Baru Tahu Rasanya…

goodbye-graphic-share-on-myspace
Good bye Dora…

Dulu, saya pernah meledek Feby, anak tetangga yang baru kelas 2 SD. Ia menangis karena Kucingnya mati ketabrak motor.

“Halaah Feb, Kucing doang ditangisi..”

Saat masih ngajar di SD Akhwat Jamillurahman, juga pernah dibuat prihatin sekaligus heran saat mendengar Wali Murid cerita,

“Dulu, kami beli Kucing Persia tujuh ratus ribu Ustadzah. Trus, ditinggal pergi tiga hari (atau seminggu lupa). Udah dikasih makan, tapi makanannya habis. Trus mati deh. Kami ngubur di ujung kompleks sambil nangis bertiga..”

Saya cuma mbathin, “Yaelah, cuma Kucing sampe segitunya sih?”

Nah, tadi sore, Ibu saya nelpon. Suara saya masih parau karena nangis seharian. Ibu heran, karena seumur-umur telpon, baru tadi denger saya nangis.

“Lho, kenapa Mbak? Ndengaren nangis koh.. (Tumben nangis)..”

Tangis pun pecah lagi, “Kucingku mati Mah.. Huhuhu..” saya menangis seperti anak kecil.

“Oalaah.. ALLAHU AKBAR.. Ujarku kenangapa? Tuh, di rumah banyak Kucing. Sana, bawa ke Jogja semua. Daripada nyolongi Iwak..” Ibu tertawa geli mendengar alasan saya menangis.

Seketika saya tersentak. Oh, begini to rasanya? Saat saya keheranan dengan orang yang menangisi Kucing mati, kini giliran saya diledek oleh Ibu saat kucing saya mati.

Sedih sekali…

Ternyata, kehilangan kucing kesayangan itu rasanya seperti kehilangan anak. Serius.

Kucing kecil yang manja dan nginthil kemana-mana, bobo bareng kalo siang, dikasih makan, dan tingkahnya kadang bikin ketawa atau emosi, membuat kita terbiasa dan timbul naluri kasih sayang yang tulus. Seolah, kami sudah satu paket. Saling membutuhkan. Saya butuh kucing untuk memberinya kasih sayang, dan kucing membutuhkan saya untuk menyayangi mereka. Seperti Ibu dan anak.

Saat Dora sakit, saya selalu mengkhawatirkannya. Membelainya, menggendong, memijit punggungnya, dan menyuapinya. Demikian pula Suami, saat bekerja, pikirannya terbelah. Gelisah mengingat si kecil yang tengah sakit. Setiap pulang ke rumah, yang dicari bukan Istrinya dulu, tapi si kecil Dora. Lalu, saya laporkan perkembangan Dora seharian. Kami berupaya mencari kesembuhan untuknya.

Hingga tadi pagi, kami harus menerima kenyataan pahit bahwa jatah hidup Dora sudah berakhir. Dora mati di pangkuan saya. Saya tidak percaya Dora mati, dan membangunkannya berkali-kali.

“Dora, bangun Dora.. Bangun sayang.. Ayo Dora, bangun…” air mata mulai berebut keluar. Suami terdiam juga, sambil menepuk pelan tubuh Dora, dan mencari denyut jantungnya.

“Iya.. Dora udah meninggal..” katanya lemah.

“Innalillahi wa inna ilaihi roo’jiun…” Seketika, meledaklah tangis saya. Emon menghampiri kami. Ia menjilat-jilat tubuh Dora. Tangisan saya semakin menjadi.

“Emon.. Dora mati Mon.. Dora udah mati..” sedih sekali rasanya. Saya nggak nyangka secepat ini Dora meninggalkan kami.

Lebih tidak menyangka lagi, Suami saya pun ikut menangis. Selama pernikahan kami, ini kali ketiga melihat beliau menangis. Saat sakit dan demam tinggi sekali, saat keponakannya tak sadarkan diri pasca kecelakaan, dan saat Dora mati.

Kami berpelukan dan saling menguatkan. “Ini takdir ALLAH. Ini yang terbaik buat Dora.”

Saat Suami menggali kubur Dora di belakang rumah, saya duduk terpekur di samping jasad Dora. Menepuk-nepuk tubuh Dora. Berharap ia bangun. Tapi qadarallaah, Dora memang sudah tiada.

Dada terasa sangat sesak, melihat bahu Suami naik turun menahan tangis saat mengubur Dora. Saya termenung di balik pintu dapur. Sungguh, kematian begitu dekat.

Seharian, saya kehilangan gairah mengurus rumah dan nafsu makan. Untunglah, Suami berjanji untuk pulang kerja lebih awal. Emon hanya duduk terpekur menatap saya. Ia pun ikut sedih.

Sepulang kerja, Suami menghibur saya, “Sudah, jangan bersedih terus. Binatang tidak akan dihisab kok di akhirat nanti. Tapi mereka akan di-qishas. Setelah itu, mereka akan dipenuhi haknya, lalu menjadi debu..”

“Tapi mereka akan masuk surga?”

“Di Surga nggak ada binatang. Tapi, kalo kita masuk Surga, bisa minta apa aja kan sama ALLAH? Aku mau minta, dipertemukan kembali sama Dora.”

“Aku juga mau ketemu Dora lagi di Surga..”

“Jangan ratapi Dora lagi. Aku sudah ikhlas, ini memang yang terbaik buat Dora. Daripada dia menderita sakit terus menerus kan? Dora meninggal (Suami lebih suka bilang meninggal daripada mati) sudah ditakdirkan ALLAH. Dora bersama kita, juga sudah ditakdirkan ALLAH. Jadi, yang paling layak ditangisi adalah dosa-dosa kita..” nasehat Suami.

“Sekarang aku mengerti, kenapa wanita nggak boleh ikut ke kubur. Karena, ia akan meratap seperti aku ya?” saya mengusap air mata dan belajar legowo.

Suami mengangguk dan tersenyum, “Nanti kita cari Istri lagi buat Emon ya? In syaa ALLAH..”

Hhh.. Alhamdulillaah a’la kulli haal..

Ternyata begini rasanya ditinggal mati ya? Ini baru Kucing. Belum kalo Orang Tua, Pasangan, Anak-anak? Pasti lebih pedih lagi.

Benarlah, sabar itu sukar, makanya diganjar Surga. Tapi jika mau berusaha, bersabarlah.. Karena sesunggunya, kesabaran itu terletak pada benturan pertama.

~ Tyas Ummu Hassfi, Yogyakarta 08 Februari 2017

Kemungkinan, Dora mati karena Penyakit Feline Panleukopenia

Save

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s