Sebuah Harapan

hope
Sumber gambar asli dari http://www.pixabay.com

Malam semakin merayap, jam digital di pojok kanan bawah layar laptop sudah menunjukkan pukul 23.32 WIB. Seharusnya, saya sudah terlelap. Menikmati empuknya kasur, dan nyamannya kamar kami. Namun entah mengapa, malam ini ingin sekali menulis sesuatu. Karena yaa, memang sudah lama tidak “Curhat” di Blog ini (Selain review). Hmmm, lihatlah, disana-sini sudah banyak debu sebab lama tak tersentuh oleh tulisan yang bermutu!

Sebuah harapan..

Dulu, saya bertekad ingin menulis setiap hari. One day, one post. Faktanya, sejak April lalu hingga September, justru saya vakum nge-blog. Bukan karena hilang selera untuk menulis, atau ide-ide di kepala sudah menguap. Karena laptop Acer Aspire 4750 yang sudah menemani saya sejak 2011 silam, sempat bermasalah. Keyboardnya minta diganti yang baru. Saya jadi malas menyentuh laptop. Memandangnya saja segan.

Laptop setia ini, akhirnya teronggok begitu saja di laci meja kerja saya. Berbulan-bulan lamanya, hingga akhirnya nge-hang dan sangat berdebu. Suami prihatin melihat kondisi laptop saya, lalu beliau berinisiatif membawanya ke service center. Alhamdulillah, dalam waktu dua hari saja, laptop saya sudah beres. Meski performa baterai sudah mulai menurun sih. Tidak mengapa, masih bisa buat menulis kok. Harapannya, saya bisa kembali aktif menulis lagi. Tulisan berbobot yang banyak memberi manfaat bagi pembacanya. Khususnya, bagi Ibu Rumah Tangga dan Muslimah pada umumnya.

Terus terang, menjadi ibu rumah tangga terkadang terasa menjemukan. Setiap hari hanya berkutat dengan itu-itu saja. Apalagi jika tidak produktif? Saya kadang turut prihatin, ketika melihat tidak sedikit ibu rumah tangga yang mengisi waktu luangnya untuk “ngendong” atau ngerumpi di warung, maupun di teras rumah orang. Mulai dari isi dapur sendiri hingga isi dapur orang lain diubek-ubek dengan begitu detail. Seakan, tidak ada aktifitas lain yang lebih bermutu dari sekedar menyuapi anak sambil ngendong.

Saya pun sering mengasihani diri sendiri, ketika banyak diam di dalam rumah tanpa melakukan aktifitas yang produktif. Pekerjaan domestik sudah beres, yasudah, tinggal gegoleran saja sambil main hape dengan the krucil’s. Rasanya sangat menyedihkan. Hati ini berontak, ingin berkembang dan terus mengasah keterampilan. Tapi bagaimana caranya?

Suami melarang saya untuk jualan online, sebab, jualan online bagi saya –menurutnya- akan membuat saya sibuk luar biasa. Bahkan, boleh jadi, akan membuat saya abai terhadap tugas utama saya (Pernah mencoba, dan memang kewalahan). Bekerja di luar rumah menjadi Guru lagi, pun tidak diperkenankan. Sebab, tugas mencari nafkah adalah tanggung jawab Suami. Tugas saya adalah, menjadi pemimpin rumah tangga, menjadi guru bagi anak-anak kami, menjadi partner hidup sehidup sesurga dengan suami, dan hal positif lainnya.

Namun terkadang, Syaithan membisiki, agar saya terjerembab dalam kecemasan akan keadaan diri saya. Membuat saya berontak dan mendobrak koridor syariat.

Hingga akhirnya, saya paham. Mengembangkan diri, mengasah keterampilan, dan memberi manfaat kepada orang lain, tidak harus membuat saya keluar rumah. Saya tidak perlu berlelah payah aktifitas berat untuk tetap produktif. Saya tidak perlu merasa jemu di dalam rumah, lalu asing dengan dunia luar.

Ya! Saya hanya perlu banyak belajar. Mencari sari-sari kehidupan di sekeliling saya, untuk dibagikan pada orang lain agar dapat diambil manfaatnya. Saya bisa mengubah dunia hanya dengan duduk manis di depan laptop, sembari menyeruput segelas teh hangat, dan mengayunkan jari saya dengan lincah di atas keyboard.

