Belajar (Nge-Baking) Tidak Cukup Sekali!

bolu-gulung
Harapannya, Bolu Gulung Ubi Ungu bisa berkulit lembut dan berwarna cantik seperti bikinan Mbak Endang (JTT) apalah daya, belum ada waktu buat beli Ovennya.. 😦 Next time harus berhasil! In syaa ALLAH

Tempo hari, saya mencoba resep baru. Bolu Pisang Panggang. Terbatasnya alat baking di rumah (Baca : Kemarin belum punya Mixer, Baking Pan, dan Oven) menjadi kendala. Tapi kemudian, saya akali dengan membuatnya secara manual menggunakan Kocokan Tangan, dan Baking Pan ala-ala. Yakni, Loyang tulban, Loyang pendek, dan tutup panci. Qadarallaah, gagal! Bolunya bantat dan terlalu basah. Kata Suami, rasanya lebih mirip puding daripada bolu. Saya yakin, kegagalan yang terjadi bukan disebabkan terbatasnya alat, tapi karena saya belum belajar ilmu dan tekniknya!

Selanjutnya, saya membuat Bolu lain. Yakni, bolu Ubi Ungu. Komposisinya sama dengan Bolu Panggang Jadul, hanya, saya tambahkan Ubi Ungu. Alhamdulillaah, kali ini berhasil! Oo.. Sekarang saya paham, kenapa Bolu Pisang saya bantat, tetapi Bolu Ubi Ungunya tidak?

  1. Saat membuat bolu pisang saya menggunakan telur yang diambil dari kulkas. Bukan telur suhu ruang. Sehingga, adonan sulit mengembang. Sedangkan, saat membuat bolu ubi ungu, saya menggunakan telur suhu ruang karena baru beli dari warung. Saya baru tahu, bahwa untuk membuat beberapa jenis kue, harus menggunakan telur suhu ruang. Kini saya paham alasan Mama Mertua menyimpan sebagian besar papan telur di dapur, dan sebagian kecil di kulkas.
  2. Pisang diblender yang saya campur ke dalam adonan telur terlalu banyak, sehingga menyebabkan bolu terlalu basah dan berat, yang membuat adonan tidak bisa naik. Sedangkan, saat membuat bolu ubi ungu, saya menggunakan sedikit ubi ungu yang sudah diblender, dan adonan mengembang sempurna.

Nah, dari kegagalan membuat bolu pisang, saya sudah mendapat dua pelajaran penting. Lalu, bagaimana dengan membuat kue yang lain?

Ya, tadi saya gagal lagi membuat kue. Kali ini, membuat saya cukup sedih, tapi segera bangkit lagi. Usai Suami berangkat kerja, saya turunkan alat tempur baking saya. Alat baking yang saya cicil sedikit demi sedikit, dan dimulai dari ukuran kecil-kecil, karena, saya masih sangat pemula. Suami, ingin saya berproses, tidak ujug-ujug beli yang digunakan untuk “Pertempuran Besar”. Sayang, kalo di tengah proses, saya melempem.

Saya membuat Brownies Kukus resep Ny. Liem. Brownies yang sebenarnya sangat mudah dibuat, dan anti gagal. Dalam prosesnya, saya cukup excited. Yakin berhasil. Setelah adonan siap kukus, saya sambi sarapan tanpa melihat jam. Saya tergoda untuk membuka tutup panci. Woww, browniesnya mengembang sempurna! Cantik dan tidak pecah. Saya test tusuk gigi, sudah tidak ada adonan yang lengket. Buru-buru saya angkat dan potong-potong. Potongan pertama, mulus, namun potongan ketiga, ternyata, adonan di bawahnya belum matang sempurna. Masih basah dan sangat lumer!

Nyaris! Nyaris sempurna, nyaris sesuai harapan! Ahh.. Saya terduduk lemas, sedih, dan down. Saya berseru pada diri sendiri, “Kamu kurang sabar Tyas! Seharusnya, kamu sedikit bersabar untuk mencapai keberhasilan yang diharapkan”

Saya nge-WA Suami, dan curhat, bahwa saya baru saja nyaris berhasil tetapi gagal dalam sekejap. Saya sedih. Lalu Suami mensupport,”Kan berproses..”.

