Sudah Merasa ‘Baik’

balloons-green-orange-red-mood-hd-wallpaper
Sumber Gambar : Google Images

Sudah berniqab? Alhamdulillaah..
Sudah berhijab syar’i? Alhamdulillaah..
Sudah mengenal Sunnah? Alhamdulillaah..
Sudah punya akun khusus Akhwaat? Alhamdulillaah..
Sudah sering berangkat kajian meski anak pating krantil, hamil besar, tapi rajin mencatat, tenang menyimak? Alhamdulillaah..

Alhamdulillaah.. Alhamdulillaah.. Alhamdulillaah..

Bersyukurlah, ALLAH beri kemudahan untuk memahami syariat, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun, ada satu pertanyaan penting yang perlu kita renungkan bersama sebagai seorang wanita yang telah berniqab, berhijab syar’i, rajin kajian, dan membatasi interaksi dengan non mahram.

Sudahkah meninggalkan Majelis Ghibah?

Apakah dengan kemudahan yang ALLAH beri kepada kita, mampu menahan lisan kita dari mengomentari :

Mereka yang belum berhijab..
Mereka yang berhijab namun masih mengenakan celana jeans, baju sepanjang sikut, boro-boro pake kaos kaki..
Mereka yang berhijab syar’i namun berbahan spandex..
Mereka yang bercadar tapi masih selfie..
Mereka yang bercadar tapi masih hahahihi dengan pakwan..
Mereka yang bercadar tapi penuh hiasan..
Mereka yang datang kajian tapi anaknya riuh..
Mereka yang menawarkan diri untuk dinikahi namun caranya keliru..

Masihkah kita menambahi pembicaraan di atas dengan bumbu penyedap :

“Ih, kok gitu sih?”
“Naudzubillaah, ada ya akhwat yang begitu?”
“Yaa ALLAH, kemana kah rasa malumu duhai Ukhty..”
“Mbak, itu jilbab apa lemper? Kok ketat amat?”
“Hah? Ada akhwat begitu? Ih, malu-maluin ajaa..”

Dan lain-lain..
Dan masih banyak lagi..

Mari kita renungkan bersama..

Suka kah, jika ada orang lain mengomentari kita demikian?
Ridha kah, jika orang lain yang notabene sudah paham syariat menjudge kita demikian?
Membicarakan kita di belakang punggung, kenal pun tidak? Pernah bermuamalah pun tidak? Hanya sepintas lewat saja di dunia maya?
Suka kah jika kita jadi bahan pembicaraan dimana-mana?

“Oh, yang dimaksud anti, akun Fulanah itu ya yang kemarin selfie di titiktitik..”

“Oh, kayaknya ana paham deh yang dimaksud dalam status Ummu..”

See.. Bukankah itu ghibah? Kita tak suka jika dighibahi, mengapa kita harus mengghibahi meski beralasan, “Jangan ditiru ya?”, “Yuk, ambil hikmahnya..” bla bla bla.

Saudariku.. Inilah bahaya dunia maya. Inilah dampak negatif media sosial. Rasulullaah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mewanti-wanti kita. Kaum wanita. Bahwa penghuni neraka kebanyakan dihuni oleh kaum wanita. Salah satu penyebab yang sering disebut adalah karena LISAN.

Lisan wanita itu tajam dan panjang. Karena tajam dan panjang, membuatnya terkadang menebas apa saja yang ada di depan kedua matanya. Entah sengaja atau tidak. Ia mengomentari apa saja, meski penting atau tidak. Ada saja hal menarik yang bisa diulas, ada saja berita yang perlu disebar. Parahnya, bumbunya jadi lebih sedap kalo sudah berkumpul.

Terkadang, membicarakan mereka yang tengah berproses menjadi baik itu enak. Apalagi kalo penyedapnya pas. Pas nongol. smile emoticon Tiba-tiba kita merasa lebih baik dan berujar, “Alhamdulillaah, aku udah pake jilbab sejak baligh. Jadi nggak kenal tuh yang namanya celana jeans.”

“Untung aja dulu Suami yang ngelamar, bukan aku duluan. Malu lah.. Ish ish..”

Mari kita bersama-sama, berhenti menyinyiri, mencibir, menyindir dan mengomentari orang lain yang tengah berproses. Semua insan, berhak untuk menjadi lebih baik. Tidak terkecuali.

Beritahu dan nasehati mereka dengan lembut, empat mata, kalau mereka salah. Kalau jilbabnya belum syar’i. Kalau enggak boleh selfie.

Karena boleh jadi, sosok-sosok yang pernah kita nyinyiri, di masa yang akan datang ALLAH beri hidayah. ALLAH jadikan ia orang yang jauh lebih baik. Sedangkan kita, masih diam di tempat. Sudah merasa paham ilmunya, sudah lempeng akhlaqnya, dan sudah benar agamanya. Namun sejatinya, tengah terseok-seok dalam jurang kebinasaan, yakni ujub yang melenakan.

Ittaqillaah..

Bertaqwalah kepada ALLAH Yaa Ukhty.. SesungguhNya, ALLAH Maha Membolak-balik hati manusia. Hati kita demikan lemah, sedangkan syahwat dan syubhat menyambar-nyambar. Mari kita dakwahi mereka dengan cara yang tepat.

Jangan remehkan mereka yang masih belum sempurna dalam menunaikan syariat. Hargai mereka yang ALLAH takdirkan untuk melalui step demi step menuju hidayah. Ayo rangkul mereka. Sentuh hati mereka dengan akhlaq terpuji. Dakwahi mereka dengan hikmah. Bukan dengan sindiran dan komentar pedas.

STOP me-screen shot akun atau jati diri mereka jika berbuat salah di dunia maya.
STOP membunuh kepercayaan diri dan kehormatan mereka.
Mari dakwahi mereka, semoga ALLAH kumpulkan kita semua di Jannah. Aamiin.. ^^

Reminder to my self..

~ Tyas Ummu Hassfi, Yogyakarta, 22 Mei 2016 pukul 11.53

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s