Emon yang Kurindukan

emon
Ssstt.. Emon lagi bobo siang sama Abang.. 😀

Ternyata begini ya rasanya berpisah dengan seseekor yang selama ini selalu ngejar-ngejar kemana pun kita pergi, mijit-mijit saat lagi tiduran, kadang saat kita terbangun dari tidur, dia juga ikutan bobo nyenyak di samping kita, kadangpula, subuh-subuh dia bangunin sambil gelitikin telapak kaki atau manjat-manjat ke kepala kita.

Tingkahnya yang kadang bikin pusing karena mencakar-cakar gorden dan kasur, menggigit kardus, bantal, kresek, atau kertas-kertas yang berserakan di lantai, atau kelucuannya saat dia ngajakin main, takut disapu, atau dikagetin Abang, membuat rumah menjadi riuh oleh omelan dan teriakan panjangku.

“Emooooon.. Jangan naik meja makan!”

“Emooooon… Kenapa pup di karpet lagi siiiih?”

“Emoooooooooon… Jangan naik kasur!”

Rasanya sediiiiiiiih bangeeet, padahal cuma berpisah beberapa hari aja. Hari ini, Emon terpaksa kutitipkan ke Narla Meong, karena aku mau mudik. Sebetulnya, rencana mudik tanggal 3 Desember In syaa ALLAH. Tapi, semalem Emon pup lagi di karpet, dan itu menambah daftar kesibukanku untuk membereskan rumah. Kebiasaanku, kalo mau mudik, wajib beres-beres rumah supaya pas balik dari mudik, tinggal istirahat aja. Tapi Emon membuat realita berbeda. Hikss.. Rumah harus disterilkan dulu, dan Emon harus diungsikan sementara supaya nggak kecolongan pup di karpet lagi.

Kini aku sadar, ternyata ‘CUMA’ beberapa hari lagi kini bukan sekedar ‘CUMA’, tetapi terasa sangat lama dan panjang. Bagaimana tidak? Tiba-tiba aku merasa rindu digangguin Emon saat masak, saat tidur, atau saat beres-beres rumah.

Abang paham, segalak-galaknya aku sama Emon, seberingas apapun aku saat liat pup Emon teronggok menjijaykan di atas karpet atau keset, aku menyimpan rasa sayang yang sangat besar pada Emon. Meski Kurir penjemput dari Narla Meong udah dateng, Abang nungguin aku menyelesaikan shalat dzhuur dulu, baru menyerahkan Emon ke kurirnya. Abang pengen aku gendong-gendong Emon dulu, ngucapin salam perpisahan dulu buat Emon. Abang cium-cium Emon, aku pengen cium juga, tapi kawatir bulunya kehirup.

Waktu liat Abang jalan ke Kurir-nya, aku buru-buru pake baju lengkap, niat hati mau nyusul Emon. Pengen dadah-dadah liat dia dibawa. Eh, Abang udah balik lagi. Emon udah diangkut, dan tiba-tiba, nyesssss.. Aku mulai gelisah. Semua mainan Emon belum kubereskan, masih pada tempat semula, beberapa saat sebelum dijemput. Aku nggak tahan, akhirnya aku mewek, dan Abang tertawa keheranan.

“Rumah jadi sepi nggak ada Emooon.. Huhuhu…” aku nangis mimbik-mimbik seperti anak kecil. Iya, rasanya seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.

Emon telah membuatku jatuh cinta. Emon mengajari aku tentang arti peduli, cinta, kesabaran, dan kasih sayang yang nyata terhadap sesama makhluk. Jujur, waktu awal-awal Emon diadopsi Abang, aku merasa kurang sabar, atau malah nggak sabar dalam menghadapi tingkahnya. Lagi lagi.. Mulai dari pup, sampai dia yang rasanya kok baterainya full melulu, nggak bisa diem, lari kesana kemari, nyakar ini itu, gigit apa aja, dan muter-muterin kakiku sampai aku kaget dan beberapa kali kesandung si Emon. Aku marah, kesel, dan bad mood banget dibuatnya.

Tapi, saat melihat Emon tiba-tiba diem, duduk di belakangku, wajahnya mengeriut lemas, membuatku jadi khawatir. Membuatku merasa bersalah, dan menyesali tindakanku yang kasar terhadap Emon. Yang ternyata itu artinya adalah dia LAPER! LOL 😀 .

Kadang, Emon kulempar saat naik meja makan atau narik-narik tirai meja dapur. Aku pikir, cara ‘melatih’ yang kulakukan sudah benar, ternyata.. Setela curhat ke Dek Arum, hal tersebut bisa bikin stress. Aku takut Emon stress karena sering kulempar dan kutendang. Seketika, aku menjadi takut akan diberi perhitungan oleh ALLAH atas kedzhalimanku pada Emon. Meski aku nggak bermaksud demikian.

Sejak saat itu, aku mulai belajar menyayangi Emon. Mulai belajar bersikap waras sebagai Manusia yang diberi kelebihan berupa akal dan pikiran. Waktu Emon terlihat lesu, aku segera usap-usap tubuhnya. Aku minta maaf pada Emon. Aku janji, nggak akan melempar, atau marah-marah lagi pada Emon. Dan, aku sesekali gagal menahan emosiku saat harus mendapati ‘limbah-nya’ lagi. Padahal, sudah kusediakan pasir khusus buat pup Emon. Tapi, terakhir ia kedapatan pup di karpet, aku nggak marah. Cuma nggak bisa tidur semalaman, menunggu pagi. Supaya Abang segera menyingkirkannya dari pandanganku. Karena, sebisa mungkin, aku mengindari ‘limbahnya’ Emon, khawatir ada Toksoplasma.

Sekarang Emon udah di penitipan kucing. Kira-kira, dia lagi ngapain ya? Udah makan belum ya? Kedinginan enggak ya? Emon.. Baik-baik disana yaa? Sampai ketemu hari Senin malam, In syaa ALLAH. We miss you Emoooon..

~ Tyas Ummu Hassfi, 1 Desember 2016 pukul 22.21 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s