Iya, saya sedang berproses. Saya sedang berproses mengupayakan sebuah keberhasilan. Tetapi, saya kurang sabar. Hikmah yang dapat saya petik dari brownies gagal tersebut adalah, “Sabar dalam berproses..”. Bukan hanya dalam membuat kue, tetapi juga, dalam hal-hal lainnya. Yakin saja tidak cukup, tanpa diiringi kesabaran. Intinya begitu.

Gagal dalam nge-baking, membuat kita belajar. Kita jadi paham dimana letak kesalahan kita, dan kita tahu apa yang harus dilakukan agar tidak gagal lagi. Itulah kenapa, meski banyak para ahli perbakingan membagi resepnya, tetapi saat dicoba orang lainnya, rasanya tidak sama persis. Karena, “Tangan-nya” berbeda, “Feelingnya” juga berbeda.

Belajar nge-baking itu tidak cukup sekali. Harus diulang berkali-kali agar memiliki cita rasa yang pas. Jadi, jangan heran, saat ada kursus nge-baking, biayanya lumayan mahal ya? Karena, cheff-nya pun harus melewati berbagai rintangan untuk menemukan teknik, ilmu, dan rasa yang pas dalam membuat kuenya. Belum lagi, biaya yang besar untuk menjajal resep-resep baru atau membeli alat baking yang memadai.

Eh, kenapa sih, kok sekarang saya jadi tertarik dengan dunia perbakingan? Ini semua gara-gara Grup Langsungenak! 😀 Setiap hari, berseliweran resep-resep aneka masakan dan kue yang membuat saya gerah untuk mencobanya juga. Selain itu, karena ingin meniru Mama Mertua Tersayang.

Saya mengerti, bahwa umur, siapa yang tahu? Tetapi, tidak dapat dipungkiri, bahwa setiap orang terbetik keinginan untuk berjumpa dengan hari tua. Saya berharap, dengan terus belajar nge-baking, mampu melatih skill saya untuk menyajikan masakan dan kue-kue enak untuk disajikan di ruang keluarga agar dinikmati anak-anak dan Suami tercinta, atau dibagikan kepada tetangga. Saat menua, saya tidak ingin hanya duduk termangu di depan Televisi. Saya ingin tetap aktif dan energik di dapur. Agar fisik saya terus bergerak, dan menolak pikun.

Tentu, menolak pikun tidak melulu harus nge-baking ya? Tetep, membaca Al-Qur’an adalah cara utama agar kita tidak menjadi pikun. Tapi, tentu, kita butuh aktifitas penunjang lainnya bukan? Nge-baking sampai tua adalah salah satu pilihan saya.

Mama Mertua begitu menginspirasi saya -semoga ALLAH memberkahinya-. Meski usianya sudah di atas enam puluh tahun, Mama Mertua masih aktif di dapur. Saat nikahan Ayuk Mimi saja, beliau masih sanggup membuat 20 loyang Bolu Panggang dalam waktu sehari! Olahan tangannya sangat enak! Suami sering merindukan masakan Mamanya. Itu yang membuat saya begitu terobsesi untuk banyak belajar masak dari beliau. Saya ingin, mengadirkan masakan Mama Mertua di rumah kami, meski jarak jauh membentang.

So, teman-teman yang sering gagal dalam masak dan membuat kue, jangan menyerah! Jika kita gagal lima kali, mungkin yang ke-enam kalinya kita berhasil! Tetep semangat..! hihihi..

~ Tyas Ummu Hassfi, Yogyakarta 6 Februari 2017

Siap-siap bikin Brownies Kukus ronde kedua.. 😀

Advertisements

2 thoughts on “Belajar (Nge-Baking) Tidak Cukup Sekali!

  1. Wah, pasti syedih ya mba, kyaknya udah mau makan berhasil eh kecepetan buka kukusan, huhu.. btw mama mertuany hebat ya masyaAllah, bikin 20 loyang bolu sendiri.. jadi inget nenek mertua rahimahallah masakannya enak2 n ngangenin, sayang blm sempat belajar dari beliau T.T

    Like

    1. Hihihi, Mama Mertua mah emang Jualan Kue Mbak.. Buat didrop di kios-kios Snack gitu. kalo di Jogja yaa kayak Excellent yang di Jl.Magelang itu.

      Iyaa.. Sedih lah Mbak, udah menul-menul eh bawahnya belom mateng. Tapi aku kukus lagi dengan perasaan hampa, eh.. berhasil juga, meski bentuknya alahembuh banget.. xixixi..

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s