Sinetron + Kriminal + Berita = Sampah

crimeb
Sumber Gambar : Google Images

Yaa ALLAH, ngos-ngosan membaca berita pembunuhan dan pemerkosaan dimana-mana. Belum habis kasus Febi dan Yuyun, sudah muncul lagi kasus pembunuhan dan pemerkosaan terhadap Eno. Meski tidak mengenal korban-korbannya, namun sebagai seorang wanita, turut merasakan sakit dan perih. Sedih bangetlah T-T.. Kini nyawa dan kehormatan dihargai amat murah nilainya. Hingga siapa saja, seakan bebas membelinya dengan nafsu sesaat.

Kejam, labeling yang tepat untuk para pelaku pembunuhan dan pemerkosaan. Apapun yang melatarinya, mereka tetaplah penjahat yang berhak diganjar hukuman setimpal. Bukan hanya sanksi kurungan saja. Nyawa, tetaplah harus dibayar dengan nyawa. Saya awam soal hukum, namun senantiasa berharap, keadilan harus ditegakkan. Tidak peduli pelakunya masih di bawah umur. Toh, kelakuannya sudah di luar batas kewajaran, yang tidak lazim dilakukan anak-anak. Menghilangkan nyawa dan kehormatan itu bukan perkara main-main Jeung!

Semalam saya menangis tersedu-sedu saat membaca kronologis pembunuhan Eno –rahimmahallah-. Duh Gusti ALLAH, kemanakah perginya nurani segumpal daging bernama hati? Saya sangat terluka, dan berduka. Bisa apa? Mengumpat dan menghujat para pelaku tidak akan membuat mereka mati bukan? Hanya bisa mendoakan, semoga, para Pelaku mendapat hukuman mati. Ancaman hukuman kurungan seumur hidup, tidak dapat menebus kehilangan yang dirasakan kedua orang tua Eno. Pelaku bisa menghirup udara bebas, namun keluarga yang ditinggalkan, selamanya tak akan pernah sanggup mengobati derita kehilangan anak. Yang sedari kecil dirawat dengan sebaik-baiknya, setelah dewasa…. Ah.. tak sanggup meneruskannya lagi. 😥 Yaa Rabb.. Tempatkan Eno, Yuyun, Febi, dan wanita-wanita lemah lainnya di Jannah-Mu. Ampunilah kesalahannya, dan angkatlah derajatnya di sisi-Mu.

***

Dewasa ini, keadaan di sekitar sudah tidak aman lagi bagi anak-anak dan wanita. Ada saja berita yang mampir di telinga tentang tindak kriminal terhadap anak-anak dan wanita. Apa yang salah? Mengapa setiap menonton berita, lebih banyak menemui kasus-kasus menyeramkan di luar sana? Ketimbang prestasi remaja masa kini? Prestasi orang-orang dewasa yang membangun desa maupun Negara? Kriminal, kriminal, kriminaaal terus isinya. Bersyukur, di rumah saya tidak ada televisi. Paling tidak, bisa mengurangi sport jantung setiap hari.

Saya jadi merenung, mungkin pemicu terjadinya tindak kriminal yang marak kini disebabkan oleh beberapa hal, yakni :

  1. Pemberitaan kasus pembunuhan dan pemerkosaan nyaring terdengar di media elektronik maupun cetak.

Lihat saja, hampir setiap hari, kita selalu disuguhkan berita seputar pembunuhan dan pemerkosaan. Pelakunya, hanya diganjar kurungan paling banter lima tahun. Maraknya pemberitaan yang demikian, kronologisnya, cara membunuhnya, motifnya, terkadang merasuk ke alam bawah sadar seseorang. Cenderungnya mereka akan berpikir, “Alaaah, banyak juga kok yang memperkosa..”, “Kalo dipenjara, paling enggak ya lima tahun kurungan deh.”, dll. Intinya, mereka merasa tidak sendiri, dan bukan orang pertama yang melakukan kejahatan serupa.

Coba, kalo para pelaku tindak kriminal ditangkap, jika terbukti bersalah maka dihukum setimpal dengan perbuatannya. Misal, jika mencuri hukumannya adalah potong tangan. Jika memperkosa hukumannya adalah dikebiri dan dilempar batu hingga mati, jika korupsi potong tangan, jika membunuh pun harus diganjar dengan nyawanya pula, yakni dipenggal kepalanya. Dan semua hukuman itu, dilakukan di hadapan khalayak ramai, supaya memberi efek jera bagi orang lain yang berniat melakukan hal serupa. Kira-kira, akan membuat orang takut tidak untuk bertindak kriminal kalo konsekuensi hukumannya adalah seperti itu?

Kok kayak di Arab? Bukan kayak di Arab! Tapi, ini mengingatkan pada kita, bahwa hukum ALLAH itu menyimpan hikmah yang luas. Hukum ALLAH itu jauh lebih adil daripada hukum yang dibuat Manusia. Sederhananya, hukum manusia itu lemah. Dibuat oleh manusia, sesuai dengan kepentingannya. Pernah kah kita merasa marah, ketika ada maling Ayam dipenjara lima belas tahun lamanya, namun pelaku Korupsi hanya di kurung selama hitungan bulan? Padahal Koruptor itu mencuri uang Negara loh? Bisa buat beli Ayam ratusan kontainer. Yang begitu adil? Tidak kan?

