Nggak Bisa Masak Itu Mitos

wp-1490836547961.png

Nggak bisa masak itu mitos. Yang ada itu males belajar masak!

Bener apa bener? Hihihi.

Dulu, aku juga nggak bisa masak. Ya gimana mau bisa masak, wong belajar masak aja nggak pernah? Menurutku, masak itu capek dan ribet. Jadi bawaannya maleeees.

Setelah menikah, aku dituntut untuk bisa masak. Karena, Suami menghendaki aku, totalitas jadi Ibu Rumah Tangga. Sadar diri, kalo jadi ibu rumah tangga, semestinya bisa cakap dalam urusan domestik di dalam rumah, di antaranya adalah perkara MASAK! Orang pandai masak itu pasti sudah melalui fase dimana masakan gosong, keasinan, kemanisan, hambar, dan lain-lain, yang semua itu hanya diperoleh ketika BELAJAR. Iya, belajar masak.

Seperti halnya keterampilan yang lainnya, bisa mencapai hasil maksimal, saat kita berupaya dengan sungguh-sungguh untuk melakukannya. Demikian sebaliknya, jika kita pasrah saja dengan keadaan, karena merasa masakan nggak enak, kue bantat, dan lain sebagainya lalu kita enggan berusaha lagi, itu namanya menyerah. Karena sejatinya, pasrah itu setelah berusaha.

Mama Mertua mengakui, beliau juga dulunya nggak bisa masak kok di awal-awal pernikahan. Tapi, beliau terus belajar dan berusaha. Lihatlah, sekarang beliau menjadi Master Chef bagi keluarga kami. Dan, masakannya, enak tak tertandingi. Semua itu butuh proses dan waktu yang tidak sebentar lho. Ditambah lagi, beliau pernah tinggal di hutan, yang tetangga aja jauh, apalagi Internet, belum ada! Tapi beliau bisa melewati fase belajar dengan sukses hingga se-expert sekarang.

Aku jadi semakin termotivasi untuk bisa masak, ketika mendapati kenyataan, bahwa suamiku, kurang suka dengan masakan warung. Seperti sayur matengan, rames, bubur ayam, atau masakan yang dijual di warung-warung atau tepi jalan. Beliau lebih suka masakan rumahan. Jadi, yah.. Mau nggak mau, suka nggak suka, aku kudu masak setiap hari untuk sarapan dan makan malem beliau. Tadinya, bawa bekal juga buat makan siang di kantor. Tapi setelah Pustaka Sunnah udah ada karyawan, beliau udah nggak bawa bekal lagi.

Nggak bisa masak itu cuma mitos. Yang bener, males belajar masak. Selalu ada alasan buat menunda belajar masak. Padahal, selain menuntut ilmu syar’i, wanita juga perlu untuk melayani suaminya. Bentuk pelayanan untuk suami kata Ibuku ada 3 UR. Yakni, Sumur, Kasur, dan Dapur. Dapur itu berkaitan dengan perut suami.

Bahkan, Umamah binti Harits dalam sebuah kisah yang diceritakan oleh Ustadz Armen Halim Naro – rahimahullah- dalam kajian Buhul Cinta, berpesan kepada putrinya, salah satunya untuk memperhatikan waktu tidur dan makan suaminya. Karena lapar membakar dan kurang tidur membuat nanar.

Hal ini bermakna, agar sebagai Istri kita siaga untuk menyiapkan makanan bagi Suami, supaya lapar tidak membakar amarahnya. Karena orang yang lapar itu menjadi mudah tersulut emosi. Dengan kita menyiapkan makanan sendiri untuk Suami, membuat suami kenyang, ridha, dan tentu saja berpahala. Terlebih kalau sudah punya anak, bukankah kita patut berbangga jika anak-anak merindukan masakan kita saat jauh di rantau?

Waktu Dek Rizki tanya ke aku, “Mbak, tips biar bisa rajin masak itu apa sih?”

