Review Restaurant Umar

wp-1489940687677.png
Nasi Kabuli yang enaaaaak banget!

Alhamdulillah… Gondok gara-gara insiden nggak jadi makan di Umar Restaurant tempo hari, hari ini sudah terobati. Sengaja banget, tadi sore masak menu ringan, biar bisa alesan buat makan malem di luar, xixixi. Modus banget yak? 😂

Akhirnya, tadi ba’da Isya kami ke Umar Resto lagi. Abang pesimis sih, khawatir habis atau dilayani orang yang sama lagi. Wkwkwk. Tapi, alhamdulillah.. Pas nyampe sana, disambut sama Ownernya. Fyuhhh.. Legaaa.

wp-1489940705695.png
Hanith Lamb

Kami penasaran banget pengen nyicipin cita rasa Timur Tengah yang konon endesss banget rasanya. Dulu pernah sih, nyobain masakan Timur Tengah, Nasi Bukhari. Di sebuah resto di daerah selatan. Tapi rasanya zonk. Selain pake beras biasa, juga lebih mirip nasi kuning dicampur kuah Gulai. Tastenya kurang nendang.

Nah, berbekal informasi dari Dek Icha, kalo ada Resto Timur Tengah yang enak, jadilah kami penasaran banget pengen nyobain. Umar Restaurant, berlokasi di samping Mangrove persis. Depan Fakultas Teknik UNY. Tempatnya mungil dan nyempil. Kupikir besar seperti Ajwad, milik Ustadz Khalid Basalamah, hohoho. Tapi, kalo malem tetep nyaman kok tempatnya. Ada lesehannya juga.

Trus, udahan ya mendeskripsikan tempatnya? Sekarang aku mau ngreview rasanya.. 😂 Barangkali, ada yang pengen nyobain juga.

Tadi, aku pesen Nasi Kabuli. Nasi Kabuli terdiri dari beras Arab yang panjang dan langsing, sayuran berupa irisan wortel, buncis (mungkin), dan jagung yang dipipil. Sama irisan daging kambing empuk yang besar-besar, plus sambel. Sepintas tampilannya mirip nasi goreng, tapi yakinlah, ini seratus kali lipat lebih enak dari nasi goreng. Hahaha.

Aku puaaaas banget makan ini. Porsinya pas buatku, meski harus rela, ‘dijajah’ juga sama sendoknya Abang. Wkwkwk. Harga satu porsi Nasi Kabuli Rp. 25. 000,-. Lebih murah, timbang nggawe dhewek, urung karuan rasane nggenah. 😂

Selain Nasi Kabuli, aku pesen minum es Pink Khasmiri Tea. Nah, ini yang unik. Seruputan pertama, aku seperti lagi minum Daun Salam. Hahaha. Tapi tenang, nggak pake Daun Salam kok aslinya. Hihihi. Rasanya enak banget lho. Gara-gara pesen ini, aku juga beli air mineral. Karena kupikir, rasanya bakal manis-manis setroberi, yang nggak cocok diminum dengan menu berisi daging kambing. Elah jebul cocok-cocok aja. Dan air mineralnya nggak diminum, dibawa pulang deh.

Pink Khasmiri Tea atau Noon Chai ini berasal dari daerah Khasmir, perbatasan India dan Pakistan. Terdiri dari susu, teh bubuk, pistachio, kenari, garam, baking soda, dan rempah lainnya. Warna pink cantik dari teh ini berasal dari baking soda. (Sumber : Dari berbagai sumber di internet). Satu gelas Pink Khasmiri Tea disini dibanderol cuma Rp. 8. 000,- saja!

wp-1489940645805.png
Menu Utamanya

Kalo aku pesen Nasi Kabuli, Abang pesen Hanith Lamb. Hanith Lamb berisi nasi arab, daging domba panggang yang dibungkus aluminium foil, soup, dan sambel. Warna nasi hanith lamb kuning seperti nasi kuning. Tapi rasanya, jauuuh dari nasi kuning. Daging domba yang dibungkus ini lembuuuuuut banget. Tapi agak berlemak. Rasanya, nendang abis. Empat jempol deh. Soupnya polosan, cuma kuah aja sih. At least, enak juga kok. Untuk hanith lamb, dibanderol Rp. 30. 000,-.

Minumnya, awalnya Abang pesen Banana Milk. Tapi katanya abis, padahal di meja ada Pisang Ambon. Wkwkwk, mungkin bahan lainnya kali ya yang abis?

Jadi, aku rekomendasikan Umar Restaurant sebagai pilihan kuliner teman-teman. Rasanya dijamin enak, karena kokinya orang Arab asli. Berasnya, jelas beras Arab asli bukan kawe. Pelayanannya ramah, berarti yang kemarin ahad itu, pas banget bukan rejeki kami.

Menu yang disuguhkan, Nasi kabuli, Hanith Lamb, Chicken Tikka Biryani, Hummus + Roti, dll. Bisa ditengok di foto ya? Hehehe.

Oya, satu lagi yang bikin kami berkesan. Owner dan teman-temannya sesama orang Arab, sopan banget lho. Saat masuk Resto, mereka selalu ngucapin salam. Jaraaaang banget aku nemu orang ngucapin salam di tempat ramai. Pas pulang juga, mereka pada duduk di meja luar. Motor salah satu diantara mereka menghalangi jalan keluar kami. Eh.. Buru-buru temennya pemilik motor yang liat kami mau keluar, minggirin motornya. Maa syaa ALLAH. Ini juga baru sekali ada orang yang peduli sama penghalang jalan. Biasa mah, cuek aja. 😂

Selamat mencoba ya? Ini murni review kok, bukan endorse atau iklan berbayar. Hihihi.

© Tyas Ummu Hassfi, Yogyakarta, 15 Maret 2017

Save

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s