Katanya sih, berita tanpa kriminal itu tidak akan laku. Karena berita kriminal itu ya nyawanya Surat Kabar maupun Media Elektronik. Yahh.. Kalo benar begitu, matikan TV. Baca berita di media internet, meski kadang juga isinya ngawur. Modal kepo di Facebook korban, modal baca komentar temen korban, lalu dibumbui asumsi pribadi pembuat berita. Hhh, kok berasa berita itu sekarang isinya sampah semua ya? Paling tidak, kalo nemu berita sampah di Internet kita bisa menfilter. Daripada nonton berita di TV, anak-anak ikut nonton, malah bikin trauma si Anak.

Karena dulu pernah banget, waktu masih kecil, sepulang sekolah saya nonton berita “Patrol*”, “Bus*r” di TV, dll tentang seorang Ayah yang memperkosa anaknya. Nah, saya yang biasanya kalo mau tidur ditemenin Bapak, tidurnya itu sampai nempel banget ke tembok nggak mau deket-deket Bapak. Nggak mau dianter sekolah sama Bapak. Takut. Melihat anaknya menjadi menjauhinya, Bapak menelusuri sebabnya. Bapak menasehati saya bahwa beliau tidak akan menyakiti saya. Sejak saat itu, kami semua (anak-anak Bapak –red) dilarang menonton berita tanpa pengawasan Bapak atau Mamah.

  1. Tayangan di televisi, menampilkan adegan kekerasan pada wanita dan anak-anak, menyuguhkan sosok preman dan penjahat di dalamnya.

Sampah! Sekian lama tidak melihat televisi, membuat saya tidak melihat sinetron maupun acara hiburan yang banyak ditanggap di layar kaca. Ketika mudik kemarin, iseng-iseng menonton televisi. Cuma pengen tahu, kayak apa sih acara yang disuguhkan sekarang?

Jreeeeng! Syok. Isinya, Iklan yang nggak selaras dengan Produknya (Produknya apa? yang ditonjolin apa? -_-“ ), Anak SD udah suka-sukaan, Anak SMA pake rok mini, selalu ada preman di scene-nya. Entah njambret-lah, nyopet-lah, mau memperkosa-lah. Pelaku jahat, perannya jahat melulu nggak ada baik-baiknya. Yang baik juga baik melulu nggak ada salah-salahnya. Nggak cocok dengan kehidupan nyata. Tapi gara-gara sinetron sampah seperti ini, banyak orang yang mendadak drama dalam menjalani kehidupannya. Entah sinetron yang menggambarkan kehidupan nyata, atau kehidupan nyata yang menggambarkan sinetron.

Sinetron banyak menyuguhkan adegan anak SMA yang sok senioritas menindas orang yang lemah. Melakukan bullying, melawan orang tua, kabur dari rumah, pacaran, ikutan geng motor, apalah-apalah, pokoknya nggak mutu banget. Jadi, wajar ya, kalo ada remaja masa kini tingkahnya alay abis kayak yang di sinetron? Sayang yah, saya nggak punya wewenang buat mengenyahkan tayangan sinetron dari layar televisi dan menggantinya dengan ceramah-ceramah tentang pendidikan agama, tauhid, blablabla. A’la kulli haal…

  1. Minimnya pendidikan agama sejak dini

Agama adalah pedoman hidup seseorang. Pedoman hidup, jika tidak diamalkan dengan benar, akan membuat seseorang hilang tujuan dan buta arah. Ia menjalani kehidupannya untuk sekedar memenuhi urusan dunianya, dan seputar perut. Karena pendidikan agama tidak tertancap kuat dalam sanubarinya, membuat ia tidak takut pada ALLAH. Ia tidak lagi peduli soal dosa, asal hasratnya terpenuhi.

Orang-orang kering iman ini, tidak mendapatkan kesejukkan di hatinya. Hati yang gersang dan bernoda, lambat laun membunuh nuraninya. Itulah mengapa, rasa “tega-nya” telah hilang. Hal ini membuat syaithan bersorak mengibarkan bendera kemenangan atas dirinya. Ia limbung dan tunduk di bawah kekuasaan syaithan, maka wajar, ketika membunuh, akalnya tak lagi berada di tempat. Ia tak sadar tengah merenggut kehidupan orang lain. Pelaku lupa, bahwa ketika masih bayi, ia adalah bayi yang amat lucu, namun saat dewasa, ia berubah menjadi syaithan berwujud manusia yang amat keji. Karena, tak ada tempat bagi Iman di dalam hatinya. Naudzubillaah..

Pada akhirnya, sebagai emak-emak biasa, hanya bisa menghela napas panjang. Tidak dapat banyak berbuat untuk mencegah terjadinya kekerasan pada wanita dan anak-anak di luar sana. Meski kematian adalah takdir yang tak dapat dielakkan, namun berupaya melindungi diri dan keluarga, terutama anak-anak adalah sebuah keharusan. Mari kita saling mendoakan anak-anak kita, saudari kita, agar terlindung dari gangguan manusia dan syaithan.

Anakku, semoga kelak menjadi anak yang shalih ya Nak? Semoga ALLAH jauhkan engkau dari bahaya fitnah akhir jaman, dari belenggu hawa nafsu yang membinasakan, jadilah Lentera bagi Ayah dan Ibu. Jaman sudah tua Nak…

“Rabbi habli minash shaalihiin…”

~ Tyas Ummu Hassfi Ubaidillah, Yogyakarta 20 Mei 2016 pukul 19. 38 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s