Aha! Benar… Saya bisa menjadi penulis yang produktif. Saya bisa menulis apa saja di blog ini. Saya bisa bercerita apa saja disini. Dan saya, membuka pintu lebar-lebar kepada kalian untuk bertamu di blog ini.

Saya akan berusaha menikmati setiap momentum menjadi seorang ibu rumah tangga. Belajar lebih giat lagi, agar bisa menjadi seorang istri yang menawan dan ibu yang bijaksana. Menambah wawasan, tidak harus melulu eksis di media sosial. Sejak Agustus lalu, saya sudah tidak begitu aktif lagi di facebook. Buang-buang waktu! Setiap membuka facebook, jari terasa tidak sanggup berhenti sekral-sekrol. Saya pun rentan stres akibat banyak berita yang tidak membuat hati nyaman di facebook. Segala hal yang tidak penting, bebas keluar masuk di dalam kepala saya sperti polutan. Ya, berita-berita tidak penting yang menjadi viral seperti sampah yang mencemari otak saya.

Nyatanya, memang benar. Setelah vakum cukup lama dari facebook, isi kepala saya kembali normal. Saya bisa lebih menikmati hidup, lebih santai, topik obrolan yang dibahas dengan suami bukan lagi berita viral di jagad maya. Tetapi seputar metode pendidikan anak, program ini itu, rancangan masa depan, hafalan Al-Qur’an untuk diperdengarkan pada anak, isi bab buku yang baru dibaca, dan lain sebagainya. Jika ingat akan manfaat meninggalkan medsos yang sangat positif ini, membuat saya merasa merdeka.

Yah…

Sebuah harapan baru bagi saya, mudah-mudahan, tahun depan, di usia ke lima tahun blog ini, saya sudah bisa memiliki domain dot com. Hahaha, jangan tertawa!

Bukan saya ingin terkenal. Tetapi, saya ingin kembali menjadi penulis yang produktif (Dan berbobot). Dengan domain dot com, membuat tulisan saya mudah dijangkau banyak orang. Syukur-syukur, menjadi perntara hidayah bagi orang lain (Itu artinya, saya harus men-skip curcolan tidak penting). Saya akan berusaha membaca kitab lebih banyaaak lagi, mendengar kajian lebih khusyuk, saya akan mencoba mengambil pelajaran dari orang lain yang telah banyak memberi manfaat bagi orang lain. In syaa ALLAH. Agar kelak, ketika tiada nanti, saya dikenal dan dikenang melalui tulisan. Agar kelak suatu hari nanti, tulisan saya yang bermanfaat, akan menjadi amal jariyah dan penolong di akhirat nanti. Sungguh, betapa saya banyak memiliki dosa. Semoga ALLAH ampuni, dan ALLAH berikan saya kesempatan untuk banyak beramal shalih. Meski hanya lewat sebuah tulisan. Aamiin, semoga.

Yogyakarta, Minggu dini hari, 29 Oktober 2017, pukul 00. 25 WIB.

Tyas Ummu Hassfi

 

Advertisements

7 thoughts on “Sebuah Harapan

  1. Salam kenal ya mba Tyas (hehe).. masalah sama dengan saya mba, peralihan yg cukup kaget. Biasanya bebas kemana2 skrg ada aturan dan banyak pertimbangan. Saya juga sempat berpikir keras supaya bisa tetap belajar efektif, memperluas ilmu. Hehe.. Alhamdulillah ‘ala kulli haal ternyata setelah menikah memang banyak sekali yg harus dipelajari salah satunya mempelajari ilmu ttg menahan ego.

    Salam kenal ya mba.. semoga kita bisa jadi ibu-ibu rumah tangga yg menebar manfaat kebaikan

    Like

    1. Salam kenal juga Mbak Nenden, eh bener kan ya Mbak Nenden? Hehehe..

      Iya… Aamiin. Semoga ALLAH jadikan kita sebagai ibu rumah tangga yang produktif dan bisa banyak memberi manfaat bagi orang lain.

      Aamiin Yaa ALLAH… 😃

      Like

  2. Blog keren seperti ini dengan tulisan yang penuh manfaat adalah modal utama dalam berbisnis online, tidak ada salahnya untuk mencoba Mba…, sekedar saran setelah baca2 postingan. kunjungan baliknya saya nantikan yes 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s