Menikahlah

c6f52c019e91ed2ae753e2601a01d2e4

Pernah saya bertanya pada seseorang, “Apa bedanya setelah menikah dan sebelum menikah?” (yang ditanya telah berpacaran bertahun-tahun lamanya sebelum menikah). Jawabannya sungguh di luar dugaan, yakni :

“Biasa aja. Yang ngebedain cuma statusnya aja. Dulu pacar, sekarang udah suami istri.”

Ketika saya bertanya pada orang lain yang tidak melalui proses pacaran, ia menjawab, “Beda banget Mbak. Dulu apa-apa sendiri, sekarang semuanya harus dikompromikan dengan Suami. Dulu mau chit chat sama siapa aja bebas, sekarang ada hati yang harus dijaga.”

Sebagian orang berpikir, penjajakan dan pengenalan calon melalui pacaran adalah sebuah keharusan. Kalo ndak pacaran, gimana mau tahu calon istrinya? Keluarganya? Blablabla.

Padahal Islam telah menetapkan syariat mudah bagi sepasang muda-muda yang siap menikah, untuk mengawali proses pernikahan dengan cara yang benar. Yakni ta’aruf.

Orang yang berpacaran beranggapan, bahwa dengan pacaran bertahun-tahun lamanya, akan membuat mereka saling mengenal satu sama lain. Semakin dekat, dan semakin banyak tabungannya. Dalam syariat islam, mungkin yang tepat adalah, tabungan dosa.

Sebagian orang berpikir, dengan menunda menikah, mereka bisa meraih kemapanan sedari muda. Mereka sibuk menumpuk harta, yang konon untuk bekal acara sehari, dan berdiri dua jam di pelaminan sembari menyalami tamu yang entah kenal entah tidak.

Sebuah pemikiran yang keliru. Menikah memang butuh uang. Namun, bukan berarti harus membiarkan seorang gadis yang masih muda merekah, lapuk ditelan usia karena lama menanti dihalalkan. Jika belum mampu menikahi, maka jangan mendekati mutiara. Mengumbar janji akan menikahi dalam tenggat waktu bertahun-tahun ke depan. Mem-bookingnya, dan meninggikan harapannya.

Jika butuh akan keberadaan seorang Pendamping, maka menikahlah. Tidak perlu memasang target tinggi-tinggi untuk sebuah acara sehari. Menikahlah dengan acara sesederhana mungkin. Sambil mendaki, mencari pencaharian yang halal untuk membangun pundi-pundi ekonominya kelak.

ALLAH akan mencukupkan rezeki kita setelah menikah. ALLAH akan mengkayakan kita dengan menikah. Itu janji ALLAH. Dan saya, telah membuktikan janji ALLAH. Bahwa ALLAH memberi kecukupan dalam pernikahan kami. Baik secara materi, maupun selainnya.

Saya tidak bermaksud menyindir, apalagi menghakimi orang yang berpacaran. Saya hanya ingin mengajak teman-teman untuk berpikir dan merenungi bersama. Bahwa pernikahan adalah sebuah perkara yang agung dan suci. Pernikahan adalah ibadah menuju keridhaan ALLAH. Bukan sekedar pemanis hidup belaka.

Orang yang sudah bertahun-tahun pacaran, lalu menikah. Gregetnya sudah tak adalagi. Bunga-bunga asmaranya telah layu sebelum berkembang. Sederhananya, rasanya sudah hambar. Karena sudah terbiasa melakukannya sebelum menikah.

Coba bandingkan dengan mereka yang berpacaran setelah menikah. Ada sensasi grogi, melting, malu-malu kucing, sungkan, deg deg degan, rindu yang teramat sangat, semua rasa bermekaran seperti tunas yang baru tumbuh semalam. Terus tumbuh, hingga menjadi pohon yang rindang dan berakar kuat. Sedangkan orang yang lama berpacaran, pohonnya telah lapuk, karena buahnya telah dipetik sebelum matang.

Teman, jika kini kamu masih berpacaran, jangan takut untuk memutuskan pacarmu dan bertaubatlah kepada ALLAH. Jika kamu meninggalkan sesuatu karena ALLAH, In syaa ALLAH akan diganti dengan yang lebih baik. ALLAH Maha Penyayang dan Pengampun. Jangan takut tidak laku. Kamu hanya perlu sedikit bersabar untuk menjadi seorang Istri. Pikirkanlah dalam-dalam, bagaimana jika pacarmu, bukan jodohmu? Bukan perasaan dia yang harus kamu ingat, namun, perasaan Suamimu kelak. Ya, lelaki yang benar-benar mencintaimu di jalan ALLAH. Bukan lelaki pengecut yang memiliki seribu alasan untuk maju meminangmu. Karena tidak ada solusi bagi dua orang laki-laki dan perempuan yang saling mencintai selain pernikahan.

~ Tyas Ummu Hassfi Ubaidillah,

Yogyakarta, 15 Mei 2016

Advertisements

2 thoughts on “Menikahlah

  1. Orgtuaku ga setuju kalo dgn cara taaruf, mbak. Karena bbrpa kali taaruf, di ikhwan tidak memenuhi komitmen kami. Ada jg yg dikenalin temen ngaji tapi trnyata ikhwannya fiktif. He he.

    Bersyukur Lah buat sahabat2 yg meraih separuh Dien – nya dengan cara ideal sesuai syariat. Doakan sy segera menyusul. Hehe.

    Nice blog, ummi. Smoga berkah.

    Like

    1. Maa syaa ALLAH.. Barakallahu fiik.. Mungkin ke depannya, perlu mempertimbangkan untuk mencari wasilah yang bisa dipercaya ya Mbak? Supaya nggak terulang lagi. Tetap berbaik sangka pada ALLAH, In syaa ALLAH jika sudah masanya, pasti akan dipertemukan dengan orang yang tepat. Sekarang mah, persiapkan diri dulu sebaik-baiknya dan tetep istiqomah untuk menikah tanpa pacaran ya Mbak? Yassarallahu lakii… Semoga ALLAH memudahkanmu.. Aamiin.. ^^

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s