Pake Cadar, Nggak Susah Makannya?

textgram_1510467843.png
Nggak susah In Syaa ALLAH..

 

Tidak sedikit orang yang bertanya kepada saya, “Pake cadar, nggak susah makannya (Di luar)?”

Ketika awal mengenakan cadar, mungkin saya akan menjawab, “Lumayan susah”. Namun setelah sekian lama mengenakan cadar, dengan lantang saya menjawab, “Tidak susah”.

Banyak orang yang penasaran, “Bagaimana sih cara makan orang bercadar?”. Hingga akhirnya saya tertarik untuk menulis pengalaman ketika makan di luar dengan mengenakan cadar.

Awalnya sulit, oh tentu saja! Tidak dapat dipungkiri ketika makan di luar saya harus menahan “derita” wajah pedas dan panas akibat tersiram kuah bakso atau terkena sambal. Wajar, namanya juga sedang adaptasi. Masih mencari-cari bagaimana caranya makan di luar tanpa harus belepotan, dan kerepotan.

Saya tidak pernah mencari tutorial cara makan wanita bercadar (Karena di sana banyak menampilkan gambar atau video wanita yang mengundang fitnah). Islam itu mudah. In syaa ALLAH, tanpa melihat tutorialnya saya pun bisa makan di luar meski mulut terhalang cadar. Ini soal naluri, sebagaimana kucing yang memiliki naluri ketika melihat pasir peruntukannya adalah untuk Pup. Lalu bagaimana halnya dengan kita, yang berakal dan berpikir. Tentu, kita akan terus mencari cara, bagaimana agar tetap bisa makan normal dengan menggunakan cadar.

Bagaimana caranya? Mari kita simak pengalaman saya makan di luar tanpa kerepotan dan belepotan (parah). Bahkan bi’idznillah bisa makan aneka menu di acara kondangan. 😂

Cari Bangku Kosong yang Mepet Dinding

Ketika makan di luar, pastikan tersedia bangku kosong di pojok sebelah kanan, mepet dinding. Karena kita makan menggunakan tangan kanan, artinya, kita akan menyendokkan makanan melalui celah cadar sebelah kanan. Jika tidak ada, dan belum terlalu pede, cari tempat lain saja. Makan di luar bersama Suami, tentu lebih nyaman lagi. Karena suami bisa duduk di sebelah kanan atau depan kita untuk melindungi wajah dari pandangan ajnaby.

Kalo soal posisi tempat duduk, alhamdulillah saya sudah bisa makan dimana saja. Empat tahun mengenakan cadar adalah waktu yang cukup bagi saya untuk belajar banyak hal, diantaranya cara makan ternyaman di luar ketika mengenakan cadar. #sombong! Hihihi.

Gunakan Cadar yang Nyaman

Cadar memiliki beragam jenis. Seperti cadar tali, cadar bandana, cadar rits, purdah dan burqa. Saya memiliki empat jenis cadar, yakni cadar tali, cadar bandana, purdah, dan cadar rits. Jenis cadar yang paling nyaman untuk digunakan di luar rumah adalah cadar bandana, kemudian cadar tali, cadar rits, baru purdah. Burqa menurut saya tidak nyaman, karena terlalu ribet.

textgram_1510465678
Ini gambar cadar bandana. Menggunakan media guling untuk modelnya. Hahaha. Abaikan penampilan cadarnya yang kotor, kemarin abis dipake kondangan belum dicuci. 😀

Cadar bandana merupakan cadar favorit saya. Cadar ini mampu menutup bagian alis dan kening. Tali pengikatnya lebih kokoh dibanding cadar tali. Saya nyaman mengenakan cadar bandana, sebab biasanya, kainnya agak lebar. Sehingga, ketika tangan saya masuk ke celah cadar, kain cadar di bagian pipi sebelah kiri tidak ikut ketarik.

textgram_1510465885
Cadar talinya kusut, belum diseterika. :/ (Ngeles mulu)

Selain cadar bandana, saya memiliki cadar tali. Cadar tali milik saya sudah satu set dengan jilbab lebar sebetis dan gamis. Nah, cadar tali merupakan cadar yang sangat rawan tersingkap. Jadi akhwaat, kalau mau pake cadar tali, gunakan peniti ya di kedua sisinya? Supaya tidak tersingkap. Ketika makan, lepas peniti di sebelah kanan. Baru deh menyuap makanan pelan-pelan.

textgram_1510466538
Ini penampakan cadar rits yang menggunakan purdah. Bisa disebut juga sebagai cadar rits safar. Kalo mau makan, rits-nya diturunkan. Atau, lewat bawah jilbab.

