan keluarga besar lainnya.

ALLAH membenci perceraian, meski bercerai dibolehkan dalam Islam. Bercerai menjadi solusi paling terakhir, apabila menduga, bahwa jika pernikahan ini diteruskan, maka akan lebih banyak memberi kemudharatan bagi keduanya. Cerai adalah salah satu syariat yang ALLAH peruntukkan bagi sepasang Suami Istri yang sudah tidak sanggup lagi mempertahankan rumah tangganya. Dengan harapan, jika bercerai, keduanya kelak akan memulai kehidupan baru yang lebih damai dan tenang.

ALLAH Ta’ala berfirman :

“Jika keduanya bercerai, maka ALLAH akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari limpahan karunia-Nya. Dan ALLAH Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana.” (Qs. An-Nisaa’ : 130)

Saya mengambil banyak hikmah dari apa yang menimpa Fulanah. Tetiba saya menjadi sangat mencintai Suami saya, dan berjanji dengan sungguh-sungguh, akan menjadi Istri terbaik untuknya. In syaa ALLAH.

Suamiku, maafkan segala kekuranganku, kesalahanku, keteledoran dan kecerobohanku selama ini. Semoga langkah kita senantiasa seirama, meski sesekali harus terhenti karena tersandung kerikil-kerikil yang tajam. Selalulah bersamaku, menjadi tempatku bersandar ketika penat menyapa, dan tempat berbagi, ketika segala rasa di hatiku ingin kuluapkan. Karena aku ingin, cinta kita hingga ke surga.. Sebab, waktu di dunia, tidak akan pernah cukup untuk kita lewati bersama.

Aku mencintaimu, Abu Hassfi Ubaidillah..

~ Tyas Ummu Hassfi, Yogyakarta 16 Mei 2016 Pukul 11. 58

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s