Perbaiki Cara Berdakwah Kita

dakwah
Perbaiki cara berdakwah kita! – Sumber gambar

“Itu jilbab, apa lemper kok dililit-lilit?”

“Mbak, pake jilbab yang bener dong? Jilbab yang bener itu begini..”

“Bu, saya nggak yasinan. Itu bid’ah. Bid’ah itu sesat.” Endesbre endesbre.

Mungkin, ada diantara kita yang pernah berujar demikian. Entah sudah lama menimba ilmu syar’i, atau baru mulai mengaji. Saya diantaranya, yang dulu pernah berkomentar demikian. Saat awal-awal ngaji, lalu hijrah mengenakan hijab syar’i, saya sering mencibir mereka yang berjilbab namun mengenakan celana jeans ketat, berjilbab namun dililit-lilit seperti punuk unta, berjilbab namun masih salaman dengan lawan jenis non mahram dan pacaran, atau belum berhijab namun membaca Al-Qur’an dan saya cibir, ‘Sayang, bacaannya bagus tapi belum jilbaban’.

Saya menyesal pernah mencibir mereka yang masih dalam proses berubah menjadi lebih baik. Dari mulanya tidak berjilbab, lalu kemudian berjilbab meski masih mengenakan celana jeans. Dari yang mulanya berjilbab punuk unta, berganti menjadi jilbab lebar meski berbahan Spandek yang masih membentuk lekuk tubuh. Dari yang tidak bercadar menjadi bercadar meski masih suka selfie di media sosial.

Ya, yang saya sesali adalah, saya tidak menghargai proses mereka untuk menjadi lebih baik. Saya merasa tinggi ketika melihat mereka yang masih berjilbab kecil-kecil. Saya merasa sudah berilmu ketika berhadapan dengan mereka yang masih awam soal agamanya. Intinya, dengan bekal jilbab lebar, saya sudah bisa mengklaim bahwa saya sudah oke. Padahal, essensi dakwah yang sebenarnya bukan seperti itu. Tujuan ilmu yang kita peroleh dalam majelis-majelis ilmu syar’i bukan untuk meninggikan hati, namun, untuk melembutkan hati dan membaguskan akhlaq. Baik terhadap ALLAH, maupun terhadap sesama.

Semakin lama menimba ilmu syar’i, (meski kini sudah jarang datang ke kajian karena jadwal yang bentrok dengan jam kerja Suami) membuat saya sadar. Bahwa jilbab lebar bukan parameter keshalihan seseorang. Bukan pula satu-satunya penentu kebaikan dan pintu menuju surga bagi seseorang apabila tidak diiringi dengan budi pekerti yang baik.

Sering saya jumpai, mereka yang berjilbab namun masih mengenakan celana jeans ketat, mengenakan baju panjang hanya sebatas sikut, mengenakan jilbab lebar namun berbahan spandek, berlomba-lomba dalam kebaikan. Mereka tidak segan bersedekah dalam jumlah yang banyak. Shalat dhuha di sela-sela aktifitas kampus. Membaca Al-Qur’an saat sedang menunggu. Berbondong-bondong mengikuti kelas Tahsin di Kampus Tahfidzh agar bacaan Al-Qur’annya benar. Dan yang menakjubkan, mereka terbangun tengah malam lalu menunaikan shalat Tahajud, berdzikir, dan tilawah hingga subuh, lalu paginya beraktifitas di kampus hingga sore. Maa syaa ALLAH.

Sedangkan, terkadang, saya melihat segelintir orang yang berjilbab lebar bahkan bercadar, ada yang memiliki muamalah kurang baik dengan temannya. Bermudah-mudahan menyebarkan berita tanpa tabayyun terlebih dahulu. Berlarut-larut dalam mengomentari fenomena yang tengah marak. Hanya duduk bermajelis dengan teman yang sudah dikenal saja. Masih suka selfie, berhaha-hihi dengan non mahram, dll. Sekali lagi, itu hanya segelintir orang saja yaa? Tidak menggeneralisir. In syaa ALLAH, yang sudah paham ilmunya berupaya untuk konsisten dalam dakwah. Karena nyatanya, saya dikelilingi oleh teman-teman yang Maa syaa ALLAH. Bagus akhlaq dan adabnya terhadap saudarinya, dan senantiasa mengingatkan dalam kebaikan. Barakallahu fiikunna..

