Mudik

17425992_1970726696490304_4701760937948067687_n

OTW Cilacap, saatnya kembali ke dunia “Per-Inyong-an” hahaha. Jangan ada “Iki-iki, Ono-ono, Opo-opo, Piye-piye” diantara kita. Kalo iya, maka siap-siap dibully,

“Kowe jane wong ngendi? Gaya banget luh piye-piye? Dongane tulih ‘Kepriben’. Tembe wingi ben mangkat meng Jogja, wis kepengin dikeplak nek ngomong”

Hahahaha..

Laa haula wala quwwata illa billaah…

Udah delapan tahun hidup di Jogja, mudik cuma setahun tiga kali, Idul Fitri dan liburan semester doang. Bergaulnya kebanyakan dengan orang luar Jawa dan daerah wetan. Maka perlahan tapi pasti, logat ngapak mulai memudar, bahkan kadang mulai hilang satu persatu kosakatanya. Ditambah, menikah dengan orang Sulawesi – Sumatera, yang logat Bugisnya masih kental. Yowes, mbendina ngomonge pake bahasa Ibu. Kalo engga, maka, “Akan ada roaming nasional diantara aku dan kamu..” #eaaaa

Dulu, saat mudik, saya tiba-tiba pengen ngakak ketika Bus Efisiensi lepas dari Kebumen, dan mulai masuk Kabupaten Cilacap. Geli sendiri mendengar Sopir Bus, Kondektur, dan orang-orang daerah karesidenan Banyumas bercakap-cakap dengan logat ngapaknya.

“Kepriwe kabare rika? Jere bar badan arep mantu sing mbarep? Seger temen yah, ulih mantu wong sugih, bandane mblarah-mblarah neng ngendi ora? Wis ora perlu mikir nganti dengkule ngoyod.. “

Misaal.. Hihihi. Kurang lebih begitu cara orang ngapak dalam bercakap-cakap atau memulai obrolan, khususnya Cilacap. Khas, dengan candaannya yang kalo diobrolin dengan sesama orang ngapak, feel kocaknya dapet. 😂

Yah… Sejauh apapun kita merantau, tetaplah Kampung Halaman adalah tujuan pulang. Tempat berkumpul dengan orang tua dan keluarga yang dikasihi. Tempat mematri rindu, yang datangnya tak dijemput, pulangnya tak diantar. Ah.. Sayangnya, obat rindu hanya bertemu.

Banyak orang rela berjubel-jubel di bus, terjebak macet, membayar mahal untuk sebuah tiket pulang. Beragam bekal dipersiapkan, bergembol-gembol oleh-oleh pun tak lupa dibawa. Sebagai bukti, bahwa kita telah sukses mengadu nasib di tanah rantau.

Apakah kita juga segitunya kalo mau pulang kampung ke akhirat? Harusnya sih begitu ya?

Kita nabung amal baik banyak-banyak, dan mempersiapkan diri, kalo-kalo mendadak dijemput, disuruh pulang ke kampung halaman yang kekal. Ditanya, “Ngapain aja kamu di ‘tanah rantau?’.. ” kalo kita banyak beramal shalih, minimal, nggak perlu memohon-mohon sama ALLAH supaya dibalikin lagi ke Dunia. Karena nggak siap untuk menanggung dan menjawab pertanyaan tersebut. Atau nggak perlu ngiri sama Kucing, dan berandai-andai jadi kucing. Yang kalo selama di dunia mereka suka berantem, lalu di akhirat mereka akan diqishos dan ditunaikan haknya, lalu ‘blammm’ mereka menjadi debu. Sedangkan manusia, harus menuai hasilnya. Bisa melenggang masuk surga, atau dicelupkan dulu ke neraka, atau langsung dicelupkan ke neraka dan kekal di dalamnya.

Laa haula wala quwwata illa billaah…

Sebagaimana orang yang merantau, akan ada saatnya ia harus kembali. Demikian pula dengan kehidupan di dunia. Akan ada saatnya kita kembali ke akhirat. Maka, sudah sepatutnya, kita mempersiapkan diri menyambut saatnya tiba. Dengan sebaik-baik bekal menuju akhirat, bukan justru memperbanyak kekayaan untuk saling berbangga diri sebelum ajal menjemput.

ALLAH Ta’ala berfirman :

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau yang melalaikan, perhiasan, saling berbangga diri di antara kalian, dan saling berlomba untuk memperbanyak harta dan anak.. ” (Surah Al-Hadid : 20)

Demikianlah…

Janganlah kau merasa aman dari kematian walau sekejap, sehembusan nafas sekali pun. Walau kau halangi kedatangannya dengan pengawal dan penjaga. Sungguh ia pasti datang kepada siapa saja yang berbaju besi pun yang berperisai. Kau harap selamat tanpa jalannya. Adakah sampan terkayuh berjalan di daratan?*

© Tyas Ummu Hassfi,

Stasiun Kutoarjo, 25 Maret 2017, pukul 08. 58 WIB..

~ Menunggu Kereta Kutojaya Selatan berangkat, yang akan membawaku pulang ke rumah Ibuku..

* Source : Buku Takziyatun Nafs, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s