Pindahan

sulistiyoningtyas-pindahan
Barang-barang warisan jaman ngekost siap diangkut ke rumah baru..

Kalo pindahan rumah orang tua membuat saya agak trauma dan sedih karena meninggalkan banyak kenangan. Pindahan kost dan kontrakan justru saya tunggu-tunggu. Kenapa? Karena itu artinya, saya akan mengekplorasi hobi saya. Menata Rumah! Akan ada suasana baru di rumah atau kamar yang saya tempati. Meski itu bermakna saya harus mengalami kerempongan yang aduhai saat packing-packing dan menata ruangan.

Tahun lalu, tanggal 22 Desember 2015, kami (saya dan Suami) memutuskan pindah kontrakan karena sudah tidak cocok tinggal di kontrakan pertama kami. Dua minggu sebelum pindahan, saya nyicil packing-packing barang. Mulai dari baju, buku, kitab, dan dekorasi rumah, yang saya masuk-masukkan ke dalam kardus besar, hingga perkakas masak yang sekiranya tidak dipakai dalam jangka waktu dua minggu ke depan.

Awalnya, Suami ngeledek,”Lah, masih lama kok pindahannya?”

Hmmm, belum tau dia, gimana rempongnya pindahan barang sebanyak ini?

Saya cuek bebek aja Suami ngeledek gitu. Meski sama-sama sering pindahan kost semasa jaman kuliah (saya pindahan kost sebanyak enam kali sampai selesai kuliah), tetep ya, perabot wanita lebih komplit dan buanyaak daripada perabot kaum adam. Hehehe.

Hari H telah tiba, Jasa Angkut yang dipesan di sekitaran UGM datang on time jam 7 seperti janjinya. Suami dan Sopir Jasa Angkutnya mulai mengangkut barang-barang di rumah kami ke mobil bak terbuka. Saya di dalam kamar, beberes printilan-printilan yang belum masuk kardus. Saya pikir tinggal sedikit, ealaaah.. ternyata masih banyak yang belum pada masuk kardus.

sulistiyoningtyas-pindahan3
Sebagian buku yang sempat didokumentasikan. Hiks, gelap-gelapan, pake kamera Nokia Asha 311

Barang-barang sudah mulai habis diangkut, saya kewalahan memunguti printilan-printilan di kamar dan dapur yang luput. Suami udah mulai senewen liat saya lama beres-beresnya. Seperfect apapun saya mengemas barang-barang, rupanya, masiiih saja ada yang tertinggal. Akhirnya, saya tinggal dulu beberapa pot tanaman, tempat sampah, gayung, mangkok-mangkok hadiah pernikahan yang nyempil di bawah meja dapur, jemuran, dll.

Saya dan Suami jalan duluan di depan, memandu mobil jasa angkut ke rumah kontrakan baru yang tidak terlalu jauh dari rumah pertama kami. Cuma beda blok. Kalo pake mobil, karena muter, jaraknya sekitar 500 meter. Kalo lewat jalan pintas, cuma 250 meter. Yap! Seumur-umur, ini adalah pindahan terdekat yang pernah kami lalu, xixixi.

Sesampainya di rumah baru, saya mulai nyapu-nyapu rumah, meski sehari sebelum pindah, kami sudah bersih-bersih rumah baru. Saya bahagiaaa banget rasanya bisa pindah ke rumah ini. Selain bersebelahan dengan Masjid Jami’ pemilik kontrakannya kooperatif. Kami bahkan dipinjami sapu, diberi lampu tambahan, diberi informasi rinci tentang rumah kami, bahkan, saat listrik njeglek, Pak Gondo, empunya kontrakan membawakan kabel panjang dengan ‘colokan’ dan lampu ke rumah kami. Maa syaa ALLAH. Hingga detik ini, kebaikan dan perhatian beliau masih berlanjut. Membuat kami bener-bener betah tinggal disini. Meski harga sewanya lumayan mahal. Hiks.

Pukul 08. 00 WIB, acara angkut-angkut barang sudah selesai. Giliran bayar-bayar, saya dibuat tercengang oleh Mas-mas pengangkut ini. Gimana enggak, dulu, waktu pindahan kost saja kami menghabiskan Rp.200. 000,- buat pindahan, padahal barang anak kost kan nggak sebanyak setelah rumah tangga ya? Nah, pas pake jasa angkut ini, kami cuma bayar Rp. 60. 000,-. ENAM PULUH RIBU Pemirsaaa.. Muraaaaaaah banget. Padahal Mas-masnya sampe ngos-ngosan gitu bolak-balik ambil barang.

Suami sampe nggak tega mau bayar segitu. Jadilah, Suami bayar Rp. 80. 000,-. Mas-masnya sempet nolak, bilang, “Duh Mas, kebanyakan ini. Biayanya cuma enam puluh ribu” katanya. Setelah dipaksa, baru deh beliau mau terima. Maa syaa ALLAH. Kerenlahh Mas-masnya. Saya aja nih yang nggak keren. Kemahalan protes, kemurahan nggak tega. Hehehe.

sulistiyoningtyas-pindahan2
Catat ya nomor CP-nya, kali aja sewaktu-waktu butuh.

Bagi temen-temen di Jogja, khususnya Mahasiswa UGM, UNY, dan sekitarnya, atau yang mau pindahan kontrakan, rumah, dll, saya rekomendasikan banget menggunakan jasa angkut ini. Beneran deh, Masnya itu totalitas banget ngangkut-ngangkut barangnya. Hati-hati gitu. Orangnya santun juga. Tarif angkutnya juga murah banget. Bahkan, saat saya tanya biaya angkut Jogja-Cilacap, beliau bilang sekitar Rp. 700. 000,- sampai Rp. 800. 000,- saja! Gubraaak! Murcee.. xixixi. Bahasanya iklan banget yak? Hehehe. Oya, biasanya, saya sering lihat mobil angkutnya di Pogung, barat Fakultas Teknik UGM. Di deket pertigaan Masjid Siswa Graha, kalo dari arah jembatan baru Fakultas Teknik UGM. Mobil bak-nya warna biru kalo ndak salah inget. CP-nya : 087839160058.

Hukum asalnya, hari itu Suami ijin ngantor siangan. Biar saya yang beres-beres rumah sendiri. Minimal, rak-rak organizer dinding, dan jam udah terpasang. Eh, ternyata, Suami kecapekan abis angkat-angkat barang. Jadilah Suami cuti sehari. Akhirnya, saya tetep bekerja menata rumah, dan Suami saya beri tugas menguras kamar mandi. Xixixi. Menjelang magrib, rumah baru kami sudah rapi. Saya nggak mau menunda beres-beres rumah, karena sudah nggak sabar ingin menikmati rumah baru ini. Semoga, harga sewa kontrakan tahun kedua nggak naik, semoga ALLAH beri rejeki buat beli rumah ini. Aamiin.

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmushshalihaat…

Tyas Ummu Hassfi ~ Yogyakarta, 16 November 2016 pukul 06. 00

Save

Save

Advertisements

2 thoughts on “Pindahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s