Jangan Sembarangan Menyebar Screen Shoot!

s2
Sumber Gambar

Gimana perasaan temen-temen kalau percakapan pribadi di private messages di-screen shoot lalu disebarluaskan di dunia maya? Sebel, kesel, marah, malu, tidak ridho? Yap.. semenjak Smartphone mengeluarkan fitur berupa screen shoot, kini orang dengan mudahnya me-SS apa saja yang muncul di layar smartphone-nya, kemudian belakangan marak SS bertebaran di laman media social.

Apapun tujuannya. Seperti, bukti penipuan, bukti pertengkaran, berisi percakapan romantis Suami Istri, seseorang pinjam uang, kekerasan verbal, hingga hal remeh temeh lainnya yang dianggap sebagai bahan lelucon. Untuk yang terakhir, hal remeh temeh yang dianggap sebagai lelucon, belum tentu loh lawan bicara yang percakapannya di-SS ridha? Apalagi, pergerakan media internet itu luar biasa cepat sekali. Meski, yang me-SS berpikir, “Buat lucu-lucuan..”.

Beberapa hari terakhir ini, ada SS yang menjadi viral di media social. Yakni, seorang akhwat yang menawarkan diri untuk melamar seorang Ikhwan via whatsaap. Ketika membaca, kening saya berkerut. “Yang kayak gini kok di-SS sih?” lalu saya sodorkan hp pada Suami. Reaksi Suami? Beliau sangat terkejut dan berkata, “Harusnya, percakapan seperti itu nggak di-SS apalagi disebarluaskan di dunia maya. Kalo akhwatnya tau isi percakapannya di-SS, pasti malu bangetlah, dan nggak ridho. Yang nyebarin SS juga… Adabnya kurang. Kalo berniat menasehati, kan bisa pake gambar lain? Bukan SS percakapan pribadi seperti itu.”

Iyap, sepakat dengan apa yang dikatakan Suami saya. Apabila tidak ada kemaslahatan ketika mengunggah SS percakapan dengan orang lain, mbok tahan diri untuk tidak mengunggahnya di media social. Kita semua memahami, bahwa media social memiliki kekuatan yang sangat besar untuk menghancurkan seseorang, atau meroketkan seseorang. Entah baik atau buruk, siapa saja yang berurusan dengan media social, akan menuai hasilnya. Baik cemoohan, pujian, bullying, atau pembunuhan karakter. Tidak enak rasanya menjadi pembicaraan dimana-mana.

Boleh mengunggah SS percakapan pribadi dengan orang lain, apabila terdapat keterdesakan dan kemaslahatan di dalamnya. Misal, berisi bukti penipuan, kekerasan verbal, dan berisi untaian nasehat. SS bukti penipuan bertujuan untuk memberi efek jera pada pelaku. Perlu diketahui, sanksi sosial di Masyarakat itu lebih dasyat dampaknya daripada sanksi kurungan. Dengan me-SS pelaku penipuan, dan banyak orang yang me-reshare postingan, maka kemungkinan besar akan sampai pula di telinga pihak berwenang. Nah, pelaku akan mendapat dua sanksi sekaligus. Yakni, social dan kurungan.

Tapi, kalau me-reshare SS yang berisi percakapan pribadi yang kita semua tahu, dan paham bahwa isinya enggak perlu disebar, ahsannya jangan ikut-ikut menyebarnya. Ingat, hal tersebut merupakan tindakan yang dzhalim. Membuat malu seseorang di hadapan khalayak. Membuat seseorang runtuh harga dirinyan. Lihatlah, akhwat yang semula ingin menawarkan diri, rela dipoligami, dan berniat untuk menjaga kehormatan dirinya -Maa syaa ALLAH amat langka-, harga dirinya menjadi dicabik-cabik karena percakapannya di-SS dan disebarkan. Niatnya begitu mulia, meski cara yang ditempuh, tidak sepenuhnya benar. Boleh jadi, karena ia belum tahu.

Dua hari belakangan juga hal serupa menimpa Suami. Beliau membuat status tentang pembagian Mushaf Madinah Gratis. Kebetulan, di rumah ada stok Mushaf yang peruntukkannya untuk diwakafkan. Karena stok tinggal sedikit, maka Suami berpesan agar statusnya tidak dishare. Bila ada yang berminat, sumonggo japri langsung pada Suami. A’la kulli haal, rupanya, banyak orang yang me-SS dan menyebarkannya di grup-grup whatsaap, dan timeline-nya tanpa ijin Suami. Alhasil, hingga hari ini Suami masih mendapat banyak SMS permintaan Mushaf tersebut. Padahal Suami sudah menegaskan, bahwa postingannya tidak boleh disebarkan.

Apa sih susahnya minta ijin? Apa sih susahnya menahan diri untuk tidak bermudah-mudahan menyebarkan berita? Mari kita renungkan bersama, menghargai hak orang lain adalah sebuah kewajiban. Demikian pula, menghargai privasi orang lain yang bersifat rahasia adalah keharusan setiap muslim. Sebagaimana kita tidak ridha jika privasi kita diusik, hak kita diabaikan, maka, mulailah dari diri sendiri untuk memperhatikan dengan seksama privasi dan hak-hak orang lain terkait pembicaraan-pembicaraan yang terjadi, baik antar individu maupun sekumpulan orang.

“Orang berakal wajib diam hingga tiba waktunya ia harus bicara. Berapa banyak penyesalan yang terjadi ketika lisan bicara, dan betapa sedikit penyesalan yang terjadi karena diamnya lisan..” (Ibnu Hibban dalam Raudhatul ‘Uqala)

Kita wajib menahan lisan dari menyebarkan berita yang bersifat pribadi. Termasuk me-SS percakapan via Private Mesagges dengan orang lain. Kalo mau SS, minta ijinlah pada lawan bicara. “Boleh enggak?” kalau tidak diperkenankan, maka kita wajib menahan keinginan untuk me-SS apalagi menyebarkannya. Apalagi kalo disebarnya di kalangan Ibu-ibu, luar biasa sekali pergerakan share-nya, dan luar biasa pula komentarnya.

Mudah-mudahan, kita bisa menjadi seorang Muslimah yang senantiasa menjaga privasi dan kehormatan saudaranya. Aamiin. Barakallahu fiikum. ^^

~ Tyas Ummu Hassfi Ubaidillah, Yogyakarta 19 Mei 2016 9. 59

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s