Menikah Beda Suku

menikah-beda-suku
Gambar saya ambil dari pinterest, lalu saya edit.

Menikah beda suku? Siapa yang menyangka pada akhirnya saya akan dinikahi oleh pemuda dari pulau seberang. Sebelum menikah, nggak pernah tuh kepikiran pengen punya Suami orang luar Jawa. Alasannya, Ibu sudah mewanti-wanti, mbok nikahnya sama orang Jawa aja, biar kalo mau ketemu besan itu gampang. Karena, selama punya besan (Mertua Mas dan Mbak) jarang banget ketemu. Secara, dua Mbak saya menikah dengan orang Nusa Tenggara Timur, dan Mas saya menikah dengan Orang Jakarta. Praktis, bisa ketemu besan adalah kesempatan langka bagi Orang Tua saya. Malah, sama sekali belum pernah jumpa tuh dengan Orang Tuanya Papanya Nadya. Hanya berkomunikasi lewat telepon aja. Continue reading “Menikah Beda Suku”

Advertisements

Mengapa Harus Bercerai?

divorce (2)

Lama tidak berjumpa dengan teman SD dan SMP saya. Seorang gadis berketurunan arab, berambut tebal, beralis tebal, dan berhidung mancung. Mencari laman facebooknya, kini seperti mencari jarum dalam jerami. Sulit.

Akhirnya, saya mencari Akun Suaminya, barangkali, terselip namanya di sana. Boleh jadi, nama akunnya telah berganti.

Ketemu. Tapi? Deggg..! Kok foto Suaminya bersama wanita lain, bukan teman saya? Saya perhatikan lamat-lamat, iya, kok bukan? Dengan siapa Suaminya ini?
Continue reading “Mengapa Harus Bercerai?”

Sabun Cair

sabun
Sumber Gambar : Google Images

Apa yang terbetik di kepala ketika mendengar kata “Sabun Cair”? Kalau saya, seketika teringat pada sabun cair pencuci piring. Mayoritas orang di sekitar saya, jika menyebut sabun cair pencuci piring adalah “Sunlight”. Padahal, banyak loh merk-merk sabun pencuci piring cair lainnya. Mungkin, karena Sunlight adalah anak sulung sabun pencuci piring di Indonesia, membuat lidah orang terbiasa menyebut semua merk adalah sunlight meskipun yang dibeli adalah Mama Lime. Continue reading “Sabun Cair”

Dijajah Smartphone

smmmm
Sumber Gambar

Menjadi Ibu Rumah Tangga adalah sebuah pilihan. Pilihan tepat bagi seorang muslimah untuk mentaati perintah ALLAH agar tetap berada di dalam rumah Suaminya. Meski beribu orang di luar sana menyayangkan, “Mengapa kuliah tinggi-tinggi pada akhirnya engkau menjadi pengangguran di rumah?”. Seolah, menjadi Ibu Rumah Tangga merupakan pilihan yang salah. Padahal, ALLAH telah memuliakan wanita yang memilih profesi Ibu Rumah Tangga dan tetap tinggal di dalam rumahnya.

“Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah ALLAH dan Rasul-Nya. Sesungguhnya ALLAH bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya..” (Qs. Al-Ahzab : 33) Continue reading “Dijajah Smartphone”

Capek Istri atau Suami?

tumblr_m49mzdwGtX1qbpydeo1_500.jpg
Sumber : Tumblr

Iya deh, capek Suami..

Aku di rumah jam kerjanya bebas. Arep turu sedina med, arep onlen karo njangan, arep ngepel karo ngetung rega brambang, ora papa, sing penting Den Baguse kondur ngantor umah wis cling, Ndoro Ayune wis ayu, gari nyuguhi wedang karo wadul, rega lombok mundak maning.. Hiahaha..

Memang, jika Istri selalu mendemontrasikan kejenuhannya di rumah, senepnya “ketemu tembok maning, ketemu tembok maning”, merasa paling capek kerja rodi seharian di rumah, tentu tuntutannya tak akan ada habisnya pada Suami. Me time lah? Piknik minimal 10 kali lah? Inilah, itulah..

Meski aku juga suka ngomel-ngomel sama Den Baguse, nek bali ngantor, rumah yang udah cling hasil meres keringet seharian, eh.. Naroh jaket sembarangan padahal sing jengene kapstok cemathel neng mburi lawang. Dan kebiasaan-kebiasaan umum Bapak-bapak lah sing kadang bikin Istri bingung arep kesuh apa sabar? Soale ya itu.. Kalo rumah rapi dan tenang, mesti doi lagi sakit atau lagi sadar nek bojone pancen cerewed banget. Jadi mending etok-etok turu daripada dicerewedi sejam punjul Wkwkwk. Continue reading “Capek Istri atau Suami?”

Dosa Ibu-ibu Ketika Menawar

nawar

Hemat, kata sebagian Ibu-ibu. Sehingga tidak jarang, beberapa diantara mereka menawar harga ketika membeli sesuatu di pasar. Mirisnya, harga yang ditawar jauh lebih rendah dibanding harga yang dipatok penjual. Mereka berpikir, dengan menekan harga serendah-rendahnya maka mereka sudah menghemat keuangan keluarga setinggi-tingginya. Ya memang, dalam transaksi jual beli adalah lumrah jika terjadi tawar menawar.

Namun Bu, tawar menawar juga ada etikanya lho. Jika harganya masih wajar, jangan menekan harga semiring-miringnya. Jika penjual menawarkan harga yang selangit, maka kita boleh menawar maksimal setengah harganya. Jika tetap tak boleh, maka tawarlah 25% dari harga yang dipatok, atau tinggalkan dan cari Pedagang lain yang lebih murah. Namun, sebelum menawar, sangat perlu bagi kita untuk mensurvey harga di pasaran. Apakah harga pasarannya memang segitu, atau tidak? Continue reading “Dosa Ibu-ibu Ketika Menawar”

Rumah Tanpa Wanita

11218844_521496228026704_4072270529398502156_n

Ketika seorang Ayah terpaksa harus meninggalkan rumah dan merantau beberapa waktu lamanya untuk melanjutkan kuliah di Negara Lain atau bekerja di luar kota, mulai dari ketika ia pergi hingga kembali, keadaan rumah tetap seperti semula, rapi dan nyaman.

Ketika seorang Ayah atau Suami jatuh sakit hingga berhari-hari lamanya, kondisi rumah masih terawat dengan baik. Sarapan hingga makan malam terhidang di meja makan. Cucian yang menumpuk tidak sampai menggunung hingga kehabisan baju, dan anak-anak teratasi dengan baik.

Namun bagaimana jika keadaan dibalik? Seorang Istri yang biasanya menghandle aktifitas domestik rumah tangga, mulai dari sumur sampai dapur tiba-tiba harus pergi? siapa yang bisa menjamin rumah tetap rapi, cucian tidak menggunung, dapur tetap bersih, piring-piring kotor tidak berserakan dimana-mana, celana, jaket, kaos kaki tidak berhamburan di setiap sudut rumah? Anak-anak tidak rewel karena lapar? Atau minimalnya, bisa makan tanpa harus repot-repot mencuci piring, menanak nasi, memasak beragam sayur mayur yang sehat dan bersahabat dengan kantong? Continue reading “Rumah Tanpa Wanita”