Lihat Kebunku…

bayem-merah
Bayam Merah di Kebunku

Bismillaah…

Woaaaaa… Histeris pagi-pagi melihat tanaman di halaman rumah ijo royo-royo. Excited banget liatnya, xixixi. Alhamdulillaah, belakangan lagi hobi berkebun. Berangkat dari kesadaran, bahwa rumah kami memiliki lahan yang amat sempit, nyaris tanpa halaman malah, dan, menghadap ke barat!

Rumah tanpa halaman yang menghadap ke barat tentu akan terasa sangat panas saat menjelang siang hingga sore hari. Tidak ada pohon peneduh yang menyejukkan saat cuaca sedang terik-teriknya. Sempat berpikir pengen bikin pagar tanaman rambat agar menghalangi sinar matahari berlebihan masuk ke ruang tamu dan kamar tamu saat siang dan sore hari. Qadarallaah, saya orangnya nggak telaten bikin-bikin pagernya. Suami sibuk banget dengan pekerjaannya, alhamdulillaah, jadi kudu bisa mandiri.

Akhirnya, saya memberdayakan teras rumah yang Cuma selebar kurang lebih 120 cm ini sebagai kebun sayur mini. Saya menanam sayuran menggunakan polybag dan pot. Pengennya sih pake pot semua biar praktis dan bisa dipakai berulangkali, tapi belum ada waktu buat ke Progo atau Fortuna. Akhirnya, pake tempat seadanya saja deh. Beli Polybagnya di toko Pertanian deket rumah, UD. Usaha Tani, Jl. Magelang Km 5 (Harga pot disini agak mahalan dikit).

Oya, di kebun mini saya, ada Sayur Bayam Merah, Kangkung, Sawi Pagoda, Sawi Sendok, Caisim, Daun Bawang, Cabe Merah, Cabe Hijau, Tomat, Terong, Daun Katuk, Mentimun, Cabe Rawit, Daun Kemangi (yang sering diserang Hama habis-habisan). Buahnya, ada Pohon Jambu Biji, Semangka, Belimbing Wuluh, dan Jeruk Purut. Kalo Bunganya, baru ada Bunga Adenium dan Bunga Euphorbia. Ada juga tanaman berkhasiat lainnya, seperti Daun Sirih Merah dan Lidah Buaya.

Sayur Bayam Merah dan Sawi Sendok, saya dikasih tetangga. Katanya, beliau kelebihan bibit, hehehe, alhamdulillaah. Sawi Pagoda, Mentimun, dan Caisim, saya beli di UGM Expo, di stand-nya Markaz Kebun. Rp. 10.000 dapet 3, dan dapet bonus Kangkung waktu itu, hihihi. Sedangkan, Jambu Biji, Tomat, Cabe, Daun Bawang, Semangka, Jeruk Purut, Belimbing Wuluh, Daun Katuk, adalah Limbah Dapur. Ditanem lagi, eh.. Bi’idznillaah tumbuh.

Mmm, oya, Lidah Buaya, Sirih Merah, Adenium, dan Euphorbia saya dapet waktu berkunjung ke kostnya Madina, dan Pembimbing PPL dulu, Bu Lilik. Sedangkan Terong dan Seledri saya beli di toko pertanian UD. Usaha Tani. Per bungkusnya Rp. 2000,-

Sekarang, saya sedang menikmati pemandangan kebun mungil di teras rumah. Kini teras rumah nggak segersang dulu. Meski tanaman-tanaman saya harus berjuang ekstra keras untuk tetap survive karena paparan sinar matahari yang sangat tinggi.

Berkebun, konon bikin menolak lupa. Meski nyatanya, saya masih sering lupaan. Selain itu, setiap hari saya seperti memiliki harapan akan hari esok. Kira-kira, besok tomatnya udah setinggi apa ya? Kapan ya benih seledriku pecah? Kapan ya Daun Jeruknya nambah? Kapan ya mentimunku mulai merambat? Seperti itu terus.

Setiap menggunting daun-daun yang menguning, atau membuang ulat-ulat nakal, rasanya sedih. Nggak rela tanamanku disakiti. Saat mereka layu karena penguapan berlebihan, timbul rasa bersalah. Kadang sambil nyiram tanaman yang layu, saya sampe ngomong sendiri dan minta maaf, “Duh Timun, maaf yaa aku lupa nyiram?”, atau saat melihat Bunga Tomat yang rontok, saya berkata, “Tomat, yang sehat ya? Ayok, jangan stres. Bungamu pasti jadi buah yang banyak.” Mungkin kalo Suami denger saya ngoceh-ngoceh sendirian di teras, beliau akan iba melihat istrinya yang ‘rada-rada’. Hahaha. Tapi, aku menikmatinyaaaaa.

Kenapa kok saya banyak nanem sayur daripada bunga? Padahal, bunga lebih bisa survive dengan paparan matahari yang tinggi? Sebabnya, karena Suami lebih suka saya jadi petani sayur daripada bunga. Kan Bunga nggak bisa dimanfaatkan? Huh, bilang aja kalo nggak mau menanggung resiko kalo Istrinya tiap minggu minta beli bunga? :/ Padahal kan bunga juga ada yang punya banyak khasiat? Kumis Kucing misalnya.

Oh ya, menanam sayur, secara ekonomis juga sepertinya belum bisa mencover kebutuhan dapur kalo Cuma sedikit-sedikit gitu. Tapi, kayak Tomat yang udah panen berapa kali aja, lumayan buat ngirit beli-beli tomat di warung. Kalo pas lagi butuh tomat, tinggal petik aja, fresh dari pohon. Cabe juga,mski belum pernah panen cabe untuk periode ini karena keburu pohonnya diserang hama.

Berkebun begini, sangat mengasyikan. Nggak asyiknya kalo ada Ulat dan Hama Sekutunya yang menyerang (Sedangkan tujuan lain dari berkebun sendiri kan mengindari pestisida, jadi agak bingung juga gimana mau memberantas hamanya. Masih belajar). Dan lupa parah buat nyiram kayak saya ini. Hehehe. Buat Ibu Rumah Tangga lainnya, yuk.. Berkebun! Biar irit, produktif, dan biar semangat menyambut hari esok.. Semoga menginspirasi yaa? ^^

Tyas Ummu Hassfi ~ Yogyakarta, 10 November 2016

Save

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s