Jogja… Jogja… Jogja…

wajah-baru-malioboro-yogyakarta
Sumber Gambar : Google Image

“Kangeeen Jogjaaaa..” begitu kata banyak orang selepas meninggalkan Jogja. Jogja, kota berhati nyaman yang selalu terkenang. Kota perantauan bagi ribuan hingga jutaan Mahasiswa dan Pelajar dari seantero Nusantara, makanya, dijuluki pula sebagai kota Pelajar.

Sejak kecil, saya bercita-cita ingin menjadi orang Jogja. Ingin tinggal di Kota Gudeg selamanya. Makanya, selepas SMA, tepatnya tahun 2009, saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Jogja. Merealisasikan cita-cita masa kecil yang masih terukir manis di ingatan hingga sekarang.

Kebanyakan orang akan membayangkan, bahwa Jogja itu identik dengan budaya Jawa yang gemulai. Rumah-rumahnya masih berbentuk bangunan kuno. Lingkungannya masih asri dan sejuk khas pedesaan. Gadis-gadisnya kemayu dan lugu, mengenakan rok selutut, rambut dikepang dua, ngomongnya medhok, serta para Simbok dan Pak’ne mengenakan baju jadul, berkebaya atau mengenakan blangkon dalam keseharian. Ah, pokoknya, Jawa banget deh.

Realitanya? Itu semua hanya ada di FTV. Hehehe. Kota Jogja tidak setenang dulu. Dari waktu ke waktu, jalanan mulai padat, bangunan baru berupa kos-kosan, kontrakan, hotel, pertokoan, rumah makan, dan mall-mall mulai banyak bermunculan. Berjejal-jejal, hingga nyaris sedikit sekali tersedia lahan kosong. Jika pun ada, harganya sudah selangit. Mahal sekali. Ruas jalan di pusat kota, mulai ramai dipenuhi kendaraan berpelat non AB. Hingga pada jam-jam sibuk, yakni pukul tujuh pagi, dua belas siang, dan pukul setengah lima sore, kemacetan mengular dimana-mana.

Sempat kecele sih saat pertama kali tinggal di Jogja. Kecelenya yaitu, karena saya tidak menemukan suasana pedesaan seperti yang digambarkan di layar kaca. Pasalnya, kost saya dulu berada di pusat kota. Maka yang saya dapat, adalah kebisingan kendaraan dan aktivitas sosial di luar kost.

Ternyata, suasana khas pedesaan di Jogja hanya terdapat di daerah tertentu Seperti pelosok Bantul, pelosok Kaliurang, Gunung Kidul, Kulonprogo, dll. Bukan di Jogja-nya. Kini, sudah tidak didapati lagi gadis-gadis Jogja yang polos nan syahdu. Mereka, telah bermetamorfosis menjadi gadis-gadis masa kini. Yang modern dan gaul. Pun, Bapak-bapak maupun Simbok, tidak ber-blangkon atau berkebaya dalam aktifitas sehari-hari. Repot! Yang masih mengenakannya kini tinggal Nenek-nenek penjual Rempah dan Jamu di Pasar Kranggan, atau Kakek-kakek yang sudah sepuh.

Mengapa Jogja begitu dielu-elukan banyak orang? Apa sih enaknya Jogja? Apa sih istimewanya Jogja? Kalau bagi saya pribadi, Jogja nyaman menjadi tempat tinggal karena semuanya murah meriah disini. Mulai dari makanan, hingga perkakas rumah tangga. Bagi anak kuliahan, Jogja cocok untuk yang berkantong nge-pas. Lima ribu rupiah, sudah bisa sarapan Nasi Kucing Sambel Teri, Gorengan, dan Es Teh.

Selain harga-harga, masyarakat Jogja cenderung terbuka terhadap pendatang. Itulah mengapa, orang Jogja ramah-ramah. Toleransi dan tenggang rasanya kuat. Sikap kekeluargaan begitu terasa apabila kita dapat menempatkan diri. Orang Jogja grapyak dan rukun-rukun. Meski kadang ada tipe-tipe Pemilik Kos atau Kontrakan yang bawelnya minta maaaaf, namun, itulah dinamika sosial di tengah masyarakat Jogja. Yang kini semakin heterogen, karena sudah bercampur dengan pendatang dari berbagai penjuru daerah.

Yang keren dari kota Jogja, Kampus Negeri maupun Swasta bak Jamur yang tumbuh dimana-mana. Kampus favorit dan keren di Indonesia, juga ada di Jogja. Yakni, Universitas Gadjah Mada. Kampus kerakyatan katanya. Uniknya kampus UGM ini, lahannya luas sekali. Membelah jalan-jalan umum. Sehingga, rakyat Jogja, bisa muter-muter kampus UGM. Kampusnya asri, dan rimbun sekali. Berdampingan dengan ex FKIP UGM, yaitu Universitas Negeri Yogyakarta.

Selain UGM dan UNY, adalagi Kampus Negeri di Jogja, UIN Sunan Kalijaga yang berlokasi di Jalan Solo, deket-deket Mall Ambarukmo Plaza dan Bandara Adi Sucipto. Atau kampus swasta, seperti Universitas Islam Indonesia, Universitas Muhamadiyah, Universitas PGRI Yogyakarta, UPN, UAD, dan masih banyak lagi.

Apalagi ya yang enak? Mmm, oh iya, sarana transportasi publik yang bejibun banyaknya di Jogja. Lengkap. Bus Kopata, Trans Jogja, Taksi, Becak, Andong, hingga Taksi Motor. Semuanya, dapat diakses dengan mudah. Meski, kondisi Trans Jogja kini sudah menua, mulai batuk-batuk dan ringkih. Asap hitamnya kadang membuat pilu. Untung saya sempat menjajal Bus Trans Jogja ketika masih muda. Sekitar tahun 2009, waktu belum bawa motor. Dulu ACnya masih dingin. Kini? Hmm, tidak jauh berbeda dengan kondisi bus Kopata yang sudah saatnya pensiun. Hiks.

