Saya, dan Andrea Hirata

novel-ayah
Salah satu Novel Andrea Hirata

“Buku adalah Jendela Dunia..” demikian bunyi pepatah yang tertulis pada sampul buku berwarna cokelat bergambar anak sekolah. Sampul buku legendaris jaman saya SD. Mungkin tepatnya sekitar tahun 1980-an sampai 2000-an awal masih menjadi sampul favorit anak-anak sekolah. Entah kini, masih ada atau sudah lenyap dilamun masa?

Hmmm.. agaknya pepatah “Buku adalah jendela dunia” tidak salah. Ketika saya sudah lancar membaca, apa saja yang memuat tulisan, saya baca dan lahap habis. Mulai dari Koran bungkus tempe, kertas anak sekolah yang dikilo mamanya pada penjual sayur, lalu menjadi bungkus bawang dan cabe, bahkan buku Yellow Pages pun tidak ketinggalan.

Yah, dari buku yellow pages itulah cikal bakal saya mengetahui nama-nama alat berat, perabot rumah tangga, dan Negara-negara di belahan dunia lainnya. Seru? Tentu saja! Mengetaui nama Negara lain itu keren. Apalagi sampai hapal kode areanya.

Prihatin melihat anaknya membaca printilan kertas dan buku-buku “kelas berat” yang bahkan orang dewasa pun enggan membacanya, akhirnya Ayah mulai berlangganan Koran suara merdeka dan Majalah Bobo. Saya selalu menanti Koran suara merdeka edisi hari Minggu, karena ada bonus Tabloid Yunior-nya, yang memang diperuntukkan bagi anak-anak seperti saya. Nah, dari banyak membaca itu, lama-lama saya terbiasa menulis.

Gara-gara keranjingan membaca, saya banyak menyerap warna-warni informasi, mulai akrab dengan kosakata asing, serta terobsesi menjadi penulis seperti anak-anak seusia saya kala itu. Yang berani mengirimkan naskahnya ke penerbit, menjadi terkenal, dan memiliki banyak sahabat pena. Selain itu pengetahuan umum saya berkembang sangat luas, serta penggunaannya bahasa Indonesia saya lambat laun terasah dengan baik

Seiring bertambahnya usia dan berkembangnya pola pikir, saya mulai menemukan bahan bacaan yang cocok untuk menjadi teman duduk di sela-sela penat. Yap! Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata mampu menyihir saya. Membuat saya larut dalam cerita. Takjub, tersedak-sedak menahan tawa, tersedu menahan haru, sampai tegang dan ngeri membayangkan beratnya perjuangan yang dilalui Ikal dan Laskar pelangi untuk dapat mengenyam pendidikan.

Saya mengagumi karya Andrea Hirata. Mulai dari Laskar Pelangi, Edenssor, Sang Pemimpi, Maryamah Karpov, Padang Bulan, Cinta dalam Gelas, Sebelas Patriot dan yang terakhir berjudul Ayah. Hal yang khas dan mempesona dari novel-novel alumni Sorbone University ini adalah gaya bahasa melayunya yang sangat kental dan unik. Deskripsi, plot, dan sisipan ilmiahnya begitu berasa di kepala. Membuat saya jadi ikutan intelek sekaligus repot. Dibumbui pula dengan humor khas melayu yang mengocok perut.

Intinya, diksi yang dikemas Andrea Hirata sangat apik, elok, empuk dan mampu membuat pembacanya seperti terlibat dalam cerita. Atau saya yang memang sudah jatuh cinta dengan budaya melayu ya, sampai-sampai menilai karya Andrea Hirata demikian perfect? Yang pasti saya tidak jatuh cinta betulan pada Andrea Hirata. Berabe!

Andrea Hirata satu-satunya penulis novel yang karyanya saya kagumi karena gaya bahasa melayunya yang aduhai. Namun, karyanya bukanlah satu-satunya yang saya lahap. Sebagai seorang muslimah, tentu saya membutuhkan nutrisi ilmu dienul islam dari kitab-kitab Para Ulama tsiqoh, berpedoman pada tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam dan Al-qur’an. Seperti kitab Aqidah, At-tauhid, Tsalatsatul Ushul, Al-Qawa’idul Arba’, Kasyfu Syubuhat karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab, kitab Hadist seperti Fathul Bari Syarah Shahihil Bukhari karya Ibnu Hajar Al-Atsqalani, kitab Fiqh karya Ibnu Qudamah yang berjudul Umdatul Fiqhi, atau Sirah Nabi, Zaa’dul Ma’ad karya Ibnul Qayyim. Kitab-kitab tersebut adalah kitab atau buku favorit yang sering saya baca sebagai rujukan dalam berislam yang benar.

Mudah-mudahan, kelak lahir penulis-penulis cerdas seperti Andrea Hirata. Yang tidak melulu berbicara-cinta-cintaan, dan galau-galau ria. Penulis intelek yang mampu “mensastrakan” Sains dan Budaya. Menyusunnya dengan apik dan tidak berlebihan. Sehingga pembaca yang mudah tersanjung pada sains dan sastra seperti saya, tidak berpaling dari Jendela Dunia bernama buku, karena jenuh dengan tema cinta-cintaan dan galau-galau ria.

Entah nyambung atau tidak, antara judul dengan isi tulisan. Bahkan, boleh jadi menimbulkan salah paham. Salah karena pembaca mengira tulisan ini berkisah tentang saya dan Andrea Hirata. Dan saya paham, bahwa antara judul dan isi memang tidak ada korelasinya. Jadi harap dimaafkan, karena hal tersulit dari menulis adalah mencari judul terbaik yang menarik. 🙂

Tyas Ummu Hassfi ~ Yogyakarta, 30 Maret 2016

Ditulis ulang dari Klub Menulis “Mualifat” asuhan Mbak Athirah Mustajab.

Save

Save

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s