Saya jarang menggunakan cadar rits, karena lumayan bikin agak susah bernafas. Makan di luar menggunakan cadar rits sesungguhnya amat sangat nyaman. Karena, sebagian wajah kita bisa terbuka. Akses makanan ke mulut juga mudah. TAPI ada syarat khususnya! Yakni, harus makan di area pojok, di samping kanan kita dinding, di depan kita dinding, dan di samping kiri atau belakang yang duduk bukan laki-laki ajnaby. Sehingga kita bisa makan seperti biasa tanpa harus memasukkan makanan lewat bawah jilbab.

Purdah dan cadar bandana hampir mirip. Bedanya, jika cadar bandana hanya satu lapis untuk penutup wajah, sedangkan purdah terdiri dari beberapa lapis kain. Lapis pertama untuk menutup wajah. Lapisan tipis kedua untuk menutupi mata (Kainnya tipis, jadi masih bisa digunakan untuk melihat. Lapisan ini bisa disingkap ke belakang kepala kok) Dan lapisan ketiga untuk menutup bagian kepala.

Saya jarang menggunakan purdah, sebab kain penutup wajahnya terlalu lebar. Sehingga, jika hendak makan, kita perlu memasukkan tangan agak dalam untuk menjangkau mulut. Namun, banyak juga kok akhwaat yang lebih nyaman menggunakan purdah. Ini mah tergantung kenyamanan masing-masing individu saja ya? Saya belum bisa menampilkan foto purdah saat ini, karena purdah saya ketinggalan di rumah adik.

Well, teman-teman bisa memilih mana cadar yang paling nyaman untuk makan di luar. Cadar yang paling nyaman untuk makan adalah cadar yang memiliki kain lebar, namun tidak terlalu lebar. Maksudnya lebar, jika kita menunduk, cadar tidak langsung “pluk” terjulur ke bawah. Ia masih nempel di wajah kita. Jika kita menarik salah satu sisi cadar, pipi tidak mudah tersingkap. Selain itu, area mata tidak terasa sakit akibat bergesekan dengan kain cadar, dan area pandang kita tidak terganggu. Oh ya, kainnya jangan terlalu tebal, karena kain cadar yang terlalu tebal membuat sirkulasi udara sangat buruk, sehingga kita mudah sesak napas.

Kain yang paling top untuk cadar adalah Wolfis, Sutra Cina, Sifon (Double, karena kainnya sangat tipis. Khusus untuk cadar Bandana). Jet Black adalah kain cadar bandana terburuk yang pernah saya miliki. Nah, itu adalah kriteria cadar yang oke menurut saya. Barangkali ada yang mau menambahkan?

Untuk Pemula, Coba Menu yang Tidak Heboh

Menu heboh bagi Niqabis atau Pengguna Cadar yaitu Bakso, Kepiting, Soto, Es Krim Cup, Mie Ayam, dan makanan berkuah yang mengandung Mie. Ketika pertama kali bercadar dan makan di luar, saya mencoba makan Ayam Goreng Krispi di Olive. Saya memilih ayam goreng agar mudah ketika memasukkannya ke dalam mulut menggunakan tangan langsung.

Jadi seperti mencoba meraba dan mencari feel-nya supaya suapannya pas di mulut. Nggak nyasar ke hidung, apalagi pipi. Setelah ayam goreng, saya mencoba sate, dan makanan lainnya yang tidak berkuah.

Setelah agak lama, baru deh saya belajar makan bakso. Alhasil, beneran deh heboh. Kuah bakso yang panas tumpah-tumpah ketika disendokkan ke mulut. Saya nyaris tidak pernah berhasil menyuap kuah bakso penuh ke mulut. Pasti ada acara berceceran di cadar dan baju, kuah yang bercampur sambal terhirup, dan sebagainya. Akhirnya, saya mensiasati dengan memotong kecil-kecil bakso. Lalu disendokkan menggunakan garpu. Happ, disuap ke mulut. Kuahnya? Disruput menggunakan pipet! Hahaha. Konyol sih, tapi itu dulu ya?

Seiring berjalannya waktu, tanpa sadar saya sudah bisa makan bakso dengan mudah. Tanpa acara heboh-heboh seperti dulu. Ya meski masih suka tumpah kuahnya, tapi jauh lebih mending daripada ketika awal belajar.

Jangan menyerah untuk mencoba ya teman-teman? In syaa ALLAH, waktu yang akan membuat kita bisa dan terbiasa.