Di Jogja, banyak sekali obyek wisata yang dapat dikunjungi tanpa harus menguras kantong dalam-dalam. Seperti Pantai-pantai di Gunung Kidul, Pantai Parangtritis, Samas, dll. Belum lagi banyak bukit-bukit yang menyuguhkan pemandangan eksotik, serta beberapa bangunan bersejarah yang banyak dijumpai di pusat kota Jogja, seperti Keraton Yogyakarta, Benteng Vrenderbug, Taman Sari, Monumen Jogja Kembali (Monjali), dll.

Oya, ada hiburan yang buka setiap malam di Alun-alun Kidul, yakni sepeda onthel yang sudah dimodifikasi berbentuk mobil, becak, pesawat, yang dihiasi lampu-lampu dan lampion. Tapi saya belum pernah naik sih, kepengen, tapi sungkan mau minta ke suami. Hihihi. Atau, ke Taman Pelangi, yang buka setiap malam di Monjali. Bagus-bagus sih, cuma kalo mau bawa anak-anak kesana, kurang direkomendasikan, karena biasanya banyak muda-mudi yang nggak malu-malu pacaran disana. -_-“

Setiap hari ahad, Lembah UGM mendadak menjadi pasar tumpah. Orang-orang menyebutnya Sunday morning. Sunday morning menjual beragam barang untuk mahasiswa dan ibu-ibu. Juga banyak tersedia stand-stand penjual jajanan pasar dan sarapan pagi. Jadi, biasanya, sehabis jogging di GSP (Grha Sabha Pramana) UGM bisa mampir ke Sunday Morning untuk sarapan atau cuci mata. Pasti banyak ex Mahasiswa Jogja yang kangen ke Sunmor deh? Saya yang masih di Jogja aja suka kangen pengen ke Sunmor. Hehehe.

Sebetulnya, hal yang disuguhkan Jogja bagi penghuninya adalah, suasananya yang damai. Suasananya yang bagaimana ya cara menjelaskannya? Pokoknya, susah dijelasskan dengan kata-kata. Rasanya, hawanya, suasananya, orang-orangnya, sangat berbeda dengan kota-kota lainnya. Mungkin yang pernah tinggal di Jogja bisa merasakan apa yang saya maksud. Hehehe.

Oh iya, satu lagi yang membuat saya amat berat meninggalkan Jogja adalah, kajian Sunnah banyak bertebaran dimana-mana. Sampai-sampai, kami bingung mau ikut kajian yang mana, saking banyaknya. Salah satu kampung di Jogja yang sangat saya rekomendasikan untuk ditinggali bagi Mahasiswa baru (Khususnya Maba UGM dan UNY) adalah Kampung Pogung.

Kampung Pogung terletak di sebelah utara Fakultas Teknik UGM. Wisma tempat saya tinggal dulu terletak di Pogung Dalangan. Suasana yang disajikan sangat menentramkan dan kondusif untuk belajar. Karena, disinilah, banyak para penuntut ilmu syar’i berbondong-bondong menimba ilmu.

Teman-teman akan mendapati banyak wanita bercadar, Adek-adek Kecil Berjilbab atau berseragam TPA, laki-laki bercelana cingkrang dan berjenggot  berlalu-lalang disini. Masjid-masjidnya, seperti Masjid Pogung Raya (MPR), Masjid Pogung Dalangan, dan Masjid Al-Ashri selalu penuh oleh jama’ah shalat. Tidak heran, Pogung sering disebut-sebut Kampung Santri, bahkan Kampung Islami. Maa syaa ALLAH.

Sampai-sampai, saya bertekad ingin membeli property di Pogung. Tapi, apalah daya, harga property di Pogung, sudah selangit, setiap tahun, harga sewa kontrakan selalu naik gila-gilaan. A’la kulli haal.. Semoga ALLAH mudahkan, semoga ALLAH beri jalan. Aamiin.

Nah.. Buat temen-temen yang mau ke berkunjung ke Jogja, hati-hati ya? Karena kangen sama Jogja, bikin pengen balik lagi, balik lagi. ^^

Advertisements

10 thoughts on “Jogja… Jogja… Jogja…

  1. Setujuu sama postingan mba ^^.. Hehe..
    Tapi sekarang (akhir-akhir ini) di atas atau daerah sekitaran UII banyak terjadi tindak kejahatan. Bikin khawatir dan jadinya sore hari harus udah ada di kos, kayaknya rawan kalau sore masih jalan-jalan di luar. Semoga bisa kembali lagi kayak dulu.. Biar keluar rumah dan ada keperluan itu tenang, apalagi mau ikut kajian di bawah yang biasanya sore hari ya kalau hari2 biasa.

    Like

    1. Iya Mbak.. Wah, emang ada insiden apa Mbak di atas? Malah kudet… hihihi..

      Agaknya, ramadhan kajiannya ada beberapa yang diliburkan Mbak.. Tapi belum rilis jadwal2 terbarunya… hehehe

      Like

      1. Banyak mba… Maksudnya banyak info tindak kejahatan kayak begal, pemerkosaan. Kejadiannya ada yang sore dan kebanyakan malam.
        Setiap hari dapet info kayak gitu di grup angkatan ><.

        Oh iya ya mba.. di UII juga sama kajian yg sore harinya diliburkan, hehe

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s