Kitab-kitab Bagi Penuntut Ilmu#2

Sebelumnya…

bffa8e997ba9f1873ec570000ae713c6

Mentelaah kitab ada dua cara:

  1. Mentelaah kitab dengan tadabbur (Memperhatikan dengan seksama) dan tafahum (Memahami sedikit demi sedikit). Dalam menempuh cara ini seseorang harus mencurahkan perhatian secara seksama dan telaten.
  2. Mentelaah kitab dengan sekedar melihat-lihat saja. Ia mengamati materi kitabb itu, bahasan-bahasannya dan cara engenal kandungannya. Itu dilakukan dengan cara membaca kitab secara cepat, dengan cara ini tidak diperoleh proses pengamatan yang mendalam dan perhatian yang seksama seperti cara pertama.

Continue reading “Kitab-kitab Bagi Penuntut Ilmu#2”

Advertisements

Kitab-kitab Bagi Penuntut Ilmu #1

10628567_970959396282473_4486454766164789570_n

Bagaimana Berinteraksi dengan Kitab?

Berinteraksi dengan kitab dapat terwujud dengan beberapa cara:

Mengenali materinya

Sehingga seseorang dapat meraih manfaat dari kitab itu, sebab ia membutuhkan spesialisasi (dalam mempelajari ilmu). Boleh jadi kitab tersebut adalah kitab sihir, sulap, atau kitab yang tidak benar. Aka merupakan suatu keharusan mengenal materi kitab sehingga teraih manfaatnya.

Mengetahui berbagai terminologi (istilah) yang digunakan

Hal ini biasanya ditemui pada bagian mukadimah (pendahuluan) kitab tersebut. Dengan mengenal istilah-istilah yang ada engkau akan menghemat banyak waktu. Para ulama menulis pada mukadimah kitab-kitab mereka misalnya, kita mengetahui penulis kitab Bulughul Maram menyatakan Mutafaqun ‘alaihi yang dimaksudkan adalah hadist riwayat Al-Bukhari dan Muslim. Beda halnya dengan penulis kitab Al-Muntaqa jika dinyatakan Mutafaqun a’laihi yang dimaksud adalah hadist riwayat Imam Ahmad, Al-Bukhari dan Muslim.
Continue reading “Kitab-kitab Bagi Penuntut Ilmu #1”

Wanita dan Dakwah

529137_521096877951208_2134807314_nDari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Tidaklah kami, para sahabat Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam mendapati masalah dalam suatu hadits lalu kami bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha melainkan kami mendapatkan dari sisi beliau ilmu tentang hal itu.”

Dakwah sering diartikan identik dengan keluar rumah, bahkan keluar daerah atau safar. Berdiri di atas podium atau mimbar, berceramah di muka umum. Belum dinamakan dakwah apabila seseorang tinggal di dalam rumah dan jarang keluar, khususnya bagi kaum hawa. Sehingga ada anggapan bahwa wanita yang tidak keluar rumah dan tidak berdiri di atas podium atau berceramah di hadapan umum tidak akan bisa berkiprah dalam lapangan dakwah. Justru isi, substansi, dan tujuan dakwah itu sendiri sering dilupakan. Padahal itulah yang terpenting.

Sudah menjadi kodrat Allah ta’ala ketika menciptakan wanita berbeda dengan pria, baik dari sisi fisik, sifat, maupun karakter mereka. Demikianlah fitrah yang ada dalam diri kaum hawa, meskipun mereka memiliki kedudukan yang sama dengan kaum Adam, yaitu sebagai hamba Allah ta’ala dan kewajiban sebagai manusia terhadap Allah. Continue reading “Wanita dan Dakwah”