Aku nggak punya tips khusus sih, ini faktor utama lebih tepat karena Suami nggak suka beli makanan warung, satu. Budaya di keluarga Suami kalo wanita itu harus bisa masak, yang akhirnya memicu aku buat terus berlatih masak, dua. Mumpung masih muda dan belum repot parah, supaya kepekaan, kreatifitas, dan skala memasakku terlatih dengan baik, tiga. Ternyata, dengan seringnya aku masak, aku bisa menemukan passion-ku. Bahkan berkolaborasi, antara menulis dengan memasak. Jadi berasa banget efek baiknya buatku, empat. Nah, itu memotivasi banget buat terus masak setiap hari. Karena hampir-hampir, setiap masakan memiliki ceritanya sendiri.

Mengaku belum bisa masak, seharusnya memacu semangat untuk terus belajar. Meski Suamimu berkata, “Nggakpapa, Istriku nggak bisa masak. Kamu ada di sampingku aja, aku udah bersyukur kok..”

Yahh.. Meski punya Suami yang pemikirannya begitu, bukan berarti kita bisa berkata, “Alhamdulillaah.. Punya Suami yang nggak nuntut Istrinya buat bisa masak..!”

Itu sama halnya dengan ketika Suamiku bilang, “Nggakpapa Istriku badannya gendut, lemak menari-nari di perutnya, wajahnya bulat sempurna mirip Novia Kelopaking, aku tetap cinta kok..” alaaaah.. Masa iya, Suamiku nggak pengen Istrinya tetap langsing dan cantik jelita seperti saat dipinang? #ehhh

Trus, aku tetap percaya diri gitu dengan badan yang semakin melar seperti Mamalia bernama Paus? Kan enggak.

Justru aku kudu berusaha buat tetap tampil menarik di depan Suami. Melar seperti Paus aja Suami cinta, apalagi kalo langsing dan cantik seperti Rusa?? Pasti makin cinta.. Hihihi.

Nah.. Itu analogi buat yang mengaku nggak bisa masak, tapi nyante-nyante aja nggak mau belajar. Puas dan bangga suaminya menerima dirinya yang ngga bisa masak. Nanti ada orang lain pinter masak, dan Suami suka bangeeet sama masakannya, kelabakan hari-hari lo! Sibuk gentawilan golet resep karo mumet mbedakna endi Tumbar, endi Merica? 😂

Nggakpapa, tertatih-tatih belajar masak. Momentum tangan keparut saat marut kelapa, keramik pecah saat nguleg bumbu, tangan bontang-bonteng meninggalkan belang karena kecipratan minyak goreng, jempol kaki benjut karena ketiban mutu (Ulegan), dll.. Semua itu akan diputar ulang saat hari pembalasan. Jika kita ikhlas, akan menjadi catatan pahala, akan menjadi amal kebaikan, karena kita telah berupaya menjadi Istri yang melayani Suami sepenuh cinta.

Percayalah… Alat tempur bernama wajan, sodet, kompor, loyang, mixer, oven, dan lain-lain, adalah senjata yang handal untuk menaklukkan Suami. Perut yang kenyang, masakan yang enak dan sehat, pelayanan Istri di meja makan, obrolan ringan di sela makan, membuat Suami nyaman dan merasa demikian dimuliakan oleh Istrinya. Dari sinilah, cinta dan rindu rumah itu bermula.

Aku pun begitu. Sampai sekarang, aku belum pandai masak. Masih dalam proses belajar. Resep yang sering aku bagikan, adalah eksperimen dari proses belajarku. Tapi dari sanalah, aku jadi memiliki tabungan pengalaman seputar dunia masak memasak untuk kemudian, aku bagikan kembali.

Teman-teman, yuk.. Mulai dari sekarang, kita sama-sama belajar memasak. Yang belum menikah, nggak ada salahnya lho mulai latihan masak bareng temen-temen di kost. Yang udah jadi Pengantin Lawas, terus tingkatkan semangat masaknya ya? Jangan bosan-bosan masak untuk Suami ya?