Kembali ke topik tentang mudahnya kita mengomentari mereka yang secara dzhahir belum syar’i. Jadi, beberapa hari yang lalu, -Alhamdulillahiladzhi bini’matihi tattimush shaalihat- kami banjir orderan buku Panduan Ramadhan untuk Chevron sebanyak 100 eksemplar, Buku-buku karya Dr. Syafiq Riza Basalamah dan Kitab, untuk beberapa Balai Penelitian di Bogor, Karyawan Bank, Karyawan di beberapa kantor Kementerian di Jakarta, hingga Dosen. Saya tercenung sejenak ketika menuliskan alamat untuk orderan mereka. “Mereka yang bekerja seperti ini, masih sempat ya memikirkan agamanya? Tergerak hatinya untuk membaca buku-buku sunnah? Padahal, sekilas mereka terlihat sibuk? Padahal tempat kerjanya ikhtilat, padahal jilbabnya masih pendek, padahal masih isbal, di timeline-nya masih suka dengerin musik, masih pacaran tuh, dll.”

Tapi ternyata, lihatlah, mereka juga haus akan ilmu agama. Mereka sedang berusaha mencari bekal untuk mempelajari agamanya. Mereka merasa butuh akan ilmu. Boleh jadi, dengan ketertarikan mereka terhadap agama, belajar dengan mulai membaca buku agama, mereka akan jauh lebih baik dari sebelumnya. Mereka akan hijrah pada kehidupan yang baru. Mereka akan berada di garda terdepan dalam memperjuangkan dakwah islam. Mereka akan berlomba-lomba meletakkan dunia di tangannya dan akhirat di hatinya. Mereka akan mengadu pada ALLAH agar ditunjukkan jalan yang lurus. Mereka akan meminta pada ALLAH agar diberi hidayah. Meninggalkan kemaksiatan, dan tersentuh tatkala diseru kebaikan padanya. Terisak-isak pada sujud panjang di sepertiga malam, memohon ampun atas segala dosa yang diperbuat. Maa syaa ALLAH, barakallahu fiikum.

Saudariku…

Mari kita perbaiki cara berdakwah kita. Stop menjudge mereka yang masih awam soal syariat. Jangan mencibir mereka yang masih belum paham tentang syariat. Seperti yang baru-baru ini terjadi. Seseorang yang sudah paham jilbab syar’i me-reshare postingan seorang Seleb Instagram dengan hastag Alay Syariah. Ia berkomentar pedas terhadap postingan tersebut, lalu ditimpali oleh teman yang lainnya. Sejujurnya, saya pun tidak sepakat dengan konsep dakwah yang diusung Seleb Instagram tersebut meski tujuannya menurutnya baik, walau jika ditinjau dari sisi syariat sebaiknya tidak begitu (Maksudnya, seorang wanita tidak perlu terlalu ekspresif dalam menampilkan wajahnya di khalayak, bagaimanapun wanita tetaplah fitnah terbesar bagi laki-laki). Namun, saya lebih tidak setuju lagi jika yang sudah paham jilbab syar’i menjudge demikian dan demikian dengan komentar yang pedas.

Melihat muslimah mau berjilbab di jaman penuh fitnah seperti sekarang ini sudah lebih baik lho. Daripada mendengar mereka yang berkata, “Jilbabin hati dulu baru jilbabin kepala” dan masih enggan menutup aurat. Tuntunlah mereka yang sedang dalam proses menuju baik dengan cara yang tepat. Hargailah setiap proses hijrah mereka. Ingat, boleh jadi, sebelum menjadi muslimah “Serapet” sekarang kita juga pernah berada di posisi mereka.

Ayo, rangkul teman-teman yang belum paham syariat jilbab syar’i dengan cara yang tepat. Bukan dengan disindir, dipojokkan, dilabelling lemper, lepet, arem-arem. Jalan dakwah makin terjal. Jangan buat orang lain lari dengan dakwah kita. Namun, sentuhlah hati mereka dengan akhlaq yang mulia dan adab yang benar. Yuk, mulai dari sekarang, tahan lisan kita dari mengomentari mereka yang belum hijrah. Jika tak dapat membuat mereka lebih baik, setidaknya, jangan sakiti hati mereka. Karena ALLAH, tidak melihat bagaimana rupamu. Namun ALLAH hanya melihat, apa yang ada di dalam hatimu. Barakallahu fiikum. ^^

~ Tyas Ummu Hassfi, Yogyakarta 21 Mei 2016

Save

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s