Belajar dari Rendang (Tips Memasak Rendang)

rendang tyas.jpg
Sebelumnya kayak Serundeng, sekarang udah mirip Rendang, meski masih perlu diperbaiki lagi. Nguleg kelapa-nya yang halus!

Apa sih hal yang paling membahagiakan bagi seorang Istri dan Ibu? Kalo saya, dalam urusan perdapuran, tentu jawabannya adalah saat eksekusi resep berhasil! Hasilnya enak, Suami dan anak-anak suka, plus dipuji, “Istriku jago masak..” sama Suami. Hihihi. Lebay emang, tapi yakinlah.. Jerih payah kita di dapur terbayar lunas saat keluarga bisa benar-benar menikmati masakan kita. Mereka makan dengan lahap, bahkan tambah lagi-tambah lagi, benar-benar membuat saya bahagia. Merasa dihargai, dan tentunya bangga.

Bangga, karena penderitaan Suami di awal-awal pernikahan akibat menyantap masakan Istrinya yang masih pletat-pletot dalam urusan rasa berakhir sudah. Anak-anak yang biasanya makan dilepeh-lepeh bisa lahap menyantap masakan kita sampai tandas, tanpa matanya mengerjap-ngerjap menahan rasa keasinan, kemanisan, atau getir.

Euforia kebahagiaan gegara tadi akhirnya berhasil masak Rendang masih berasa sampe sekarang. Yaa… meskipun belum perfect sih. Saya orang Jawa asli, tapi suka banget makan Rendang, yang notabene masakan asli Padang. Sayangnya, harga seporsi rendang lumayan mahal. Iya sih, masih terjangkau di kantong, Cuma Rp. 12. 000,- sampai Rp. 16. 000,- per porsinya. Lengkap sama Nasi, Sayur, Sambel, dan kuah rendang yang nendang banget. Tapi buat ukuran emak-emak yang kepengen irit seperti saya, akan lebih puas kalo saya bisa masak rendang sendiri di rumah. Jangankan saya yang doyan Rendang, para Bule juga doyan lho. Itu artinya, kelezatan rendang memang tiada duanya.

Sejujurnya, saya sering bikin rendang, mulai dari rendang sapi, rendang telur, sampai rendang ayam. Masalah terbesar yang belum mampu saya pecahkan adalah, kenapa, kok rendang yang saya masak itu lebih mirip Ayam Serundeng ketimbang Rendang Padang? Saya jadi patah hati, berulang kali bikin, berulang kali pula gagal. Saya sampe mbathin, “Sakjane ki Kelopone sing eror, opo human-ne sing eror to?” hihihi. Jawabannya ternyata, “HUMAN ERROR” wkwkwkwk.

Karena Hayati lelah… Eh, karena saya geregetan banget dengan kegagalan yang terus berulang, bikin rendang malah jadi serundeng, akhirnya saya inisiatif buat nanya pokok permasalahan soal rendang ini di Grup Masak-memasak yang legendaris, Langsung Enak. Setelah bertanya disana, ternyata segera direspon oleh Master Chef Emak’s Langsung Enak. Akhirnya, ketahuan deh dimana letak kesalahan saya. Yakni, Kelapa Parut yang sudah disangrai sampe kecokelatan, seharusnya diuleg sampe mengeluarkan minyak. Nah, konyolnya saya, kelapa parut punya saya, langsung dicemplungin aja pas air udah mulai susut, dan nggongseng-nya juga nggak sampe kecokelatan. Tapi, sampe agak garing doang. Hahaha, itulah kenapa rendang buatan saya nggak mlekoh, tapi kayak serundeng produk gagal. Disitu saya menyesal, KENAPA NGGAK NANYA DARI DULU? 😀

Nah, ilmu baru yang saya peroleh dari Grup Langsung Enak, alhamdulillaah sudah saya terapkan tadi. Saya takjub, dan bahagia tak terkira saat melihat kuahnya mulai mengeluarkan minyak, trus nggak ada kelapa parut yang panjang-panjang seperti sebelumnya. Eh, ada sih.. Tapi masih bisa diperbaiki besok kalo masak rendang lagi. Mungkin teman-teman lainnya ada juga yang pernah mengalami kemalangan seperti saya? Masak rendang tapi jadi serundeng? Apa Cuma saya doang yang apes? Hehehe. Barangkali ada, saya bagikan tips memasak rendang ala-ala Master Chef di grup Langsung Enak ya?