Di atas adalah sebagian faktor yang memotivasi aku untuk terus belajar masak, dan rajin masak. Trus tipsnya? Baiklah, aku bagikan juga tips supaya temen-temen bisa ketularan rajin masak. 😂

1. Buat daftar Menu

Membuat daftar menu menjadikan kita nggak bingung mau masak apa untuk nanti dan besok. Saat ke warung pun nggak bingung lagi mau belanja apa? Karena, menu yang mau dimasak sudah ada. Tinggal melengkapi bahannya saja. Selain bikin nggak bingung, juga membuat kita hemat, serta bisa memperkirakan berapa pengeluaran yang dipakai untuk makan bulan ini.

Bisa dilihat di Blog-ku, yang berjudul “Menyusun Menu Sebulan untuk Keluarga”

Menu tidak harus plek jiplek mirip, boleh diubah kok. Ini hanya sebagai gambaran saja.

2. Rajin membaca grup-grup yang berisi masak-memasak.

Seperti grup Langsung Enak. Apalagi hp kita udah dilengkapi fitur screenshot. Kita bisa SS resep-resep yang berseliweran disana. Dan otomatis, biasanya, akan memancing kita untuk mencobanya juga. Nah, coba-coba seperti ini tuh rasanya nagih. Gagal, coba lagi! Sampe berhasil. Kalo udah berhasil, kita akan memiliki tips dan trik tanpa sengaja. Itulah yang secara tidak sadar membuat kepekaan kita soal rasa, aroma, dan teknik memasak, terasah dengan sendirinya. Atau, buka Blog-Blog soal perdapuran. Bisa juga, misal mau masak menu Sambel Goreng Ati. Klik di google, “Sambel Goreng Ati Ummu Hassfi” gitu, xixixi. Nanti bikin mupeng buat nyobain juga.

3. Lengkapi fasilitas memasak di dapur.

Masak itu perlu ditunjang dengan fasilitas yang memadai juga lho. Biar nggak rempong kalo mau masak. Minimal, fasilitas masak yang harus tersedia di dapur adalah 2 buah wajan, 1 khusus buat nggoreng dan 1 lagi buat numis, nyayur, dll. Jangan dicampur, wajan buat goreng juga buat nyayur. Bikin lengket nanti kalo pas goreng-goreng. Trus sodet dan serok yang enak banget buat ngoseng dan meniriskan. Pisau yang tajam, talenan kayu, dan panci kukusan. Dengan alat masak yang lengkap, nggak harus mahal dan lengkap seabreg-abreg (jere wong Cilacap) membuat acara masak lebih mudah. Nanti, kalo ada sisa uang belanja, dikumpulin, trus dipake buat beli alat penunjang masak lainnya, seperti parutan, teflon, cobek, mixer, dll.

4. Rajin Membersihkan Dapur

Dapur kotor itu bikin mood masak jadi jelek. Nah, biar moodnya oke, tiap habis pake dapur, cuci segera perabotan yang habis dipake. Jangan lupa, kompor juga musti rajin dilap supaya tetap cling dan menghindari korosi. Karena kompor yang berkarat dan kotor, membuat performanya turun, diikuti dengan mood yang juga turun, dan enggan menyentuh alat masak.

Lebih bagus lagi kalo dapurnya dihias, rajin diubah posisinya, penataan bumbu basah dan bubuk terorganisir dengan baik. Untuk bumbu kering atau bubuk, disimpan di dalam botol khusus, untuk bumbu basah, gunakan keranjang khusus juga. Pisahkan Cabe dengan bawang-bawangan, dan temu-temuan, untuk menghindari tertular jamur atau pembusukan.

5. Kalo malas melanda, ingat lagi motivasi di atas. 😂

Baru lima tips itu yang aku ingat dan lakukan. Hehehe. Maaf yaa kalo tulisannya panjang bukan kepalang? Wkwkwk.. Semoga bermanfaat ya?

© Tyas Ummu Hassfi, Yogyakarta, 29 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s