Parenting : Ungkapan Jujur Seorang Anak

dikaTahun 2005 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah.

Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah. Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot.

Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika: “Apa yang kamu inginkan ?” Dika hanya menggeleng.

“Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?” tanya saya. “Biasa-biasa saja” jawab Dika singkat.

Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.

Continue reading “Parenting : Ungkapan Jujur Seorang Anak”

Malaikat Tak Bersayap

yesi.jpgSudah beberapa hari ini tamu tak diundang yang kehadirannya begitu mengganggu kestabilan emosi dan fisik datang menyapa. Untunglah, kali ini dia tidak membawa pasukan Bintang Kejora yang bentuknya mengganggu pemandangan di wajah, alias Jerawat. Legaa. Tapi ya itu, kehadirannya kali ini membuat perasaanku jauh lebih sensitif, nangis nggak jelas, ngomel-ngomel mulu, dan pengen makan terusss. Pre-Menstruation Syndrome (PMS).

Mungkin banyak dirasakan oleh sebagian besar wanita, ketika menghadapi siklus bulanannya ini badan berasa lebih pegel dari biasanya, perut kram, lemes, bahkan ada yang pusing dan sampai pingsan. Alhamdulillah, sejauh ini aku belum pernah pingsan karena PMS, hanya kalo perut sudah nyeri, langsung minum Asam Mefenamat atau Paracetamol untuk meredakan rasa nyeri yang awalnya di sekitar perut saja, namun entah mengapa kemudian menjalar ke seluruh tubuh. Berhubung ada riwayat sakit pada Lambung, jadi dokter menyarankan mencukupi dengan Paracetamol saja. Padahal, Asam Mefenamat lebih cepat reaksinya untuk meredakan nyeri. Menurutku sih. Continue reading “Malaikat Tak Bersayap”

Jangan Ditumpahkan, Sayang!

Makan BerantakanBetapa terkejutnya Ummu Zahra, ketika mencium aroma minyak kayu putih memenuhi ruang tamu. Setelah diamati, ternyata minyak kayu putih sudah berceceran di lantai. Sementara Zahra, putri mungilnya yang baru saja ditinggal shalat dzuhur, tampak tersenyum manis di pojok ruangan sambil membawa botol kosong. “Jangan ditumpahkan dong Sayang…”, meski terlambat, ia ucapkan juga kalimat itu untuk menasehati putrinya.

Jika anda memiliki anak usia 1-3 tahun, mungkin anda pun pernah dibuat kesal karena si kecil suka menumpahkan sesuatu, seperti minyak kayu putih, babby oil, bedak dan sebagainya. Suka menumpahkan segala sesuatu adalah “hobi” bagi bocah berusia tiga tahun ke bawah (batita). Orang tua tak perlu risau bila si kecil berperilaku demikian, karena itu merupakan bagian dari proses pertumbuhan. Meskipun demikian, si kecil tetap perlu diarahkan. Continue reading “Jangan Ditumpahkan, Sayang!”

Mendidik Anak Seperti Mengukir di Atas Batu

SANYO DIGITAL CAMERAMendidik anak-anak itu, seperti mengukir di Batu. Akan melekat terus hingga Dewasa. Menjadi Guru untuk Sekolah Dasar, itu harus extra hati-hati, baik ketika menyampaikan materi, maupun bertingkah laku. Sebab, nalar anak-anak masih polos, dan kecenderungannya masih meniru tindak tanduk Orang Dewasa. Perhatikan saja, perilaku anak-anak yang terlahir dari Keluarga yang Religius pasti berbeda dengan yang dibesarkan dalam background lingkungan Keluarga Hedonis.

Ya, Lembaga Pendidikan Pertama (Keluarga) yang Religius mampu mencetak anak-anak yang taat, menghormati sesama, saling berkasih sayang, dan menjunjung tinggi adab dan perilaku dalam lingkunan sosialnya. Sedangkan, anak-anak yang terlahir dari Keluarga Hedonis, sebagian suka pamer (walau jiwa polosnya mungkin tidak bermaksud demikian),  egois, kompetitif, dan doyan ngambek. Korelasi antara nilai agama dengan keberhasilan pendidikan terletak pada sikap dan minat terhadap ilmu yang didapat di sekolah. Continue reading “Mendidik Anak Seperti Mengukir di Atas Batu”

Memahami Anak Hiperaktif

hihihi“Ustadzaaah… kemarin waktu pelajaran Ustadzah A, si B melompati tumpukkan meja. Trus, kepalanya kebentur lantai. Padahal udah dibilangin, enggak boleh lompat-lompat dan lari-lari…” Laporan dari siswa-siswi kelas Empat membuat saya merinding, membayangkan seorang anak usia sepuluh tahun melompati meja yang tinggi, dengan rok pajang lalu akhirnya dia tersungkur dan membentur lantai, pasti rasanya sangat sakit sekali ya?

Awalnya saya tidak begitu memperhatikan, namun lambat laun saya mulai menyadari ada yang “berbeda” dari Siswi tersebut. Dia kerap membuat ulah di kelas. Beberapa laporan dari Guru-guru yang lain mengetuk naluri saya sebagai seorang Guru dan Wanita. Cerita yang mampir di telinga saya, anak tersebut jika proses kegiatan belajar mengajar berlangsung seringnya ngobrol sendiri dengan teman sebangkunya, jika bibirnya diam, badannya selalu bergerak atau sebaliknya, jika badannya aktif bergerak maka bibirnya diam, tapi seringnya sih aktif bergerak dan berisik.. 😀 , tidak bisa anteng (tenang). Ketika saya sedang menulis di papan tulis, anak tersebut tengah berjalan-jalan, lompat-lompat, pokoknya bergerak terus. Dia cerewet dan bawel sekali, suka menyela ketika saya sedang menerangkan meskipun ujung-ujungnya dia “sok tau” hihihi. Uniknya, dia bisa demikian percaya diri dengan pelafalan kalimat yang terbalik-balik, misalnya “Rahasia” menjadi “Harasia”, “Istirahat” menjadi “Istiharat”, dll. Awalnya sih saya pikir dia sengaja untuk mencari perhatian, tapi kok semakin lama malah semakin kacau kosakatanya, terlebih ketika dia kecapekan. Continue reading “Memahami Anak Hiperaktif”