Teknik Makan yang Tepat

Diperlukan teknik khusus untuk makan agar makanan tidak berleleran di cadar dan baju.

Pertama, masukkan tangan kanan lewat sisi kanan cadar, tarik sedikit kain yang terkena punggung tangan dengan tangan kiri agar ruang di dalam cadar sedikit lapang untuk menyuap makanan.

Kedua, sendok makanan pelan-pelan dan hati-hati.

Ketiga, pegang sendok dengan penuh rasa percaya diri. Agar sendok tidak bergetar.

Keempat, bila perlu, majukan badan kita agar lebih dekat dengan piring atau mangkok.

Kelima, sesekali, di sela-sela makan, lap segera makanan yang tumpah atau tercecer di cadar atau baju dengan tisu. Agar wajah kita tidak pedas atau panas terkena makanan.

Keenam, bawa cadar ganti! Saya selalu membawa dua buah cadar kemanapun saya pergi. Yang pertama, cadar bandana untuk digunakan. Yang kedua, cadar tali yang satu set dengan jilbab. Hal ini perlu dilakukan jika cadar yang dikenakan tidak dapat diselamatkan dari tumpahan kuah atau sambal yang dahsyat.

Ketujuh, terus berlatih. Tidak mesti sering makan di luar sih, tapi, ketika sedang makan di rumah, coba latihan makan dengan wajah tertutup cadar. In syaa ALLAH nanti ketemu trik-triknya.

Kok ribet banget sih kayaknya? Mbok yang wajar-wajar aja. Jangan nyusahin diri sendiri dengan cadar. Buat makan aja repot to?

Kepada siapapun yang pernah mencibir demikian, bukan hanya cadar saja yang terkesan ribet. Perkara busana wanita, memang memiliki keribetannya masing-masing.

Contoh, High Heels. High heels memiliki struktur fisik yang tidak wajar. Fungsinya sebagai alas kaki. Tapi mengapa sih harus menyusahkan diri dengan dibuat tinggi-tinggi? Resiko mengenakan high heels pun besar. Mulai dari tumit yang sakit, tidak dapat berlari cepat jika terjadi hal darurat, susah jalan dengan stabil, menyebabkan cidera, dan yang semisalnya. Jujur saja, high heels itu merepotkan bukan? Tapi mengapa banyak wanita yang mengenakannya? Jawabannya, karena itu pilihan mereka. Dan mereka nyaman dengan pilihannya.

Tank Top dan Rok Mini. Kita tahu, mengenakan tank top dan rok mini itu tidak nyaman. Jika duduk, harus mencari sesuatu untuk menutupi auratnya yang paling aurat. Banyak karyawati yang mengendarai motor menutupi rok mininya dengan selembar kain, atau jaket untuk menahan tubuh dari dingin. Artinya, mereka juga merasa kepayahan. Tapi, lagi-lagi, itu adalah pilihan, dan mereka nyaman meski harus kepayahan.

Demikian pula dengan cadar. Banyak yang mencibir bahwa mengenakan cadar itu menyulitkan diri sendiri. Ya memang di negara kita ini akan mengalami kesulitan karena intervensi budaya. Tapi, ini adalah pilihan kami. Dan kami, nyaman mengenakannya. Jadi, sama saja kan? Perkara busana bagi wanita, akan selalu ada bumbu ribetnya.

Bedanya, kami bercadar karena syariat, bukan fashion ataupun trend. Dan Islam itu mudah. Kita boleh memilih mengenakan cadar atau tidak? Tapi, kita tidak bisa memilih berhijab atau tidak? Sebab, jilbab (menutup aurat dengan sempurna) bukan pilihan. Melainkan kewajiban bagi setiap Muslimah.

Nah akhwaat, bagi yang sedang proses berhijrah mengenakan cadar, mohon untuk senantiasa meluruskan niat karena ALLAH. Kemudian, terus meminta hidayah, istiqamah, dan kemudahan menuntut ilmu syar’i pada ALLAH.

Segala keribetan ketika makan di luar, adalah hal wajar bagi wanita bercadar. Perlahan tapi pasti, In syaa ALLAH bisa makan dengan normal di tempat umum tanpa harus dag-dig-dug serr takut kuah tumpah, takut kecipratan Sambel, sendok nyasar ke hidung,dan lain sebagainya. Hanya butuh pembiasaan saja kok. Semoga ALLAH mudahkan ya? 😉

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat. Aamiin.

Barakallahu fiikunna..

© Tyas Ummu Hassfi, Yogyakarta 12 November 2017

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s