Ayo Belanja di Warung Tetangga!

textgram_1510321828
Foto toko milik Ibu. Toko “Al-Mubarok” Gandrungmangu, Cilacap

Selepas Isya, saya dan suami pergi ke pusat perbelanjaan di area UGM untuk membeli lampu LED. Sepulang dari sana, kami mampir ke sebuah toko milik warga di Jalan Jambon, dekat kompleks rumah kami tinggal. Saya membeli jajan “Rambut Nenek”,  dan Suami memborong Mie Goreng favoritnya.

Ketika membayar belanjaan senilai tiga puluh lima ribu rupiah, kami memperoleh selembar kupon undian berhadiah sepeda motor. Kami sempat tercengang. “Kok bisa?”

Oh, rupanya, Bu Sarwidji, pemilik toko, bergabung dengan sebuah paguyuban yang terdiri dari para pemilik toko-toko retail di kota Yogyakarta. Mereka (boleh jadi) saling patungan untuk membeli sebuah sepeda motor yang akan dibagikan kepada pemenang kupon undian. Selain sepeda motor, juga terdapat sepeda ontel, televisi, setrika, dan lain sebagainya.

Hmmm, menarik!

Jika toko besar sekelas Mir*ta, Pr*go, Ind*grosir, Alf*mart, Ind*maret dan semisalnya mengadakan undian berhadiah kita bisa berkata “Ah, wajar.. Kan profitnya besar?”

Tapi, jika toko-toko kecil milik warga menggelar undian berhadiah, tidak salah kan jika saya dan suami sempat kaget? Sebab, toko-toko milik warga, cenderungnya hanya akan dikunjungi oleh warga yang tinggal di area toko tersebut. Akibatnya, profit yang diperoleh toko mereka tidak sedahsyat profit yang diperoleh toko besar lainnya.

Sebagaimana yang dialami Ibu saya. Beliau sejak tahun 2013 lalu mulai merintis toko grosir dan retail sembako. Namun, seiring berjalannya waktu, masyarakat di sekitar toko ibu mulai beralih belanja ke minimarket modern berjejaring. Akibatnya, barang-barang di toko ibu banyak yang mulai lapuk dan berdebu, tidak laku. Seperti hand body, sabun cair, cairan pembersih lantai, dan lain sebagainya. Sebab, untuk barang-barang seperti yang saya sebutkan, warga lebih memilih membeli di toko modern berjejaring. Yang selalu tersedia stok baru, berjejer menawan dengan banderol harga yang rapi, ruangan ber-AC, dan promo-promo diskon lainnya.

Sedangkan toko kecil milik warga, dianggap ketinggalan era. Barangnya kemasan lama, stok sedikit, harga kadang tidak tercantum dan yang semisalnya.

Penyebab stok adalah kemasan lama, dan sedikit, karena pedagang khawatir jika mereka menyediakan stok yang banyak, tidak semuanya habis terjual. Padahal untuk menyediakan stok barang di toko, penjual harus mengeluarkan modal yang cukup  besar untuk membayar Sales. Yang bahkan, satu produk hanya meraup laba bekisar Rp. 300,- hingga Rp. 1000,- perak saja! Sangat kecil.

Saya terharu melihat toko-toko kecil di Jogja tergabung dalam paguyuban, lalu membuat undian berhadiah untuk menarik konsumen. Sehingga, daya beli masyarakat terhadap toko kecil akan semakin meningkat. Mereka termotivasi membeli produk di warung, sekaligus menyelipkan harapan bisa menang undian. Saya harap, di Cilacap, tempat toko ibu berada pun terdapat Paguyuban serupa.

Saya juga baru menyadari sih, ketika berbelanja di toko besar, hanya sebatas bercakap  dengan kasir terkait, “Berapa?”, “Tidak ada kartu member”, “Tidak didonasikan untuk itu”, dan “Terima kasih”.

Namun, ketika berbelanja di toko warga, kami akan ngobrol dengan hangat. Berbasa-basi sebentar, melempar senyum, bahkan, jadi saling tahu namanya. Boleh jadi juga, ketika hajatan, saling mengundang antara pemilik toko maupun pelanggan. Interaksi sosial yang harmonis bukan?

Mengutip kalimat David Efendi pada laman Kompasiana, “Membeli di warung tetangga akan menumbuhkan kekuatan ekonomi keluarga itu. Kita jadi berperan bagi tegaknya ekonomi dan ketahanan sebuah keluarga. Suami, istri dan anak-anaknya.”

Ya benar, dengan membeli kebutuhan sehari-hari, maupun mingguan di warung atau toko tetangga, kita telah membantu menggerakkan pundi-pundi ekonomi sebuah keluarga. Untung lima ratus rupiah untuk setiap produk yang terjual, In syaa ALLAH peruntukannya jelas bagi masa depan putra-putri pemilik warung, hari tua pemilik warung, hingga karyawan yang biasanya berasal dari warga sekitar.

Dari berjualan sembako di toko, Ibu saya mampu menyekolahkan semua anak-anaknya hingga perguruan tinggi. Dari toko, ibu saya mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarga kami. Tidak sepenuhnya mengandalkan uang pensiun dari Bapak.

Saya telah membuktikan, bahwa menjadi pedagang toko atau warung, masa depan seorang anak bangsa dapat tercetak. Harapan hidup usia senja bagi kedua orang tua saya terbentang luas.

Namun, jika semua orang mulai meninggalkan toko dan warung tetangga, lalu darimana keluarga yang mengandalkan penghasilan dari toko memperoleh pendapatan? Yang besar akan semakin besar, yang kecil akan semakin tenggelam.

Ayo! Mulai hari ini, berbelanja gula pasir, minyak goreng, dan kebutuhan harian lainnya di toko dan warung tetangga lagi ya! Dekat, murah, dan hemat.

Mari selamatkan toko dan warung tetangga kita!

© Tyas Ummu Hassfi, Yogyakarta, 10 November 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s