  1. Gunakan Kelapa Tua
  2. Pakai santan kental dari 2-3 butir kelapa
  3. Jangan pakai Santan Instant
  4. Sangrai kelapa parut hingga berwarna kecokelatan, meski sebenarnya, Rendang Minang asli nggak pake kelapa sangrai, tapi menggunakan santan kelapa yang banyak.
  5. Jangan peras kelapa dengan air yang banyak. Secukupnya saja. Karena, perasan kelapa yang banyak itu akan mengasilkan minyak yang bikin rendang semakin sedap.
  6. Kelapa sangrai-nya dimasukkan sesaat sebelum diangkat, sampai santan agak susut supaya warnanya cantik
  7. Tumbuk halus kelapa parut sangrai sampai berminyak
  8. Menghaluskan kelapa sangrai, bisa menggunakan blender atau ulekan biasa. Jika menggunakan blender, jangan pakai air, tapi diganti dengan minyak
  9. Gunakan bumbu yang banyak

Tambahan dari saya, setelah berulangkali mengalami kegagalan dan akhirnya berhasil :

  1. Jangan campur santan yang sedang dimasak dengan santan mentah, nanti mengubah rasa
  2. Aduk-aduk santan supaya tidak pecah
  3. Gunakan api sedang, supaya bumbunya meresap sempurna
  4. Saat santan mulai menyusut, aduk terus, dan gunakan api kecil supaya bawahnya nggak gosong
  5. Jangan gunakan penyedap rasa, karena akan menyisakan rasa getir, dan rasanya jadi nggak original
  6. Meski masaknya lama, jangan ditinggal-tinggal. Sesekali dicek, dan diaduk untuk menghindari tumpah-tumpah saat mendidih
  7. Jangan beli santan parut, lebih baik marut sendiri. Pengalaman, santan parut memang praktis, tapi biasanya bergerindil, dan cepet basinya. Kemarin waktu nyangrai, saya pakai kelapa parut yang beli di pasar, eh.. bergerindil, jadi pas digongseng justru banyak mengeluarkan minyak
  8. Masukkan garam saat santan sudah mendidih. Karena, kalo belum mendidih udah dimasukingaram, mendidihnya jadi lama
  9. Sebelum masak, pastikan Gas mencukupi. Kan nggak asyik, di tengah masak rendang justru kehabisan gas? 😀

Yap, itu tips memasak Rendang supaya hasilnya sesuai harapan. Akan lebih baik lagi, kalo teman-teman mau menambahkan tips-nya, atau mengoreksinya. Karena saya sadar diri, kalo ilmu seputar per-rendangan masih minim banget. Perlu berguru langsung pada Mamah Mertua Tercinta nih, karena lama tinggal di Sumatera, membuat Mamah Mertua ahli dalam memasak Rendang. Cuma, karena malu bertanya sesat di dapur, eh.. Karena saya nggak bisa nanya-nanya lewat telepon dengan beliau, pengennya lihat langsung cara memasaknya, dan duduk takzim di hadapan beliau sambil nyatet resep dan wejangannya, maka saya berjalan sendiri tanpa Guru, cuma ngandelin Google yang kadang pula menyesatkan. Hihihi.

Dari Rendang saya mengambil banyak pelajaran, yakni tentang arti pantang menyerah dan makna bahagia. Bahwa bahagia, kita sendiri yang menciptakan. Berbahagia dengan pencapaian sederhana, membuat saya ingin terus menciptakan kebahagiaan sederhana yang lainnya. Kebahagiaan yang akan memberi warna dalam keluarga kecil kami. Tentunya, juga membuat saya tidak berhenti berjuang untuk menyajikan masakan yang enak, dan bergizi untuk keluarga kecil kami.

Terima kasih ya Bunda-bunda di grup LE yang sudah mencerahkan saya? Jazaakumullahu khairaan, Semoga ALLAH membalasnya dengan kebaikan yang banyak. Aamiin.

Tyas Ummu Hassfi ~ 23 November 2016 pukul 13. 56 WIB

rendang.jpg
Terima kasih Bunda-bunda Master Chef.. ^^

Save

Save

Save

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s